JATIMTIMES - Gunung Semeru erupsi beberapa kali pada Rabu (9/9/2026). Hingga pukul 15.04 WIB, erupsi tercatat sebanyak empat kali.
Petugas pos pengamatan Gunung Semeru Liswanto AP juga mencatat Gunung Semeru alami 29 kali gempa letusan/erupsi, 4 kali gempa guguran dan 4 kali gempa harmonik pada Rabu (9/9/2026).
Baca Juga : Lima Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau, Pencarian SAR Masih Nihil
Dilansir dari laman resmi ESDM, erupsi pertama terjadi pukul 00.15 WIB. Visual letusan tidak teramati. Saat laporan dibuat, erupsi masih berlangsung.
Kemudian pada pukul 05.11 WIB, Semeru kembali erupsi. Visual letusan tidak teramati dan erupsi masih berlangsung saat laporan dibuat.
Erupsi berikutnya terjadi pukul 10.59 WIB. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 96 detik.
Selanjutnya pada pukul 15.04 WIB, erupsi kembali terjadi. Visual letusan tidak teramati. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 91 detik.
Sebelum Semeru kembali erupsi pada Rabu, warga Malang Raya ramai mengeluhkan suara dentuman pada Selasa (8/9/2026) malam sekitar pukul 22.00. Keluhan itu ramai disampaikan warga melalui media sosial Threads. Sejumlah warga mengaku mendengar suara dentuman berkali-kali.
"denger dentuman berkali kali ga sih guys malam ini?di area malang," tulis @zakiyatul*****.
"Dari Lawang juga terdengar keras dentuman nya," tulis @munirr***.
"Betul daerah cengger ayam denger 3x, nitip info..," tulis @gradya****.
"bumiayu kenceng kak,, malah aku denger dari sejam lalu terus setengah jam lalu 2x," tulis @ardila****.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Malang Ricko Kardoso mengatakan BMKG telah berkoordinasi dengan PVMBG terkait suara dentuman tersebut.
Menurutnya, aktivitas letusan Semeru dalam beberapa pekan terakhir memang terkadang disertai suara dentuman dan gemuruh.
"Berdasarkan hasil koordinasi, disampaikan bahwa aktivitas letusan Gunung Api Semeru dalam beberapa minggu terakhir terkadang disertai suara dentuman maupun gemuruh dengan intensitas lemah, sedang, hingga kuat, yang berkaitan dengan peningkatan tekanan gas vulkanik," kata Ricko, dikutip dari medcom.id, Rabu (9/9/2026).
Mengingat status Semeru Level III (Siaga), PVMBG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar jarak tersebut, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Wilayah itu berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 km dari puncak.
Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kawasan tersebut masih rawan terhadap lontaran batu pijar.
Potensi awan panas, guguran lava dan lahar juga perlu diwaspadai di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar dan Besuk Sat. Lahar juga berpotensi terjadi di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan.
