JATIMTIMES – Maraknya aktivitas pembakaran sampah secara sembarangan di wilayah Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu dikeluhkan oleh warga setempat. Kebiasaan buruk yang kian masif ini dinilai memicu polusi udara hingga mengganggu kesehatan masyarakat akibat asap pekat dan bau menyengat.
Kondisi tersebut dirasakan kian parah sejak pertengahan tahun ini. Fenomena membakar sampah yang semula hanya dilakukan oleh segelintir orang kini menjamur dan hampir ditemui di setiap pekarangan rumah warga.
Baca Juga : TPA Milangasri Terbakar Dekati SUTET, Ketua DPRD Magetan Turun ke Lokasi Instruksikan Siaga 24 Jam
Salah seorang warga Desa Pesanggrahan, Laila, mengutarakan bahwa maraknya pembakaran sampah ini di antaranya bermula dari dampak penutupan dan pembatasan operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tlekung beberapa waktu lalu. Saat angkutan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sempat terhenti, warga diimbau mengelola sampah mandiri namun justru memilih cara instan dengan membakarnya.
"Semenjak Juni tahun ini itu terjadi semakin sering, berawal beberapa orang saja kemudian menjadi hampir setiap rumah melakukan pembakaran sampah. Setelah DLH kembali menerima sampah, kebiasaan bakar sampah beberapa orang ini ternyata tidak berhenti," ungkap Laila saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2026).
Laila menambahkan, paparan asap pembakaran sampah tidak hanya melanda area pemukiman dusun, melainkan juga kerap dijumpai di sepanjang jalan protokol Kota Batu. Titik pembakaran bahkan sering ditemukan di sekitar kawasan fasilitas publik seperti SMPN 3 Batu hingga Taman Hutan Bondas.
Asap tebal dari pembakaran sampah di area jalan raya tersebut sering kali membumbung hingga menutupi pandangan pengguna jalan dan menimbulkan bau yang menyengat.
Melihat kondisi tersebut, Laila berharap Pemerintah Kota Batu melalui dinas terkait dapat turun tangan secara tegas melarang aktivitas pembakaran sampah di area terbuka. Pemkot Batu juga didesak untuk memasifkan kembali sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik dari tingkat rumah tangga.
Baca Juga : Mini Job Fair Surabaya Siap Kerjo Buka 2.150 Lowongan, Ada 1.700 Peluang bagi PMI
"Saya harap pemerintah bisa segera secara tegas melarang pembakaran sampah dan memberi sosialisasi lagi untuk memilah jenis sampah agar tidak kuwalahan di TPA hingga membuat TPA tutup karena sudah tidak menampung," tegas Laila.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar pemkot memfasilitasi pelatihan pengolahan sampah basah menjadi pupuk organik di setiap desa. Potensi ini dinilai sangat cocok mengingat mayoritas latar belakang warga di Kota Batu berprofesi sebagai petani.
"Saya yakin yang menjadi penghambat pengelolaan sampah itu karena jenis sampahnya tercampur. Harusnya ada edukasi pengelolaan sampah basah di setiap desa untuk dikelola sendiri menjadi pupuk organik, apalagi latar belakang warga di sini juga petani," pungkasnya.
