Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Suara dari Sumur: Menggali Fase Terlupakan dalam Perjalanan Hidup Nabi Yusuf AS

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

07 - Jul - 2025, 07:51

Placeholder
Ilustrasi dakwah Nabi Yusuf (pixabay)

JATIMTIMES – Ketika mendengar nama Nabi Yusuf AS, sebagian besar umat Islam akan langsung teringat pada kisah ketampanan beliau, kepercayaan yang diberikan oleh Raja Mesir, hingga posisinya sebagai pengatur logistik negeri. Namun di balik semua itu, ada fase kehidupan yang kerap terlupakan, yakni masa-masa kelam Nabi Yusuf saat terbuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, dan mendekam dalam penjara. Justru dari titik-titik terendah inilah suara keimanan, kesabaran, dan keteguhan muncul dengan kuat.

Diolah dari beberapa sumber, yakni : Al-Qur’an Surah Yusuf (QS. 12), Tafsir Ibnu Katsir – Tafsir Surah Yusuf ayat 7–100, “Sirah Nabiyin” oleh Syaikh Abul Hasan Ali Nadwi, "Stories of the Prophets” karya Ibnu Katsir dan Ensiklopedia Islam (Departemen Agama RI, edisi cetak), Nabi Yusuf adalah putra Nabi Ya'qub AS. 

Baca Juga : DLH Kota Malang Target Tambah Kampung Iklim di Tahun Ini

Sejak kecil, ia menunjukkan tanda-tanda kenabian, termasuk mimpi yang kelak menjadi pertanda besar dalam hidupnya. Namun kecintaan sang ayah padanya menimbulkan rasa iri di hati saudara-saudaranya. Mereka lalu merancang siasat untuk menyingkirkannya, hingga akhirnya Yusuf kecil dilempar ke dalam sumur.

Peristiwa ini dikisahkan secara gamblang dalam Al-Qur’an: “(Ingatlah) ketika mereka berkata: ‘Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri.’” (QS. Yusuf: 8)

Dalam kondisi seperti itu, Yusuf tetap bertawakal kepada Allah. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian. Inilah pelajaran pertama dari "fase kelam" seorang nabi, ia tidak tumbuh dari kemewahan, melainkan dari penderitaan yang disikapi dengan sabar.

Setelah diselamatkan oleh kafilah, Yusuf dijual sebagai budak di Mesir. Ia tinggal di rumah Al-Aziz, seorang pejabat tinggi. Di rumah ini pula, ia diuji dengan fitnah berat: Zulaikha, istri Al-Aziz, jatuh hati padanya dan berusaha menggoda. Namun Yusuf memilih jalan yang benar walaupun akhirnya berujung di penjara:

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka” (QS. Yusuf: 33)

Selama dalam penjara, Yusuf tetap berdakwah dan menyebarkan tauhid kepada para narapidana lainnya. Ia juga menafsirkan mimpi dua orang tahanan, yang kelak menjadi pintu baginya menuju istana Mesir.

Baca Juga : 1677: Raden Kajoran Memimpin Ponorogo Melawan Amangkurat I

“Wahai dua temanku di penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”
(QS. Yusuf: 39).

Setelah bertahun-tahun dalam penjara, Yusuf akhirnya dibebaskan dan diangkat sebagai pejabat tinggi setelah menafsirkan mimpi Raja. Ia berkata:
“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.”
(QS. Yusuf: 55).

Namun Yusuf tidak pernah membalas dendam. Saat kembali bertemu saudara-saudaranya yang dahulu membuangnya, ia memaafkan mereka: “Tidak ada cercaan terhadap kamu pada hari ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 92).

 


Topik

Agama nabi yusuf as kisah nabi yusuf fase kelam nabi nabi berita agama nabi islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana