Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Suara Dentuman Misterius di Bandung Berkaitan dengan Erupsi Anak Krakatau? Ini Penjelasan Pakar

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

05 - Sep - 2026, 17:32

Placeholder
Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (4/9/2026) malam. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Suara dentuman misterius yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya dan sekitarnya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari akhirnya mendapat penjelasan. Pakar gempa dan tsunami Daryono turut angkat bicara soal penyebabnya. 

Dentuman tersebut terdengar berulang sejak sekitar Jumat (4/9/2026) tengah malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari. Dalam video yang diunggah warga Pandeglang, tampak kaca maupun pintu rumah bergetar akibat dentuman tersebut. 

Baca Juga : Pakar Politik UB Ungkap Peluang dan Tantangan Partai Baru Tembus Senayan

Pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menduga suara dentuman tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.

Melalui akun Instagram pribadinya, @daryono_edukator_kebencanaan, Daryono menjelaskan mekanisme yang memungkinkan energi dari erupsi Gunung Anak Krakatau terdengar hingga wilayah Bandung.

"Dentuman Bandung dapat dijelaskan bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK)," tulis Daryono dalam unggahannya.

Menurut Daryono, suara tersebut bukan berarti gelombang gempa dari Gunung Anak Krakatau merambat hingga Bandung. Fenomena yang terjadi lebih berkaitan dengan rambatan gelombang tekanan di atmosfer.

Daryono menjelaskan erupsi dapat menghasilkan energi termal dan mekanis dalam jumlah besar. Energi tersebut kemudian dapat dikonversi secara mendadak menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi sangat rendah atau disebut infrasound.

Adapun gelombang infrasound memiliki frekuensi di bawah batas pendengaran manusia. Namun, dalam kondisi atmosfer tertentu, gelombang tekanan tersebut dapat merambat dalam jarak yang sangat jauh.

"Fenomena dentuman Bandung terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi amat rendah (infrasound) yang merambat melalui troposfer dan stratosfer," jelasnya.

Gelombang tekanan tersebut kemudian dapat terperangkap dalam atmospheric waveguide atau saluran gelombang atmosferik.

Kondisi ini dipengaruhi oleh refraksi akibat perbedaan suhu di atmosfer serta wind shear atau perubahan kecepatan dan arah angin pada ketinggian tertentu.

Daryono menjelaskan kondisi tersebut membuat redaman gelombang menjadi minim sehingga energi tekanan dapat merambat jauh dari sumbernya. 

"Gelombang tekanan ini terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat refraksi gradient temperatur serta geser angin (wind shear), sehingga mengalami redaman atenuasi yang minim," tulisnya.

Lantas, mengapa suara atau tekanan dari aktivitas Gunung Anak Krakatau bisa sampai dirasakan masyarakat Bandung?

Menurut Daryono terdapat mekanisme atmosfer yang memungkinkan gelombang infrasound melewati wilayah tertentu sebelum kembali mencapai permukaan di lokasi yang jauh.

Dia menjelaskan, kombinasi antara gradien temperatur dan wind shear di atmosfer dapat membiaskan gelombang suara. Akibatnya, energi suara tidak selalu terdengar kuat di wilayah yang lebih dekat dengan sumbernya.
Sebaliknya, gelombang tersebut dapat mencapai wilayah yang lebih jauh.

Baca Juga : Angin Kencang Rusak 14 Rumah Warga di Mlandingan Situbondo

"Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradient temperatur dan wind shear stratosfer yang membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung," ungkap Daryono.

Cekungan Bandung disebut memiliki peran dalam fenomena tersebut. Bentuk topografi wilayah cekungan dinilai dapat memantulkan kembali gelombang tekanan sehingga efeknya terasa lebih kuat secara lokal.

Daryono menggambarkan kondisi tersebut seperti sebuah ruang yang dapat menjadi acoustic cavity atau rongga akustik.

"Di mana bentuk topografi cekungan bertindak sebagai acoustic cavity yang memantulkan kembali serta mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik tersebut secara lokal," lanjutnya.

Penjelasan tersebut juga menjadi pembeda antara dentuman akibat gelombang atmosfer dan gempa bumi.

Adapun gelombang infrasound merambat melalui atmosfer, bukan melalui batuan atau tanah seperti gelombang seismik. Karena itu, fenomena tersebut tidak harus disertai aktivitas gempa yang terdeteksi di sekitar Bandung.

Diberitakan sebelumnya, BMKG Stasiun Geofisika Bandung memang telah melakukan pengecekan terhadap data monitoring kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca dan magnet bumi setelah menerima laporan masyarakat mengenai dentuman.

Hasil pemantauan BMKG tidak menunjukkan adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.

BMKG juga menemukan anomali pada catatan seismogram di Pulau Sibesi pada pukul 16.08 UTC dan 16.32 UTC atau sekitar pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB. Namun, anomali tersebut masih membutuhkan analisis lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik dan sumbernya.

Di sisi lain, BMKG mendeteksi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau melalui citra satelit serta aktivitas petir yang cukup signifikan di sekitar GAK.

Namun, BMKG sebelumnya belum memastikan bahwa aktivitas Anak Krakatau merupakan sumber dentuman di Bandung. Arah angin saat aktivitas erupsi juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam kajian.


Topik

Peristiwa gunung krakatau daryono bandung raya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya