JATIMTIMES - Fenomena bediding kembali menjadi perhatian masyarakat selama musim kemarau 2026. Suhu udara yang terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari, membuat banyak warga bertanya-tanya apakah bediding masih berlangsung pada September ini atau sudah berakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi suhu dingin akibat fenomena bediding dapat berlangsung hingga September 2026. Suhu di sejumlah wilayah bahkan berpotensi turun hingga sekitar 15 derajat Celsius atau lebih rendah, terutama di kawasan dataran tinggi.
Baca Juga : UIN Malang Raih Runner Up PORSI JAWARA II 2026
Prakirawan BMKG Linda Fitrotul menjelaskan, suhu dingin yang terjadi selama puncak musim kemarau, khususnya pada Juli hingga September, merupakan kondisi yang tergolong normal.
Menurut Linda, suhu dingin pada musim kemarau berkaitan dengan pengaruh monsun Australia. Angin tersebut membawa massa udara yang relatif dingin dan kering menuju wilayah Indonesia.
"Fenomena suhu dingin pada Juli, Agustus hingga September merupakan hal yang wajar. Saat ini kita berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering," kata Linda pada Kamis (2/7/2026) lalu, seperti dikutip Minggu (13/9/2026).
Selain pengaruh monsun Australia, minimnya tutupan awan pada musim kemarau juga membuat suhu udara lebih cepat mengalami penurunan pada malam hari.
Pada siang hari, permukaan bumi menerima dan menyerap panas matahari. Namun, setelah matahari terbenam, panas tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer. Ketika tutupan awan relatif sedikit, proses pelepasan panas berlangsung lebih cepat sehingga suhu udara terasa semakin dingin.
Sensasi dingin selama bediding tidak hanya dirasakan masyarakat di Malang. Kondisi serupa juga dapat terjadi di berbagai wilayah Jawa Timur, terutama kawasan yang berada di dataran tinggi.
Malang Raya menjadi salah satu kawasan yang cukup identik dengan fenomena udara dingin karena karakteristik geografisnya. Ketinggian wilayah turut memengaruhi suhu udara yang dirasakan masyarakat.
"Malang berada di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 400 hingga 600 meter di atas permukaan laut, bahkan Kota Batu mencapai lebih dari 700 sampai 1.700 mdpl. Semakin tinggi elevasi suatu wilayah, maka suhunya juga semakin rendah," kata Linda.
Artinya, semakin tinggi suatu wilayah dari permukaan laut, suhu udara cenderung semakin rendah. Kondisi tersebut membuat Malang Raya dan kawasan pegunungan lainnya kerap terasa lebih dingin ketika musim kemarau berlangsung.
Jika mengacu pada penjelasan BMKG pada awal Juli 2026, fenomena suhu dingin selama musim kemarau masih dapat berlangsung hingga September.
Namun, bediding bukanlah fenomena yang memiliki tanggal mulai dan berakhir secara pasti. Intensitas udara dingin dapat berbeda-beda di setiap wilayah dan dipengaruhi kondisi atmosfer serta cuaca setempat.
Baca Juga : 5 Tips agar Tubuh Tetap Wangi dan Fresh Seharian meski Cuaca Panas, Nomor 4 Sering Dilakukan
Memasuki September 2026, masyarakat masih mungkin merasakan udara dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Sensasi tersebut umumnya lebih terasa di kawasan dataran tinggi dan ketika kondisi langit cerah dengan tutupan awan yang minim.
Karena itu, masyarakat disarankan tetap memantau informasi cuaca dan perkembangan suhu terbaru dari BMKG untuk mengetahui kondisi di wilayah masing-masing.
Tips Menjaga Tubuh saat Bediding
Udara dingin tidak hanya membuat tubuh terasa kurang nyaman, tetapi juga dapat membuat kulit lebih kering. Karena itu, ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kondisi tubuh selama fenomena suhu dingin berlangsung.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memperhatikan dua hal berikut:
1. Mencukupi asupan nutrisi dan minuman hangat
Asupan makanan bergizi dan minuman hangat dapat membantu menjaga kondisi tubuh selama menghadapi suhu udara yang lebih dingin. Pastikan kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi agar tubuh tetap bugar.
2. Menggunakan pelembap
Udara yang dingin dan kering dapat membuat kulit lebih mudah kehilangan kelembapannya. Penggunaan pelembap dapat membantu menjaga kulit agar tidak terlalu kering hingga mengalami pecah-pecah.
Dengan demikian, memasuki September 2026 bukan berarti fenomena udara dingin langsung berakhir. Bediding masih berpotensi dirasakan, khususnya pada malam hingga pagi hari dan di wilayah dengan elevasi tinggi.
Masyarakat dapat terus memantau prakiraan cuaca serta informasi terbaru dari BMKG untuk mengetahui perkembangan suhu di wilayah masing-masing.
