Dinding Anti Banjir Grein di Austria (foto: screenshot Youtube)
Dinding Anti Banjir Grein di Austria (foto: screenshot Youtube)

MALANGTIMES - Banjir merupakan salah satu bencana yang dampaknya sangat besar. Selain karena disebabkan oleh alam, banjir kerap disebabkan oleh ulah manusia. Nah untuk mengatasi hal itu, manusia membuat berbagai teknologi anti banjir. Berikut 10 teknologi anti banjir yang dibuat berbagai negara.

1. Experimental Electromechanical Module atau MOSE
Venice, kota air yang cantik di Italia seringkali kebanjiran sejak berabad lalu. Banjir itu disebabkan oleh air pasang dari laut Adriatik. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah memasang teknologi canggih anti banjir bernama MOSE atau Musa Sang Pembelah Laut Merah.

Baca Juga : Jika Covid-19 Sampai Menyebar di Korea Utara, Kim Jong Un Beri Ancaman Ini pada Pejabatnya

MOSE diklaim dapat melindungi Venesia dan kawasan Laguna dari banjir air pasang. Pada empat pintu masuk dipasang gerbang yang tertanam di dasar laut. Bila ketinggian air sudah melebihi maka dari ruang kontrol akan mengaktifkan gerbang ini sehingga menghalangi air masuk.

2. Terowongan Smart
Proyek pengendali banjir ini dimiliki oleh Kuala Lumpur, Malaysia. Terowongan Smart dibangun untuk mengatasi banjir parah di kota berpenduduk 7 juta jiwa ini. Awalnya terowongan ini hanya untuk mengatasi banjir, namun kemudian berkembang ide dan dijadikan jalan bawah tanah bila tidak sedang banjir sekaligus bisa mengurangi macet.

Stormwater Management and Road Tunnel alias SMART dibangun dengan panjang 9,7 KM atau 6 mil. Terowongan ini merupakan terowongan air terpanjang di Asia Tenggara dan terpanjang kedua di Asia. Terowongan ini dapat menampung 3 juta meter kubik air dan mengalirkannya untuk mencegah banjir di pusat kota. Bila banjir telah usai terowongan langsung dibersihkan dan bisa dilewati kembali oleh kendaraan. Jadi sekaligus menjadi jalan tol bawah tanah.

3. Delta Works
Karena ketinggian daratannya lebih rendah dari permukaan air laut, Belanda sangat rentan dihantam banjir. Untuk itu, pemerintah Belanda membangun proyek terbesar dalam pengendalian banjir yang disebut Delta Works. Delta Works merupakan rangkaian besar struktur perlindungan banjir yang dibangun setelah terjadinya banjir laut utara pada tahun 1953.

Proyek ini terdiri dari yang terdiri atas 13 bagian, bersama-sama membentuk sistem perlindungan banjir terbesar di dunia dan melindungi daerah di dalam dan sekitarnya dari banjir laut utara. Proyek yang selesai tahun 1997 ini mengurangi risiko banjir menjadi 1 kali dalam 4000 tahun. Tak heran kalau Delta Works diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia modern.

4. Tembok Raksasa Louisiana
Great Wall of Louisiana atau Dinding Raksasa Louisiana adalah penghalang gelombang badai di New Orleans, Amerika Serikat. Tembok ini disebut raksasa karena ukuran dan besarnya sungguh besar. Panjangnya 1,8 mil dengan ketinggian 26 kaki. Tembok ini dibangun setelah badai Katrina yang menghantam New Orleans 2005 lalu.

Tembok yang dibangun di bawah proyek sistem pengurangan risiko bencana badai dan angin topan ini adalah bangunan sipil terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Dilengkapi dengan pelabuhan, terowongan, dan pompa terbesar di dunia berkekuatan 5.000 tenaga kuda.

5. Dinding Anti Banjir Grein
Gara-gara sering kebanjiran, pemerintah Kota Grein, Austria memasang dinding anti banjir. Dinding tersebut sifatnya mobile jadi bisa dilepas setelah banjir usai. Banjir memang sering melanda kota tersebut akibat luapan Sungai Danube. Pemerintah menggandeng perusahaan asal Inggris untuk membuat panel-panel dinding. Ketinggian dinding tersebut mencapai 3,6 meter.

6. Boxwall
Boxwall buatan NOAQ ini dirancang sebagai penghalang banjir sementara. Alat ini cocok diterapkan sebagai respon darurat bila banjir melanda kota atau kompleks perumahan. Boxwall tidak memerlukan instalasi khusus ke permukaan tanah. Tinggal pasang dan rangkai sesuai keperluan.

Pembatas banjir ini sangat ringan, hanya 3,4 kg dengan ketinggian 0,5 meter air. Alat ini terdiri dari panel-panel terpisah yang masing-masingnya hanya seberat 5,5 kg. Alat ini dapat dipasang tanpa batas maksimum dengan cukup fleksibel. Boxwall dapat tetap berdiri tanpa diikat karena cara kerjanya dengan memanfaatkan berat air banjir itu sendiri untuk menekan bagian penampang bawahnya.

7. Tubewall
Tubewall merupakan inovasi buatan pabrikan pengendali banjir asal Swedia NOAQ. Teknologi ini menggunakan tabung yang dapat menggelembung dan saling tersambung. Tabung ini terbuat dari kain anti bocor.

Baca Juga : Beredar Proposal Skripsi "Hak Istimewa Luhut Binsar Pandjaitan", Ini Klarifikasi Unsoed

Cara pasangnya emang agak repot karena harus memompa terlebih dahulu. Namun, alat ini mudah pemasangannya. Untuk memasang instalasi Tubewall sebanyak 60 meter hanya butuh waktu 1 jam. Hanya perlu tenaga 2 orang untuk memasangnya. Jangan khawatir tabung ini akan bergeser karena berat air banjir akan menekannya ke bawah. Kalau banjir sudah selesai Tubewall tinggal dikempeskan dan dilipat kembali.

8. Floodblock
Floodblock adalah sebuah teknologi penghalang banjir yang kuat dan fleksibel. Cara kerjanya seperti lego atau mainan bongkar pasang. Setiap block dapat disambung dengan blok lainnya tanpa batasan panjang ke segala arah dengan mudah. Air banjir akan dialirkan ke dalam block-block sehingga menjaganya tetap berada dalam posisinya. Pemasangan block-block ini bisa dilakukan oleh satu orang saja.

9. Tangki Bawah Tanah
Ini adalah proyek paling ambisius memerangi banjir di Tokyo. Untuk melindungi kota dari banjir yang kerap melanda, pemerintah membangun tangki bawah tanah. Tangki itu besar sekali sampai-sampai bisa menyimpan patung Liberty.

Tangki Bawah Tanah ini terhubung dengan terowongan-terowongan yang akan mengalirkan air dari permukaan tanah dan ditampung ke bawah tanah. Air yang tertampung akan dipompa dan dialirkan ke sungai Edo. Karena besarnya proyek ini, biaya yang harus dikeluarkan mencapai 2 miliar dolar.

10. Barrier Sungai Thames
Penghalang banjir di sungai Thames di London, Inggris ini adalah penghalang banjir terbesar kedua di dunia. Penghalang banjir ini dibangun di hilir pusat kota London dan beroperasi sejak 1982. Barrier ini dibangun untuk mencegah banjir dari air laut yang pasang yang kadang meluap ke wilayah daratan London dan sekitarnya.

Barrier bekerja dengan semi otomatis. Saat air pasang datang gerbangnya tertutup dan menghalangi air. Begitu selesai gerbang air pun dibuka kembali. Konstruksi ini dibangun karena adanya banjir Laut Utara tahun 1953 yang mempengaruhi bagian-bagian dari muara sungai Thames.