Sindiran kuno tapi tetap mutakhir, saya dengar dari pengajian haji. Seperti biasa, calon musafir ibadah haji, di kampung saya menggelar tasyakuran. Undangannya hampir lima ratus orang. Tenda tinggi berselubung terpal dipasang. Tikar dan karpet digelar. Sound System membunyikan lagu-lagu Arab.
Budaya selametan ala kampung yang meriah untuk mendoakan agar dalam perjalanan menuju kota Makkah dan Madinah sehat wal afiat. Hingga balik ke tanah air dalam keadaan selamat jua. Setidaknya begitulah kelaziman budaya, gelar doa keberangkatan naik haji di kampung saya.
Baca Juga : Tetap Produktif Ketika Di Rumah
Menjadi istimewa, karena tausiyah kyai pemberi ceramah di acara itu penuh ger-geran. Para undangan semula segan, tapi berubah cair penuh tawa. Ceramahnya blak-blakan puool. Kyai Azis, begitu beliau disapa, mengingatkan, setiap jamaah haji yang pergi ke tanah suci harus menata niatnya. Ibadah haji bukan untuk dipamerkan. Meski pun acara meminta doa restu berjamaah ini sudah kategori pamer. Karena bisa menaburkan penyakit riya’.
Dalam penjelasannya pula, kyai asal Bululawang ini memberi wejangan. “Haji bukan hanya konsumsi orang kaya. Banyak yang kaya tapi malas berhaji. Tak terhitung si miskin juga ditakdirkan memeluk ka’bah di Masjidil Haram. Maka undanglah semua tetangga dan kerabat. Tak peduli ia kaya atau melarat, doanya memberi jalan lempang menjadi tamu Allah SWT”.
Satu hal lagi, Kyai Azis memberi pesan. “Siapa pun yang pergi haji jangan berharap gelar”. Apa yang disampaikan beliau sangat benar. Gelar panggilan haji hanya populer di ranah Melayu. Orang Indonesia dan Malaysia terbiasa menambah huruf H di depan nama, mengisyaratkan singkatan Haji atau Hajjah bagi yang tunai ibadah rukun Islam kelima.
Padahal sejarah gelar haji di tanah nusantara menilik sejarahnya, pencantuman dari penjajah Belanda. Kolonial Belanda resah dengan tokoh-tokoh semacam Diponegoro, Imam Bonjol hingga Hasyim Asy’ari dan Muhammad Darwis. Para tokoh panutan tersebut, pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sepulang berhaji, kharisma mereka di depan masyarakat naik. Asumsi umat muslim kala itu, siapa pun datang dari Makkah, pasti bertambah alim. Sarat ilmu dan kesaktian. Apalagi jika membawa pulang kiswah, potongan kain pembungkus Ka’bah. Seseorang akan disegani dan dihormati. Untuk meredam efek itu pemerintah Belanda memberi gelar haji bagi tokoh masyarakat yang balik dari tanah suci. Stempel itu untuk memudahkan pencarian, bagi siapa pun yang melawan penjajah. Uniknya, gelar haji jadi prestise hingga kini.
Baca Juga : Dampak Penundaan Tahapan Pilkada 2020
Makanya kemudian, Kyai Azis menyindir para jamaah haji kita. “Jangan-jangan nanti sampeyan tidak menoleh, ketika tak ada yang memanggil Pak Haji. Cuek aja, itu cuma panggilan. Yang penting hajinya mabrur”. Kyai Azis meneruskan, “Tetaplah menoleh, meski tak disapa abah. Lha wong abah itu artinya bapak dalam bahasa Arab. Mosok hidungnya pesek dipanggil abah. Nggak pantes bro “. Ujarnya mengundang tawa hadirin. (*)
