Sentuhan Balitbangda Gairahkan Lagi Apel Poncokusumo yang Sempat Sekarat

Pelatihan apel yang dilakukan oleh Balitbangda Kabupaten Malang di Poncokusumo dalam upaya menggairahkan kembali budidaya apel yang sekarat. (Balitbangda for MalangTIMES)
Pelatihan apel yang dilakukan oleh Balitbangda Kabupaten Malang di Poncokusumo dalam upaya menggairahkan kembali budidaya apel yang sekarat. (Balitbangda for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berbicara buah apel, masyarakat luas biasanya selalu mengatakan Kota Batu. Padahal,  di wilayah Kabupaten Malang, tepatnya di Poncokusumo, buah apel telah lama tumbuh dan jadi mata pencaharian warganya. 

Zaman keemasan apel di Poncokusumo terlihat dari  rerata produksi apel per tahun selama 14 tahun terakhir sampai  2014. Yakni,  606.267,14 kuintal dengan produktivitas 66,16 kg per pohon. 

Di wilayah Poncokusumo, produksi apel pernah mencapai 2.008.953 kuintal. Sedangkan produktivitas terendah terjadi pada tahun 2011 sebesar 2,54 kuintal per pohon.

"Potensi besar budi daya apel di Poncokusumo mengalami fase kemunduran sekitar tahun 2011. Jumlah pohon apel turun signifikan sekitar 47 persen," kata Mursyidah, kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Malang,  Kamis (06/12/2018) kepada MalangTIMES.

Penurunan pohon apel di tiga desa (Gubukklakah, Poncokusumo, dan Pandansari), Kecamatan Poncokusumo, disebabkan adanya konversi lahan. Warga yang menanam apel beralih menanam sayur, jeruk, tebu, kelengkeng dan sengon. 

Konversi tersebut, menurut Mursyidah, membuat luas lahan apel yang awalnya 1.016 hektare (ha) tahun 2016 menjadi 370 ha atau menyusut 36,42 persen. Terus merosot sampai sekitar angka 47 persen saat ini. 

"Kondisi tersebut tentu sangat mengkhawatirkan. Apel telah menjadi komoditas yang memberikan nilai tambah dan identitas Kabupaten Malang. Karena itu, kami melakukan berbagai penelitian atas hal tersebut. Kami tidak ingin apel musnah di sini, " ujar mantan kepala Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Malang itu. 

Sentuhan Balitbangda Kabupaten Malang terhadap petani apel di Poncokusumo adalah dengan melakukan berbagai identifikasi dan survei lapangan bersama praktisi apel Rudy Madiyanto sebelum meluncurkan inovasi yang kini disebut Sistem Inovasi Daerah (SIDa) Pemulihan Apel. 

Rudy Madiyanto menyampaikan, penurunan jumlah apel akibat konversi lapangan disebabkan beberapa hal. Yakni, tanaman tidak produktif atau tidak berbuah, tanaman rusak karena umur tanaman sudah lebih dari 40 tahun, dan tanaman mati karena penyakit jamur akar putih, kanker batang, kutu sisik dan virus. "Serta rendahnya harga apel saat musim panen, " ujar Rudy yang juga merupakan pendamping tenaga ahli Balitbangda Kabupaten Malang yang melakukan survei dan penelitian di Poncokusumo. 

SIDa Pemulihan Apel diluncurkan oleh Balitbangda Kabupaten Malang dengan menyasar pada pelatihan pengolahan lahan, peremajaan bibit serta pengendalian hama dan penyakit. Lewat program itu, Balitbangda melibatkan 40 petani dalam setiap kegiatan di wilayah Poncokusumo. 

Hasilnya, petani apel yang sekarat kembali menggeliat dan berkembang. "Sekarang petani-petani apel sudah bergerak menanam kembali. Dari data sampai 4 Desember 2018, petani yang kembali menanam apel sebanyak 25 ha, " ucap Mursyidah.   

Sentuhan Balitbangda dengan berbagai inovasi yang di hilirnya dirasakan masyarakat telah mengantarkannya mendapat anugerah sebagai Balitbang Berkinerja Utama Tingkat Nasional Tahun 2017 dan 2018. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top