JATIMTIMES – Universitas Brawijaya (UB) mengakui masih kecolongan dalam mencegah terjadinya insiden mahasiswa melompat dari lantai 6 Gedung A Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan, meski kampus telah memiliki sistem screening kesehatan mental hingga mekanisme pendampingan. Setelah kejadian mahasiswa terjatuh dari gedung, UB kini mengevaluasi dua sisi sekaligus, yakni kondisi psikologis mahasiswa dan keamanan fisik gedung bertingkat.
Sekretaris UB, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., mengatakan UB sebenarnya telah menjalankan screening psikologis terhadap mahasiswa baru. Setiap mahasiswa baru diwajibkan mengikuti psikotes untuk memetakan kondisi dan potensi persoalan kesehatan mental.
Baca Juga : Pangkas Belanja Rp15,5 Miliar di KUA-PPAS 2026, Pemkot Batu Coret Kegiatan Fisik Tanpa Progres Lelang
"Dari hasil itu kita petakan berapa persen yang memiliki potensi untuk mengalami problem kesehatan mental, berapa persen yang kondisinya akut," kata Tri Wahyu, Jumat, (11/9/2026).
Mahasiswa yang teridentifikasi memiliki potensi persoalan serius kemudian mendapatkan pendampingan khusus. Namun, sistem tersebut tidak serta-merta mampu membaca seluruh kondisi mahasiswa.
Tri Wahyu mengakui kejadian yang berlangsung menjadi bahan evaluasi bagi UB, terutama karena sistem yang telah dibangun belum sepenuhnya mampu mencegah kejadian tersebut.
"Ya bisa dikatakan kita kecolongan, bahwa kemudian kejadian seperti kemarin, tentu bahan evaluasi, pasti," ujarnya, Jumat, (11/9/2026).
Karena itu, evaluasi tidak hanya diarahkan pada aspek kesehatan mental. Rektor UB juga menginstruksikan seluruh fakultas memeriksa kembali keamanan gedung bertingkat, khususnya ruangan yang memiliki jendela terbuka dan berada di area ketinggian.
Langkah tersebut menyasar desain sejumlah gedung lama yang dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek keamanan dari perspektif kondisi saat ini.
Tri Wahyu mengatakan UB akan mengecek jendela gedung satu per satu dan mengkaji modifikasi yang diperlukan bersama pihak aset.
"Jadi kita akan coba cek satu per satu. Tapi mungkin untuk tahun anggaran tahun depan. Kami masih diskusikan dengan pihak aset," katanya.
Pengecekan terutama dilakukan untuk memastikan jendela tetap dapat digunakan sebagai sarana sirkulasi udara, tetapi tidak memiliki celah yang memungkinkan seseorang melewatinya.
"Kita harus pastikan bahwa tidak ada lubang atau celah yang bisa dilalui orang untuk melakukan tindakan tersebut, melompat," ujarnya.
Evaluasi itu kemudian ditindaklanjuti di tingkat fakultas. Humas Fakultas Kedokteran UB, dr. Holipah, PhD, mengatakan pihaknya telah mulai memeriksa seluruh gedung di lingkungan Fakultas Kedokteran.
"Instruksi Pak Rektor kemarin untuk seluruh fakultas untuk mengevaluasi gedung-gedung yang tinggi. Apabila ada ruangan-ruangan dengan jendela yang terbuka, diminta untuk dievaluasi, misalnya tidak terbuka lebar yang bisa dilalui manusia," katanya.
Di sisi lain, UB juga mengevaluasi mekanisme deteksi persoalan psikologis mahasiswa. Holipah menjelaskan kampus memiliki UB Care sebagai kanal pengaduan daring yang dapat digunakan mahasiswa untuk menyampaikan persoalan secara rahasia.
Baca Juga : DP3AP2KB Kota Blitar Ungkap Risiko Anak Ikut Demonstrasi: Mental, Keamanan hingga Mudah Diprovokasi
Layanan tersebut dikenalkan kepada mahasiswa sejak awal perkuliahan. Setiap laporan yang masuk wajib mendapatkan respons maksimal lima hari kerja dan selanjutnya dapat didistribusikan kepada unit yang menangani kebutuhan pendampingan.
"Biasanya satu hari, dua hari sudah pasti direspons. Yang bersangkutan diajak ketemu, bisa di kampus, bisa di luar kampus, untuk hanya sekadar cerita-cerita," ujarnya.
Kepala Program Studi S1 Kedokteran Fakultas Kedokteran UB, dr. Hanif, Sp.An., M.Biomed., menilai tantangan terbesar justru terletak pada persoalan kesehatan mental yang tidak selalu terlihat dari perilaku sehari-hari.
"Terkadang orang yang sehari-hari ini kelihatan menyenangkan, aktif, ceria, kita tidak pernah tahu ternyata dia membawa sebuah beban," kata Hanif.
Menurut Hanif, kondisi tersebut membuat sistem formal saja tidak cukup. Kampus juga perlu memperkuat pengawasan melalui lingkungan pertemanan mahasiswa yang setiap hari berinteraksi lebih dekat.
Ia mencontohkan, ketika ada mahasiswa yang tidak hadir dalam kegiatan akademik, teman satu kelompoknya didorong untuk tidak sekadar menganggapnya sebagai ketidakhadiran biasa.
"Temanmu mana? Kalau temannya tidak tahu, 'Enggak tahu, Dok.' Lho, enggak mencari tahu? Apakah kamu tidak mencari tahu? Itu kan temanmu satu kelas," ujarnya.
Hanif menilai pola pengawasan informal semacam itu dapat menjadi lapisan tambahan untuk mendeteksi mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan, terutama ketika mereka belum menggunakan layanan konseling atau belum menunjukkan tanda yang mudah dikenali.
"Kita mencoba melibatkan mahasiswa. Kan enggak mungkin terus kemudian kita mendatangkan tendik atau dosennya yang mencari anak ini ke mana," katanya.
Ia juga mendorong terciptanya ruang aman yang membuat mahasiswa tidak merasa harus selalu menyampaikan persoalannya melalui jalur formal. Percakapan sederhana bersama teman di kantin atau tempat lain, menurutnya, dapat menjadi pintu awal untuk mengetahui kondisi seseorang.
"Kadang bisa cerita dengan temannya sambil makan di kantin, di kafe. Mungkinkah itu sebuah upaya kita juga untuk kita melihat ada apa di sekitar kita, di lingkungan kita," ujarnya.
