JATIMTIMES - Buang air kecil merupakan aktivitas sehari-hari yang sering dianggap sepele. Namun, dalam ajaran Islam, persoalan setelah buang air kecil memiliki perhatian khusus karena berkaitan langsung dengan kesucian seseorang sebelum menjalankan ibadah.
Seorang Muslim tidak hanya diperintahkan membersihkan diri, tetapi juga memastikan tubuh dan pakaian terbebas dari najis, termasuk percikan air kencing.
Baca Juga : UNU Blitar Bawa Teknologi IoT ke UMKM, Tingkatkan Efisiensi Produksi Pakan Olahan Jagung
Peringatan mengenai hal ini disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah SAW bersabda: "Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut."
Hadis tersebut diriwayatkan Ad-Daruquthni. Riwayat lain dari Al-Hakim juga menyebutkan bahwa sebagian besar siksa kubur berkaitan dengan air kencing.
Peringatan tersebut semakin jelas dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW pernah melewati dua kuburan dan menyampaikan bahwa kedua penghuninya sedang mendapatkan siksa.
Salah satunya disebut karena tidak menjaga diri dari air kencing, sedangkan yang lainnya karena melakukan namimah atau menyebarkan berita yang dapat merusak hubungan antarmanusia.
Dalam hadis itu, Rasulullah SAW kemudian mengambil pelepah kurma basah, membelahnya menjadi dua dan meletakkan masing-masing bagian di atas kedua kuburan tersebut. Ketika ditanya alasannya, Rasulullah SAW menjawab bahwa siksa keduanya diharapkan diringankan selama pelepah tersebut belum mengering.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga diri dari najis bukan perkara yang semestinya diabaikan. Persoalannya bukan hanya apakah seseorang telah membersihkan diri setelah buang air, tetapi juga apakah ia memastikan tidak ada percikan air kencing yang mengenai tubuh maupun pakaian.
Syekh Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi dalam buku Rajin Shalat tapi Masih Keliru menjelaskan bahwa orang yang hendak melaksanakan salat harus memastikan dirinya telah bersih dari najis yang keluar dari dua saluran tubuh.
Baca Juga : 17 Agustus Telah Berlalu, Kapan Bendera Merah Putih Bisa Diturunkan?
Termasuk di dalamnya adalah menghindari percikan air kencing. Karena itu, seseorang dianjurkan memilih tempat yang memungkinkan air kencing tidak memercik kembali ke tubuh atau pakaian.
Al-Hafiz Ibnu Hajar juga menjelaskan makna istitar dalam sejumlah riwayat hadis tersebut. Menurutnya, istilah itu dipahami mayoritas ulama sebagai tindakan melindungi diri dari percikan air kencing.
Artinya, perhatian terhadap kebersihan setelah buang air kecil bukan sekadar persoalan kenyamanan. Dalam konteks ibadah, najis yang masih menempel pada tubuh atau pakaian perlu dibersihkan sebelum seseorang melaksanakan salat.
Karena itu, istinja menjadi bagian penting setelah buang air. Tujuannya bukan sekadar membuat tubuh terasa bersih, tetapi memastikan najis telah dihilangkan sesuai ketentuan bersuci.
Peringatan Nabi tersebut sekaligus mengajarkan pentingnya tidak meremehkan perkara kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan terburu-buru meninggalkan toilet, tidak memperhatikan percikan, atau tidak memastikan kebersihan setelah buang air dapat menjadi persoalan ketika seseorang hendak menjalankan ibadah.
Dalam ajaran Islam, kesucian bukan hanya perkara yang tampak secara fisik, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan seorang Muslim untuk menghadap Allah SWT dalam ibadah. Karena itu, perhatian terhadap kebersihan setelah buang air kecil perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesadaran menjaga kesucian, bukan sekadar rutinitas di kamar mandi.
