Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Ramai Kritik Cara Prabowo Ambil Keputusan soal 'Ubi Bombing'

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

26 - Aug - 2026, 10:17

Placeholder
Potret kebakaran di Lamandau, Kalimantan Tengah. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan bahan pemadam kebakaran berbahan dasar ubi atau singkong untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Inovasi yang kemudian disebut Prabowo sebagai "ubi bombing" itu kini menjadi sorotan.

Sorotan datang dari konten kreator sosial dan politik Bang Ger melalui akun Instagram @ceritainbang. Ia mempertanyakan keputusan pemerintah mendorong pengembangan inovasi tersebut dalam skala besar, sementara bahan itu masih memiliki kapasitas produksi terbatas dan perlu melalui pengujian lebih lanjut.

Baca Juga : PDI Perjuangan Kabupaten Malang Mulai Panaskan Mesin Politik Menuju Pemilu 2029

Bang Ger juga menyoroti mekanisme pengambilan keputusan pemerintah. Menurutnya, inovasi tersebut seharusnya terlebih dahulu diverifikasi secara ilmiah sebelum mendapat dukungan produksi dalam skala besar.

Sebelumnya, wacana "ubi bombing" muncul dalam rapat penanganan karhutla di Posko Utama Satuan Tugas Karhutla Sumatera Selatan, Palembang, Senin (24/8/2026).

Dalam rapat itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya inovasi bahan pemadam berbahan baku tepung ubi atau singkong. Bahan tersebut disebut berpotensi digunakan untuk mencegah penyebaran api dan memadamkan kebakaran pada tahap awal.

Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis kemudian menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan temuan anggota Babinsa di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan pada Mei 2026 lalu. Inovasi itu sebelumnya telah dipaparkan kepada jajaran terkait dan disampaikan kepada BNPB.

Namun, kapasitas produksinya saat ini masih terbatas. Pemerintah pun masih perlu mengembangkan dan menguji efektivitas bahan tersebut untuk penggunaan dalam skala lebih besar. 

Prabowo merespons laporan tersebut dengan meminta inovasi berbahan ubi atau singkong itu dikembangkan dan diuji dalam skala besar. Presiden juga meminta kebutuhan anggarannya segera diajukan.

"Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar. Ajukan biaya untuk produksinya. Kita usahakan semua upaya. Berarti yang kita waterbomb bukan waterbomb, ubi bombing. Ubi bombing," ucap Prabowo. 

Dalam rapat itu, Prabowo juga meminta BNPB dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji berbagai bahan atau material yang bisa digunakan untuk memadamkan sekaligus mencegah penyebaran api. Ia membayangkan material tersebut dapat digunakan dalam bentuk tabung semprot maupun metode lain yang lebih praktis bagi petugas di lapangan. 

Sontak pernyataan Prabowo pun viral menuai banyak kritik. Salah satunya Bang Ger yang mengkritik cara pemerintah merespons laporan mengenai inovasi tersebut. Ia menilai klaim mengenai cara kerja bahan pemadam perlu diuji terlebih dahulu.

"Kok kayak gini cara Presiden kita ngambil keputusan ya?" ujar Bang Ger dalam unggahannya.

Ia mempertanyakan mengapa inovasi tersebut langsung mendapat respons positif untuk dikembangkan, padahal menurutnya kapasitas produksi masih kecil dan belum ada pengujian dalam skala besar.

"Padahal ya, kapasitas produksinya aja masih kecil. Belum ada uji coba terkait kebenaran dari laporan itu," katanya.

Bang Ger juga menyoroti penjelasan mengenai mekanisme kerja bahan berbasis tepung tersebut yang berkaitan dengan pemisahan oksigen dan karbon dioksida.

Baca Juga : Bukan Sekadar Selera, 6 Warna Pakaian Ini Disebut Identik dengan Orang Introvert

"Secara sains aja, klaim ini udah aneh lho. Ini gini ya, CO2 itu kan hasil pembakaran ya. Bukan komponen dari segitiga api," ujarnya.

Ia kemudian mempertanyakan penggunaan tepung dalam bentuk partikel yang disemprotkan ke udara. Menurutnya, aspek keselamatan dari material tersebut juga perlu diperhitungkan sebelum digunakan secara luas.

"Tepung yang disemprotkan ke udara justru berpotensi menciptakan combustible dust alias gampang meledak lah. Yang ada tuh api gak jadi padam, yang ada makin berbesar lah," katanya.

Menurut Bang Ger, persoalan yang lebih penting justru terletak pada bagaimana pemerintah menerima dan memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan.

"Ada yang lebih berbahaya. Gimana Presiden kita menerima klaim dari laporan tersebut?" katanya.

Ia mempertanyakan apakah dalam rapat tersebut ada pihak yang meminta penjelasan lebih jauh mengenai validitas inovasi tersebut sebelum Presiden meminta pengembangan dalam skala besar.

"Gak ada. Presiden kita langsung percaya gitu. Langsung minta tuh barang diproduksi skala besar," ujarnya.

Bang Ger menyebut pola pengambilan keputusan seperti itu berisiko apabila laporan yang diterima pemerintah tidak melalui proses verifikasi yang memadai.

"Pola kayak ginilah yang bahaya buat negara kita. Laporan 'asal Bapak Senang' diterima mentah-mentah tanpa verifikasi terlebih dahulu," katanya.

Menurut dia, persoalan tersebut menjadi penting karena menyangkut penggunaan anggaran negara sekaligus efektivitas penanganan bencana karhutla.

"Padahal yang dipertaruhkan duit rakyat dan efektivitas penanganan bencana yang udah bikin ratusan ribu hektare hutan hangus," tandas Bang Ger. 


Topik

Peristiwa prabowo ubi bombing kebakaran hutan kalimantan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri