JATIMTIMES - Konten kreator Sely Sugar baru-baru ini mengunggah eksperimen perbandingan air mineral dan air demineral melalui akun media sosialnya. Dengan menggunakan alat kimia, ia mengukur berbagai parameter kualitas air untuk mengetahui perbedaan kandungan di antara keduanya.
“Aku tidak mengukur parameter biologis ya. Ini harus ke laboratorium soalnya,” jelas Sely dalam unggahannya.
Baca Juga : Ramadan dan Perkembangan Muslim di Negeri Sakura: Simak Cerita Dosen Asal Indonesia Ini
Meskipun demikian, hasil pengukuran Sely menunjukkan perbedaan. Berikut rician hasil penelitian Sely, dikutip Rabu (12/3/2025):
- Total Dissolved Solids (TDS)
• Air Mineral: Memiliki TDS lebih tinggi karena mengandung mineral alami seperti kalsium dan magnesium.
• Air Demineral: TDS sangat rendah karena hampir tidak ada mineral terlarut.
- Kandungan Organik (COD & TOC)
• Air Mineral: Bisa mengandung sedikit senyawa organik alami.
• Air Demineral: Biasanya lebih rendah karena sudah melalui proses pemurnian.
- Kemurnian Air (UV 275)
• Air Mineral: Bisa sedikit lebih tinggi jika ada senyawa organik alami.
• Air Demineral: Biasanya lebih rendah karena lebih murni.
- Konduktivitas Listrik (EC)
• Air Mineral: Konduktivitas lebih tinggi karena adanya ion mineral.
• Air Demineral: Konduktivitas sangat rendah karena hampir tidak ada ion.
- pH (Keasaman/Basa)
• Air Mineral: Umumnya netral hingga sedikit basa (pH 7-8), membantu menjaga keseimbangan tubuh.
• Air Demineral: Cenderung lebih asam (pH <7) karena tidak memiliki mineral penyeimbang.
Berdasarkan hasil uji tersebut, Sely menyimpulkan bahwa air mineral memiliki kandungan mineral alami yang bermanfaat bagi tubuh. Sementara air demineral lebih murni tetapi minim mineral esensial.
Sementara itu, Ahli Spesialis Penyakit Dalam dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa air minum yang baik harus memenuhi kriteria dasar.
“Pada dasarnya, kriteria air minum yang baik dikonsumsi yakni air yang bersih, jernih, tidak berasa, dan tidak berbau,” ungkapnya, dikutip dari laman UI.
Baca Juga : Profil Bobon Santoso, Youtuber Masak Besar yang Resmi Jadi Mualaf
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa air mineral cenderung lebih direkomendasikan karena mengandung berbagai unsur penting seperti silika, kalsium, magnesium, dan selenium.
“Air mineral tidak melalui proses kimia sehingga kaya akan mineral, yang mengandung beberapa jenis mineral seperti magnesium, kalsium, dan kalium. Air mineral biasanya memiliki kandungan pH antara 6-8,5,” tambahnya.
Sebaliknya, meskipun air demineral aman dikonsumsi dalam jangka pendek, konsumsi jangka panjang dapat berdampak negatif pada kesehatan. Penelitian dari Environmental Research menunjukkan bahwa air demineralisasi dengan kadar mineral rendah dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dan meningkatkan risiko penyakit seperti hipertensi dan serangan jantung.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak merekomendasikan konsumsi air demineral secara terus-menerus. “Mengonsumsi air yang tidak mengandung mineral dapat meningkatkan risiko osteoporosis, hipertensi, serangan jantung, dan hipotiroid,” tulis laporan WHO.
Dengan mempertimbangkan hasil penelitian dan rekomendasi para ahli, air mineral lebih disarankan untuk konsumsi harian karena mengandung mineral alami yang mendukung kesehatan tubuh. Jika memilih air demineral, sebaiknya tidak dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa asupan mineral tambahan dari makanan atau suplemen. Semoga informasi ini bermanfaat
