Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pemerintahan

Wali Kota Blitar Jemput Dua Anak Putus Sekolah, Antar Mereka Menata Masa Depan di Sekolah Rakyat

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

12 - Sep - 2026, 12:28

Placeholder
Jemput Masa Depan: Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin menjemput Afrilia Ayu Agustin di kediamannya sebelum mengantarnya menuju Sekolah Rakyat Kota Blitar, Sabtu (12/9/2026). Pemkot Blitar membuka kembali jalan pendidikan bagi anak-anak yang sempat putus sekolah agar mereka memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan dan menata masa depan.(Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Pagi itu, Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin tidak menunggu calon siswa datang ke sekolah. Ia mendatangi rumah mereka satu per satu. Dua remaja yang sempat terhenti pendidikannya dijemput, dibawakan perlengkapan, lalu diantar langsung memasuki kehidupan baru di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar, Sabtu (12/9/2026).

Mereka adalah Afrilia Ayu Agustin, warga Jalan Jambe, Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, dan Khaurur Rozaq, warga Jalan Kali Lesti, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo. Keduanya memiliki cerita berbeda, tetapi bertemu pada keinginan yang sama: kembali bersekolah.

Baca Juga : Ekonom Celios Kritisi Pemangkasan Anggaran Daerah: Dijajah Regulasi Pemerintah Sendiri

Mas Ibin tak sekadar datang untuk menjemput. Di kediaman calon siswa, ia berbincang dengan keluarga dan memastikan mereka siap melepas anaknya kembali menempuh pendidikan. Ketika waktunya berangkat, Mas Ibin ikut membawa tas berisi perlengkapan sang anak. Dari rumah itu, perjalanan menuju Sekolah Rakyat dimulai, sekaligus membuka kembali jalan pendidikan yang sempat terputus.

Pemandangan serupa berlangsung saat Mas Ibin menjemput calon siswa lainnya. Tak ada seremoni panjang. Dari rumah keluarga, keduanya kemudian dibawa menuju Sekolah Rakyat untuk memulai kehidupan baru sebagai siswa berasrama.

“Mbak April sama Mas Rozak tadi kami jemput bersama keluarganya, kemudian kami antar ke Sekolah Rakyat. Ini pertama kali mereka masuk. Nanti mereka akan berkenalan dengan teman-temannya dan mulai beradaptasi karena Sekolah Rakyat ini sekolah asrama,” kata Mas Ibin.

Ia mengingatkan kehidupan berasrama tentu menuntut penyesuaian. Ada jarak dari keluarga, kebiasaan baru, disiplin, serta tuntutan mengurus diri sendiri. Justru dari proses itulah kemandirian dibangun.

“Keberhasilan itu memang harus dimulai dengan perjuangan. Mereka belajar berpisah dari orang tua dan lingkungan, kemudian belajar hidup mandiri. Harapannya, mereka menjadi generasi masa depan yang tangguh, hebat, mandiri, dan kelak sukses,” ujarnya.

Satu Bulan Tak Sekolah, Kini Ingin Mengejar Cita-cita

Ibin

April sebelumnya tercatat sebagai pelajar SMKN 2 Blitar. Ia berhenti ketika telah menyelesaikan kelas X dan hendak memasuki kelas XI. Lebih dari sebulan ia tidak mengikuti pendidikan.

Kesempatan masuk Sekolah Rakyat kemudian membuka jalan untuk kembali ke bangku sekolah. Keputusan itu, menurut April, datang dari keinginannya sendiri.

“Saya ingin melanjutkan sekolah,” kata April singkat.

Ia juga mengaku siap menjalani kehidupan berasrama. Ketika ditanya tentang cita-citanya, jawabannya tegas: menjadi dokter.

Cerita berbeda datang dari Rozaq. Setelah lulus SMP, langkahnya menuju SMA sempat terhenti. Ia mencoba mendaftar ke sejumlah sekolah negeri, termasuk SMAN 4 Blitar, tetapi belum memperoleh tempat. Keinginan bersekolah tak ikut padam. Kini Rozaq memulai kembali pendidikannya di Sekolah Rakyat dengan satu mimpi yang ingin dikejar: menjadi polisi.

Kepala Dinas Sosial Kota Blitar Eka Atikah mengatakan kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu pertimbangan ketika Rozaq hendak melanjutkan ke sekolah swasta. Keluarganya masih harus membiayai pendidikan kakaknya.

“Dua-duanya sempat putus sekolah. April sebelumnya sekolah di SMK 2, sedangkan Rozaq sudah mencoba mendaftar ke sekolah negeri tetapi belum diterima. Ketika hendak melanjutkan ke sekolah swasta, keluarganya menghadapi keterbatasan biaya karena orang tuanya masih membiayai kakaknya yang kuliah,” kata Eka.

Menurut Eka, April merupakan anak yatim. Keinginan kembali bersekolah juga tumbuh dari kesadaran dirinya dan keluarga bahwa pendidikan penting bagi masa depannya.

Masuknya April dan Rozaq dimungkinkan karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi-entry, multi-exit. Calon siswa dapat masuk tidak hanya pada awal tahun ajaran sepanjang memenuhi kriteria dan melalui proses yang ditentukan.

“Anak-anak ini kapan pun bisa masuk ke Sekolah Rakyat. Kebetulan di tengah perjalanan ada dua anak yang putus sekolah dan berminat masuk. Pak Wali mengapresiasi karena mereka mau kembali sekolah, sehingga dijemput langsung oleh beliau,” ujar Eka.

Jumlah siswa Sekolah Rakyat Kota Blitar karena itu bersifat dinamis. Eka menyebut jumlah terakhir berada di kisaran 192 siswa, termasuk dua siswa yang baru bergabung tersebut.

Kejar Kuota 270 Siswa, Pemkot Terus Sisir Anak yang Membutuhkan

Rozak

Pemkot Blitar belum berhenti melakukan penjaringan calon siswa. Sekolah Rakyat Kota Blitar memiliki kapasitas 270 siswa. Hingga Sabtu (12/9/2026), jumlah siswa tercatat sekitar 192 anak, termasuk April dan Rozaq yang baru bergabung. Artinya, masih tersedia ruang bagi anak-anak yang memenuhi persyaratan untuk memperoleh pendidikan di sekolah berasrama tersebut.

Baca Juga : Dari Prestasi, Event, Fasilitas, hingga Sport Tourism: Mas Ibin Siapkan Arah Baru Olahraga Kota Blitar

Jumlah siswa bersifat dinamis. Kepala Dinas Sosial Kota Blitar Eka Atikah menjelaskan, Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi-entry, multi-exit sehingga siswa dapat masuk dalam perjalanan tahun ajaran. Jumlah peserta didik sebelumnya sempat berada di kisaran 200 anak sebelum terakhir tercatat sekitar 192 siswa.

“Kalau jumlah memang dinamis. Kemarin sudah sempat di angka 200, kemudian terakhir sekitar 192 siswa. Itu sudah termasuk dua anak yang hari ini masuk,” kata Eka.

Mas Ibin memastikan penjaringan akan terus dilakukan hingga kapasitas Sekolah Rakyat terpenuhi. Ia mengajak keluarga yang anaknya memenuhi kriteria untuk tidak ragu mengambil kesempatan tersebut. Seluruh kebutuhan pendidikan dan kehidupan berasrama disediakan sehingga keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak untuk melanjutkan sekolah.

“Kami terus berupaya supaya Sekolah Rakyat ini sesuai kuota, penuh. Targetnya 270 siswa dan sekarang masih ada slot. Kami mengajak seluruh warga Kota Blitar yang memenuhi syarat agar putra-putrinya disekolahkan di Sekolah Rakyat,” kata Mas Ibin.

Menurut dia, dukungan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan anak menjalani pendidikan berasrama. Adaptasi memang tidak selalu mudah. Anak harus berpisah sementara dari keluarga, mengikuti disiplin asrama, dan meninggalkan sejumlah kebiasaan di rumah. Namun proses itu sekaligus menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kemandirian.

Mas Ibin meminta orang tua tidak buru-buru khawatir ketika anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Terlebih, Sekolah Rakyat menyediakan fasilitas pendidikan dan kebutuhan siswa secara gratis serta menerapkan pola pembinaan yang berlangsung sepanjang hari.

“Fasilitasnya sangat baik, lengkap, dan gratis. Sekolah ini bisa mengantar putra-putrinya di kemudian hari menjadi orang-orang hebat dan sukses. Orang tua juga harus mau mendorong dan merelakan anak-anaknya dididik di sini,” ujarnya.

Eka mengakui kehidupan asrama menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian siswa. Ada anak yang belum terbiasa jauh dari orang tua maupun harus beradaptasi dengan aturan, termasuk pembatasan penggunaan telepon seluler. Karena itu, dukungan keluarga dibutuhkan agar anak mampu melewati masa penyesuaian.

“Namanya anak-anak belum terbiasa tinggal di asrama. Ada yang kangen orang tua, kemudian mereka yang sebelumnya terbiasa memegang HP juga harus menyesuaikan karena di sini penggunaan HP dibatasi. Ada juga orang tua yang belum tega ketika anaknya mengalami kesulitan sedikit. Karena itu, dukungan orang tua penting agar anak bisa bertahan dan beradaptasi,” kata Eka.

Bagi Mas Ibin, pemerintah daerah juga memiliki tanggung jawab untuk mendampingi anak-anak yang membutuhkan perhatian. Prinsip itulah yang membuatnya memilih datang sendiri ke rumah April dan Rozaq, ikut membawa perlengkapan mereka, kemudian mengantar keduanya memasuki Sekolah Rakyat.

“Sebagai pemerintah daerah, kami juga menjadi orang tua. Rasanya seperti sedang mengantar anak saya sendiri ke pondok. Memang harus berpisah dengan orang tua, tetapi itu bagian dari proses untuk mewujudkan kemandirian dan mempersiapkan masa depan mereka,” kata Mas Ibin.

Kehidupan Sekolah Rakyat, lanjut dia, memberi ruang pembentukan karakter selama 24 jam. Anak tidak hanya mengikuti pelajaran di kelas, tetapi juga belajar mengatur kehidupan sehari-hari, beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun disiplin, hidup bersama, serta bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

April Rozak

Bagi April dan Rozaq, Sabtu pagi itu akhirnya bukan sekadar perjalanan dari rumah menuju asrama. Setelah pendidikan mereka sempat terhenti, keduanya kembali memperoleh jalan untuk bersekolah. April datang dengan cita-cita menjadi dokter. Rozaq membawa mimpi menjadi polisi.

“Sekolah Rakyat mempersiapkan mereka untuk masa depan. Mereka dilatih mandiri dan dipersiapkan menjadi anak-anak hebat di kemudian hari,” pungkas Mas Ibin.


Topik

Pemerintahan Pemkot Blitar Wali Kota Blitar Sekolah Rakyat Kota Blitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni