JATIMTIMES - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti melarang anak-anak memainkan gim Roblox. Menurut dia, gim ini mengandung unsur kekerasan yang berpotensi ditiru anak-anak usia sekolah dasar.
Lalu, apa sebenarnya Roblox, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa game ini menjadi sorotan?
Sejarah dan Cara Kerja Roblox
Baca Juga : Disperindag Kota Blitar Perketat Pengawasan: Beras Oplosan Ditarik, Pasar Kini Lebih Aman
Roblox pertama kdikembangkan pada 2004 oleh David Baszucki dan almarhum Erik Cassel. Platform ini kemudian resmi dirilis ke publik pada 2006 oleh Roblox Corporation.
Berbeda dari game biasa, Roblox adalah platform permainan daring sekaligus sistem pembuatan gim yang memungkinkan pengguna memprogram permainan sendiri dan memainkan gim yang dibuat pengguna lain.
Semua gim di platform ini dibuat dengan bahasa pemrograman Lua.
Genre permainan di Roblox sangat beragam, mulai dari balap, simulasi, permainan peran (role-playing), hingga kursus rintangan (obstacle course). Kreativitas pengguna menjadi kunci, sehingga jutaan gim unik lahir setiap tahunnya di Roblox.
Meski bisa dimainkan secara gratis, Roblox menawarkan pembelian dalam game menggunakan mata uang virtual bernama Robux. Robux dapat digunakan untuk membeli berbagai item virtual, seperti kostum, aksesori, pengalaman (games), dan peningkatan tertentu di dalam game.
Salah satu cara mendapatkan Robux adalah dengan membeli gift card. Berdasarkan informasi dari laman resmi Roblox (roblox.com/upgrades/robux), gift card Roblox senilai Rp500.000 setara dengan sekitar 2.500 Robux jika ditukarkan melalui situs resmi.
Jumlah Robux yang diterima bisa berbeda, tergantung metode penukaran dan apakah pengguna memiliki langganan Roblox Premium. Dengan langganan Premium, pemain akan mendapat bonus tambahan hingga 35% Robux dari penukaran gift card.
Mengapa Roblox Dilarang untuk Anak SD?
Baca Juga : MIN 2 Kota Malang Wujudkan Semangat BIMASAKTI Lewat Kolaborasi Cetak E-Ijazah Bersama KKMI Sukun
Abdul Mu'ti menjelaskan, larangan ini didasari kekhawatiran bahwa Roblox menampilkan adegan kekerasan yang tidak sesuai untuk anak-anak.
"Dengan tingkat kemampuan mereka yang masih belum cukup, kadang-kadang mereka meniru apa yang mereka lihat," kata Mu'ti, Jumat (8/8/2025).
Ia mencontohkan, aksi seperti “membanting” di gim mungkin terlihat wajar di dunia virtual, tetapi jika dilakukan di dunia nyata bisa membahayakan. Kekerasan semacam ini dikhawatirkan memicu perilaku agresif anak dalam kehidupan sehari-hari.
Selain kekerasan, Mu'ti juga menyoroti ancaman lain di dunia digital, termasuk penyusupan situs judi online ke dalam game yang kerap dimainkan anak-anak.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya peran orang tua dan guru dalam mengawasi aktivitas bermain anak di dunia maya, agar tidak terpapar konten berbahaya.
