Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

FSTeM UB Ubah Limbah Cair Apel Pujon Jadi Minuman Fermentasi dan Biopestisida

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

14 - Aug - 2026, 12:59

Placeholder
Pengabdian kepada masyarakat FSTeM UB, dimana melibatkan UMKM Della Muda dan BPP Kecamatan Pujon serta diikuti 34 peserta dari UMKM dan gapoktan (ist)

JATIMTIMES - Limbah cair dari pengolahan apel di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, selama ini masih menyimpan persoalan sekaligus potensi. Sari apel yang tersisa dari proses produksi carang apel ternyata masih mengandung gula, asam organik, dan nutrien yang dapat dimanfaatkan melalui proses biologi. 

Potensi inilah yang dikembangkan Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) menjadi bahan minuman fermentasi, cuka apel, hingga biopestisida.

Baca Juga : 12 Promo Makanan dan Minuman 17 Agustus 2026, Ada Buy 1 Get 1 hingga Harga Rp 17 Ribu

Bahan yang sebelumnya hanya ditampung dalam tong tersebut diperkenalkan kepada pelaku UMKM dan kelompok tani melalui pelatihan pengolahan limbah cair apel di Kantor Kecamatan Pujon belum lama ini. 34 peserta mengikuti kegiatan yang digelar tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) FSTeM UB bersama UMKM Della Muda dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pujon.

1

Ketua tim PkM Departemen Biologi FSTeM UB, Tri Ardyati, M.Agr., Ph.D., mengatakan kandungan dalam limbah cair apel masih memungkinkan untuk dimanfaatkan melalui proses fermentasi.

"Limbah cair apel masih memiliki kandungan yang dapat dimanfaatkan. Dengan proses biologis yang tepat, bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan," ujar Tri.

Pengolahan minuman fermentasi menjadi salah satu materi yang diberikan kepada peserta dari kalangan UMKM. Yoga Dwi Jatmiko, S.Si., M.App.Sc., Ph.D., menjelaskan penggunaan sari limbah apel varietas manalagi dan rome beauty sebagai bahan dasar minuman fermentasi.

Dalam prosesnya, sari apel diberi starter kefir kemudian difermentasi selama dua hingga tujuh hari. Teknik tersebut menjadi salah satu cara untuk mengolah kandungan organik dalam sari apel melalui aktivitas mikroorganisme.

2

Tidak berhenti pada minuman fermentasi, FSTeM UB juga memperkenalkan teknologi pembuatan cuka apel. Tri menjelaskan proses tersebut berlangsung melalui dua tahap, yakni fermentasi alkohol dan fermentasi asam asetat.

Fermentasi tahap kedua menggunakan isolat bakteri asam asetat yang merupakan koleksi Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi FSTeM UB. Penggunaan isolat tersebut menunjukkan bagaimana mikroorganisme dapat dimanfaatkan dalam proses bioteknologi untuk menghasilkan produk dari bahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal.

"Prinsip utama yang diperkenalkan adalah bagaimana bahan yang masih memiliki kandungan organik dapat diproses melalui aktivitas mikroorganisme sehingga menghasilkan produk baru yang lebih bernilai," kata Tri.

3

Materi tersebut kemudian berkembang dalam diskusi dengan peserta. Mereka menanyakan kemungkinan pemanfaatan kulit pisang dan berbagai buah lain sebagai bahan dasar cuka. Persoalan daya simpan juga menjadi perhatian, terutama untuk produk minuman berbahan lidah buaya atau Aloe vera yang telah mereka kembangkan.

Sementara itu, limbah cair apel juga diarahkan untuk kebutuhan pertanian. Kelompok tani mendapat materi mengenai pembuatan biopestisida dengan memanfaatkan bahan lokal, termasuk limbah cair apel yang telah dikumpulkan oleh penggiat UMKM selama beberapa tahun.

Materi biopestisida disampaikan Prof. Amin Setyo Leksono, Ph.D., Prof. Dr. Suharjono, M.Si., dan Irfan Mustafa, S.Si., M.Si., Ph.D. Ketiganya memiliki kompetensi pada bidang pengendalian hayati, pupuk organik cair, dan mikrobiologi lingkungan.

Baca Juga : 12 Promo Makanan dan Minuman 17 Agustus 2026, Ada Buy 1 Get 1 hingga Harga Rp 17 Ribu

Konsep yang diperkenalkan tidak hanya berkaitan dengan pembuatan produk, tetapi juga bagaimana limbah dari satu aktivitas ekonomi dapat masuk kembali ke dalam sistem produksi pertanian. Dengan pendekatan tersebut, limbah cair apel tidak semata-mata dipandang sebagai residu, melainkan sebagai salah satu sumber bahan yang dapat dikembangkan untuk mendukung budidaya.

"Biopestisida dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan bahan lokal juga membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka," ujar salah satu pemateri.

Pendekatan tersebut, bagi petani apel Pujon memiliki kaitan langsung dengan persoalan biaya produksi dan produktivitas. Penggunaan input pertanian berbasis bahan lokal diharapkan dapat menjadi alternatif di tengah meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia.

Petani juga berharap pengembangan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas apel. Jika produksi membaik dan biaya dapat ditekan, daya saing apel Pujon yang pernah menjadi komoditas unggulan diharapkan kembali menguat.

Pemanfaatan limbah menjadi produk baru sekaligus memperlihatkan hubungan antara mikrobiologi, teknologi fermentasi, dan kebutuhan sektor pertanian. Di titik tersebut, peran Departemen Biologi FSTeM UB tidak hanya berada pada pengembangan pengetahuan laboratorium, tetapi juga pada penerapan prinsip biologi untuk menjawab persoalan bahan baku, lingkungan, dan produksi pangan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat FSTeM UB yang diketuai Tri Ardyati. Pelaksanaan kegiatan didukung laboran Laboratorium Mikrobiologi, satu mahasiswa magister, dan tiga mahasiswa sarjana Departemen Biologi FSTeM UB.

Pelatihan tersebut melibatkan UMKM Della Muda dan BPP Kecamatan Pujon serta diikuti 34 peserta dari UMKM dan gapoktan. Sesi UMKM membahas minuman fermentasi dan cuka apel, sedangkan kelompok tani mendapat materi pembuatan biopestisida.

Program tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), meliputi SDG 8 tentang pertumbuhan ekonomi dan peluang kerja, SDG 9 mengenai inovasi dan teknologi, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 terkait aksi iklim, serta SDG 17 mengenai kemitraan.

Melalui kegiatan tersebut, FSTeM UB berkomitmen memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, UMKM, dan kelompok tani dalam mengembangkan pemanfaatan potensi lokal. Pengolahan limbah cair apel menjadi produk fermentasi dan biopestisida menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pengetahuan yang diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.


Topik

Pendidikan apel limbah cair ub fstem ub limbah cair apel



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan