JATIMTIMES - Di antara kisah paling menyentuh dalam Al-Qur'an adalah momen ketika Nabi Ya'qub AS mencium aroma baju putranya, Nabi Yusuf AS, dari jarak ratusan kilometer. Peristiwa luar biasa ini bukan sekadar cerita penghibur, melainkan mukjizat nyata yang memperlihatkan betapa dahsyatnya ikatan cinta dan kekuasaan Allah SWT.
Kisah ini tercantum dalam surah Yusuf ayat 94-98. Ketika kafilah pembawa kabar dari Mesir sedang dalam perjalanan menuju Palestina, Nabi Ya’qub tiba-tiba berkata kepada keluarganya:
Baca Juga : Anak yang Diasingkan, Raja yang Bangkit: Kisah Lahirnya Raden Patah
“Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, seandainya kamu tidak menuduhku lemah akal.” (QS Yusuf: 94)
Ucapan tersebut sontak membuat keluarganya terkejut, bahkan menanggapinya dengan sinis, menganggap bahwa sang ayah masih terjebak dalam delusi kehilangan. “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” (QS Yusuf: 95)
Namun, tak ada yang mampu mengingkari kebenaran. Tak lama setelah itu, datanglah seorang pembawa kabar gembira. Ia menyerahkan baju Yusuf kepada Ya’qub dan mengusapkannya ke wajah sang nabi. Seketika, penglihatannya kembali pulih—membenarkan bahwa keyakinannya selama ini bukanlah fatamorgana.
Menurut riwayat yang dikutip Imam Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiyaa’, peristiwa ini terjadi dalam kondisi sangat istimewa. Abdullah bin Abi Hudzail menyampaikan dari Ibnu Abbas bahwa ketika kafilah keluar dari Mesir, angin berembus membawa aroma baju Yusuf hingga sampai ke Palestina, jarak yang sangat jauh.
Bahkan, dalam penjelasan Hasan al-Bashri dan Ibnu Juraij al-Makki disebutkan bahwa jaraknya mencapai 80 farsakh, atau sekitar 400 kilometer. Meski secara logika aroma tidak mungkin menjangkau sejauh itu, mukjizat dari Allah membuatnya nyata.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Ya’qub mampu mencium bau baju Yusuf dari jarak delapan hari perjalanan. Aroma itu bukan sembarang wangi ia membawa cinta, rindu, dan kepastian akan janji Tuhan.
Kisah ini bukan hanya menyentuh hati, tetapi juga menyuguhkan perenungan mendalam: bagaimana aroma dari sepotong kain bisa menjadi alat komunikasi batin antara ayah dan anak. Ini adalah bentuk lain dari wahyu dan mukjizat bukan melalui kata, tetapi melalui bau yang tak kasatmata namun terasa begitu nyata.
Setelah penglihatan Ya’qub kembali, ia berkata: “Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS Yusuf: 96)
Baca Juga : Pemkot Surabaya Target Investasi Tahun 2025 Sebesar Rp42 Triliun
Tak lama, anak-anaknya pun memohon ampun atas kesalahan masa lalu mereka. “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” (QS Yusuf: 97)
Ya’qub menjawab dengan kasih sayang yang lapang:
“Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf: 98)
Perjalanan perpisahan antara Yusuf dan Ya’qub berlangsung selama 80 tahun, menurut beberapa riwayat. Namun cinta dan doa tak pernah surut. Dan ketika saatnya tiba, aroma dari sehelai baju menjadi pertanda bahwa penantian itu tak sia-sia.
Kisah ini menunjukkan bahwa cinta yang tulus dan doa yang tak pernah putus mampu menjangkau hal-hal di luar jangkauan manusia. Aroma baju Yusuf menjadi simbol harapan, pengingat bahwa mukjizat datang pada saat yang tak terduga.
Bukan hanya membuktikan kekuatan batin seorang ayah, tetapi juga menjadi bukti bahwa kasih Tuhan hadir dalam bentuk paling lembut, sehelai baju yang membawa kembali harapan, penglihatan, dan keluarga yang terpisah puluhan tahun lamanya.
