Temuan sampah personel Unit Reaksi Cepat Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kota Malang atau pasukan abu-abu saat membersihkan drainase Jalan Langsep. (Foto: Humas Pemkot Malang for MalangTIMES)
Temuan sampah personel Unit Reaksi Cepat Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kota Malang atau pasukan abu-abu saat membersihkan drainase Jalan Langsep. (Foto: Humas Pemkot Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Meski mengaku sebagai kota pendidikan, warga Kota Malang tampaknya belum mencerminkan pribadi terdidik. Salah satu indikatornya, yakni dari kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan. Seperti temuan dari Unit Satuan Tugas (SATGAS) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang.

Tim khusus atau pasukan abu-abu itu tiap hari melakukan pekerjaan rutin membersihkan dan melakukan normalisasi drainase. Yang ditemukan sungguh memprihatinkan. Tumpukan sampah kerap menutup saluran drainase atau gorong-gorong. 

Hari ini (29/11/2018) misalnya, tim yang bertugas membersihan drainase di Jalan Raya Langsep mendapati sampah yang membusuk dan menyumbat laju air. Sampah yang ditemukan pun mencengangkan. Terbanyak yakni material berbahan plastik, seperti kantong belanja serta bungkus makanan berbahan styrofoam. 

Tak hanya itu, petugas juga menemukan bantal dan guling, potongan kayu bongkaran, rak piring plastik dan material besar lainnya. "Kadang teman-teman pasukan itu bingung harus komentar gimana. Lha ini kok ada barang-barang rumah tangga dibuang semua ke saluran drainase," ujar Kepala DPUPR Kota Malang Hadi Santoso. 

Pria yang akrab disapa Soni itu mengungkapkan, sampah tak lazim dalam jumlah banyak tersebut hampir tiap hari ditemukan personel pasukan abu-abu yang bertugas. "Teman-teman di lapangan selalu saja menemukan buah perilaku tidak bertanggung jawab warga yang seenaknya membuang sampah ke saluran- saluran air," terangnya. 

"Tentu wajar apabila muncul emosi geram melihat kondisi itu," tambah mantan Kepala Dinas Pertanian Kota Malang itu. Menurut Soni, aktivitas pasukan abu-abu memang selama ini masih jarang diketahui oleh masyarakat. "Mereka-mereka yang berjibaku, tak mempedulikan resistensi akan keselamatan, yang ada tekad dan komitmen mewujudkan lingkungan kota yang baik," terangnya. 

"Di musim penghujan seperti ini, teman-teman makin gencar melakukan operasi normalisasi. Dan itu wujud konkret dari sekian banyak langkah langkah penanganan agar luapan air tidak meluber ke jalan-jalan," tegasnya. Di awal musim penghujan ini, Soni dan jajaran DPUPR juga menambah durasi untuk terjun ke titik- titik potensi genangan air.

Hal itu dilakukan untuk mengetahui kondisi drainase di titik yang tergenang. Sekaligus, mencari akar masalah dan rencana penanganan yang akan dilakukan. "Saat tergenang itu tim langsung mendata, apakah karena tersumbat, atau karena drainase tidak menampung debit air, atau ada masalah lain," tuturnya. 

Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan perlunya sanksi tegas bagi warga yang masih kedapatan membuang sampah sembarangan. "Kota Malang punya peraturan daerah. Nanti akan kami lihat dan bagaimana penerapannya. Agar nanti ada efek jera bagi oknum yang membuang sampah ke sungai maupun saluran air," tegasnya. 

Sementara dari progres data pemetaan ada 26 lokasi titik genangan di kota Malang, dan dalam proses penanganan. Titik itu meliputi Jalan Pulosari, Rajekwesi, Galunggung, Jombang, Jupri, Bandulan, Simpang Sulfat, Bukit Barisan, Borobudur, Pisang Kipas, Sukarno Hatta, MT Haryono, Simpang Bogor, Letjen S. Parman, Ahmad Yani, Cengkeh, Bendungan Siguragura, dan lain-lain.