JATIMTIMES - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Satgas Pangan kembali mengungkap temuan mengejutkan terkait beras yang beredar di pasaran. Dari hasil pengawasan terbaru, sebanyak 212 merek beras diketahui tidak memenuhi standar yang seharusnya. Dari jumlah tersebut, 26 merek disebut diduga melakukan praktik pengoplosan.
Modus yang dilakukan para pelaku antara lain menyulap beras biasa menjadi beras premium atau medium, serta mencantumkan informasi berat yang tidak sesuai isi sebenarnya.
Baca Juga : Cek PIP 2025 Pakai Link Baru! Ini Cara Akses pip.kemendikdasmen.go.id dan Jadwal Pencairannya
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan, mayoritas produk tidak mencantumkan informasi sesuai fakta.
“Bahkan ada kemasan yang bertuliskan 5 kilogram, padahal isinya hanya 4,5 kilogram. Kalau emas ditulis 24 karat padahal hanya 18 karat, itu penipuan, sangat merugikan masyarakat,” ujar Amran, Kamis (17/7/2025).
Menurut Amran, selisih harga yang muncul akibat label palsu ini berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram. Jika dihitung dengan volume konsumsi nasional, maka kerugian yang timbul bisa mencapai Rp99,35 triliun dalam setahun.
“Ini bukan persoalan sepele. Selain merugikan konsumen, praktik ini juga memanipulasi pasar dan mencederai kepercayaan publik terhadap sistem distribusi pangan kita,” lanjutnya.
Sebelumnya, Satgas Pangan Mabes Polri telah melakukan investigasi terhadap sejumlah produsen beras yang diduga terlibat dalam manipulasi mutu dan kuantitas. Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berjalan.
Pada Kamis (10/7/2025), empat produsen utama telah dipanggil dan diperiksa, yaitu:
• Wilmar Group
• PT Food Station Tjipinang Jaya
• PT Belitang Panen Raya
• PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group)
Setelah dilakukan pengecekan di lapangan, satgas bersama tim Kementan menemukan berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh sejumlah merek dari perusahaan-perusahaan tersebut.
Daftar Merek Beras yang Diduga Oplosan
Berikut adalah sejumlah merek beras yang disebut oleh menteri pertanian dalam keterangan pers, lengkap dengan wilayah sampel yang diperiksa:
Wilmar Group
(Sampel dari Aceh, Lampung, Sulawesi Selatan, Jabodetabek, Yogyakarta)
• Sania
• Sovia
• Fortune
• Siip
PT Food Station Tjipinang Jaya
(Sampel dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Aceh)
• Alfamidi Setra Pulen
• Beras Premium Setra Ramos
• Beras Pulen Wangi
• Food Station
• Ramos Premium
• Setra Pulen
• Setra Ramos
PT Belitang Panen Raya
(Sampel dari Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Aceh, Jabodetabek)
• Raja Platinum
• Raja Ultima
Baca Juga : Tidak Ada Laporan, Bulog Jember Belum Temukan Beras Oplosan di Pasaran
PT Unifood Candi Indonesia
(Sampel dari Jabodetabek, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat)
• Larisst
• Leezaat
PT Buyung Poetra Sembada Tbk
(Sampel dari Jawa Tengah dan Lampung)
• Topi Koki
PT Bintang Terang Lestari Abadi
(Sampel dari Sumatera Utara dan Aceh)
• Elephas Maximus
• Slyp Hummer
PT Sentosa Utama Lestari (Japfa Group)
(Sampel dari Yogyakarta dan Jabodetabek)
• Ayana
PT Subur Jaya Indotama
(Sampel dari Lampung)
• Dua Koki
• Beras Subur Jaya
CV Bumi Jaya Sejati
(Sampel dari Lampung)
• Raja Udang
• Kakak Adik
PT Jaya Utama Santikah
(Sampel dari Jabodetabek)
• Pandan Wangi BMW Citra
• Kepala Pandan Wangi
• Medium Pandan Wangi
Itulah merek-merek beras diduga oplosan dari beras biasa ke premium. Masyarakat diimbau untuk lebih jeli dalam memilih produk beras, termasuk memeriksa label kemasan dan memastikan berat sesuai dengan yang tertera. Semoga informasi ini membantu.
