MALANGTIMES - Jarang ada yang mengetahui bahwa sosok pelawak legendaris multitalenta ini ternyata memiliki hati singa. Hal ini dibuktikannya dengan berbagai peristiwa tragis di Indonesia yang pernah menghiasi berbagai media di era Orde Baru. Peristiwa-peristiwa yang sampai saat ini dikenang sebagai zaman betapa kerasnya militer.
Baca Juga : Hingga Pertengahan April, 4 Kali Tanah Longsor Terjadi di Kota Batu
Peristiwa Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari serta tragedi Trisakti adalah bukti hati singanya pelawak legendaris bernama Wahyu Sardono atau lebih dikenal Dono Warkop DKI.
Dono yang dikenal lucu dalam berbagai filmnya bersama Indro dan Kasino serta tidak bertampang aktivis seperti yang kebanyakan dikenal pernah pasang badan menghadapi sepasukan tentara bersenjata lengkap saat peristiwa Trisakti 1998.
"Join Us We Fight For A Clean Government". Begitulah tulisan di kaus oblong warna putih Dono. Saat dirinya dengan begitu berani melakukan perlawanan terhadap tindakan represif tentara saat itu.
Dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, Dono yang saat itu telah menjadi dosen Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) dengan gagah berani menghadang serbuan tentara ke kampus Universitas Katolik Atmajaya (UAJ), Jakarta. Kala itu ratusan mahasiswa yang bersembunyi di UAJ diberondong senjata api selama kurang lebih satu jam. Dono dengan beraninya mengarahkan selang hidran kepada pasukan tentara tersebut untuk melindungi mahasiswa yang sedang turun aksi.
Aksinya tersebut bukan hanya terjadi satu dua kali saja. Sejak masih menjadi mahasiswa, Dono yang lahir di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, 30 September 1951 pun terlibat aktif dalam berbagai perlawanan melawan rezim Orde Baru. Dalam peristiwa Malari, 1974, Dono pun terlibat di dalam aksi perlawanan para mahasiswa melawan rezim Orde Baru.

Jiwa pemberontaknya terus berkobar walaupun Dono, yang meninggal tanggal 30 Desember 2001 di Jakarta, telah hidup secara mapan, baik sebagai dosen maupun menjadi aktor dan pelawak kondang yang dikenal dengan berbagai tingkah konyolnya dalam film-film Warkop DKI. Dia tetap menyuarakan kebenaran dan keadilan walaupun dengan gaya yang diplintir dengan memakai humor sebagai cangkangnya.
Frasa yang sampai saat ini tetap dikenang, "Tertawalah sebelum Tertawa Itu Dilarang", adalah salah satu satir menyikapi kondisi pemerintah saat itu. Pun berbagai celetukan yang akan membuat orang tertawa. Penuh dengan sisipan protes atas kondisi saat itu yang dikemas dengan cerdas oleh Dono bersama Kasino dan Indro.
Baca Juga : Musim Melaut, Para Nelayan yang Berlabuh di Kabupaten Malang Bakal Disemprot Antiseptik
Jiwa pemberontaknya juga dilampiaskan dalam karya sastra berbentuk novel. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan IlmuPolitik Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia ini juga menuliskan perlawanannya menghadapi Orde Baru. Tercatat ada sekitar 4 novel yang ditulisnya sejak tahun 1988 sampai 2009.
Tulisan mantan jetua OSIS SMA Negeri 3 Surakarta ini tidak jauh dari persoalan-persoalan perlawanan mahasiswa terhadap rezim pemerintah saat itu. Yakni Cemara-Cemara Kampus (1988), Bila Satpam Bercinta (1999), Dua Batang Ilalang (1999), dan Senggol Kiri Senggol Kanan (2009). (*)
