JATIMTIMES – Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Jember, dalam satu tahun terakhir, 3 kali mengalami kelangkaan. Hal ini menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU hingga berdampak pada perekonomian warga.
Kelangkaan pertama saat penutupan jalur Gumitir dikarenakan perbaikan jalan, yang kedua adanya wacana kenaikan BBM pada awal April 2026 lalu, dan terbaru adalah pada awal September 2026, seiring dengan macetnya jalur di sekitar Depot Pertamina di Ketapang Banyuwangi.
Baca Juga : Dukung Pariwisata, Pemkab Kediri Lanjutkan Pembangunan Akses Jalan Menuju Kawah Kelud
Kelangkaan tersebut dipicu terlambatnya pasokan BBM ke wilayah Kabupaten Jember, dan memicu antrean panjang. Tidak hanya itu, banyak kecamatan di Kabupaten Jember yang masih belum memiliki SPBU, hal ini disorot oleh Bupati Jember Dr. Muhammad Fawait SE. MSc., saat melakukan sidak kelangkaan BBM beberapa waktu lalu.
"Kami akan mengajak para pelaku usaha dan pemilik modal untuk berinvestasi membangun SPBU di kecamatan-kecamatan yang belum terlayani. Langkah ini penting, tidak hanya untuk menjamin pemerataan ketersediaan BBM hingga ke pelosok, tetapi juga dapat menyerap tenaga kerja lokal dan menggerakkan perekonomian daerah," ujar Bupati Jember saat melakukan sidak di sejumlah SPBU.
Untuk mengatasi kelangkaan yang terjadi saat ini, Pemkab Jember juga sudah melakukan koordinasi dengan pihak Pertamina, untuk menambah pasokan BBM ke Kabupaten Jember.
Gus Fawait juga menyampaikan bahwa pasokan BBM di Jember selama ini tergantung pada distribusi dari Banyuwangi, ketika ada persoalah kelancaran lalu lintas, Kabupaten Jember sangat terdampak.
Baca Juga : Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Pokok, Pemkab Kediri Gelar Pasar Murah
Guna memberikan solusi permanen pihaknya telah menyiapkan sejumlah skema jangka panjang. Salah satunya adalah berkoordinasi langsung dengan pihak pimpinan Pertamina di Jakarta untuk membuka opsi pasokan BBM dari jalur alternatif.
“Selama ini, Jember bergantung penuh pada suplai dari Banyuwangi. Ke depan, Pemkab mendorong agar pengiriman BBM juga bisa ditopang dari daerah lain seperti Surabaya, Malang, atau wilayah terdekat lain. Strategi diversifikasi suplai ini terbukti sukses diterapkan pada distribusi LPG yang tetap stabil meski sempat ada kendala lalu lintas di daerah tetangga,” pungkasnya. (*)
