MALANGTIMES - Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia. Dilansir dari Departemen Kesehatan, stunting merupakan ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa.
Hal ini dikarenakan anak penderita stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, yakni bertubuh pendek atau kerdil. Anak stunted juga terganggu perkembangan otaknya. Hal ini akan sangat memengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah serta produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.
Baca Juga : Waspadai Penyebaran Covid-19 Melalui Orang Tanpa Gejala, Kenali Cirinya
Nah, sebagian masyarakat mungkin pernah mendengar istilah stunting ini. Namun masih banyak yang belum memahaminya. Penahaman terhadap istilah stunting memang sering rancu.
Konsultan sekaligus Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Staf Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUB-RSSA Malang dr Ariani MKes SpA (K) menerangkan pengertian stunting saat seminar ilmiah Cegah Stunting untuk Generasi Sehat Indonesia dalam Rangka Hari Kesehatan Nasional Ke-54 Pemerintah Kota Malang di Auditorium Politeknik Kesehatan Kemenkes Kota Malang (24/11).
"Stunting secara general untuk secara awam adalah kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK)," terangnya dalam acara yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang tersebut.
Nah, jika ada permasalahan pada 1.000 hari pertama ini, maka akan menyebabkan anak menjadi stunting. Lebih lanjut, Ariani menegaskan bahwa stunting sudah pasti pendek. Namun pendek belum tentu stunting.
"Anak yang stunting pastilah pendek. Namanya juga stunting. Jadi, tinggi badannya pasti di bawah -2SD (100 cm). Tetapi anak pendek itu belum tentu dia stunting," ujarnya.
Merujuk pada WHO dan UNICEF, dikatakan stunting jika di bawah 5 tahun ada masalah. Menurut Ariani, stunting sebenarnya disebabkan oleh malnutrisi kronik. Sedangkan pendek bisa disebabkan oleh gangguan hormon, penyakit sistem lain, hingga sindrom.
"Jadi, yang dimaksud dengan stunting adalah adanya gangguan nutrisi yang dia dapatkan pada dua tahun pertama. Pada seribu hari pertama kehidupan," tandasnya.
Nah, apabila anak ada masalah di 1.000 HPK tadi, dia akan mengalami gangguan gizi yang menjadikan tingginya kurang. Itu bisa dikatakan stunting. Sedangkan kalau anak mengalami sindrom, kelainan bawaan, cacat bawaan, atau terkena penyakit kronis yang sejak awal dia derita hingga akhirnya gizinya jadi jelek dan berefek pada tinggi badannya yang pendek, dia bukan stunting, tetapi pendek saja. "Jadi, itu mungkin harus kita luruskan persepsi orang," kata Ariani. (*)
