Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Heboh Festival Balon Wonosobo Malah Diisi Program Prabowo: Rusak Kena Politik? 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

13 - Aug - 2026, 14:28

Placeholder
Festival balon udara di Wonosobo, Jawa Tengah pada Minggu (9/8/2026). (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Festival balon udara di Wonosobo, Jawa Tengah, menuai sorotan. Puluhan balon yang diterbangkan pada Minggu (9/8/2026) malah membawa tema sejumlah program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Sekitar 30 balon diterbangkan dari Alun-Alun Wonosobo. Balon-balon tersebut dihiasi berbagai tema, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Rumah Gizi Merah Putih, Jembatan Garuda hingga Sekolah Rakyat.

Baca Juga : PKKMB Candradimuka 2026 FISIP UB, Tekankan Pembentukan Generasi Muda yang Peka Persoalan Bangsa

Sejumlah balon juga menampilkan wajah Prabowo, pejabat lainnya serta logo organisasi masyarakat. Kondisi itu kemudian menuai kritik dari warganet, karena festival balon selama ini dikenal sebagai salah satu kreasi, tradisi dan daya tarik budaya Wonosobo.

Sebagai informasi, acara tersebut digelar relawan Gerakan Mantep Pilih Prabowo (GMPP) dalam rangka memeriahkan HUT ke-201 Kabupaten Wonosobo. Panitia menyebut kegiatan itu sekaligus menjadi sarana sosialisasi program pemerintah dan hiburan bagi masyarakat.

Ketua Panitia Abdul Ghoni mengatakan pemilihan balon udara bukan tanpa alasan. Balon dianggap sebagai salah satu ikon budaya Wonosobo yang memiliki daya tarik tersendiri. Penggunaan balon dalam acara tersebut juga dimaksudkan untuk memperkenalkan berbagai program pemerintah kepada masyarakat.

Namun, festival itu justru mendapat sorotan dari Komunitas Balon Udara Wonosobo. Komunitas tersebut menegaskan tidak terlibat dalam penyelenggaraan acara pada 9 Agustus 2026.

Melalui akun Instagram resminya @balonwonosobo, komunitas menyampaikan keberatan terhadap penggunaan tradisi balon udara untuk kepentingan politik.

"Diperjuangkan dan diperkenalkan ke penjuru negeri selama bertahun tahun, rusak begitu saja oleh kepentingan politik. #savebalonwonosobo," tulis akun tersebut.

Festival balon udara di Wonosobo, Jawa Tengah di tahun sebelumnya. (Foto: Instagram)

Kreasi festival balon udara di Wonosobo, Jawa Tengah di tahun sebelumnya. (Foto: Instagram)

Komunitas juga menegaskan bahwa acara festival balon pada 9 Agustus bukan kegiatan yang diselenggarakan langsung oleh komunitas mereka.

"@balonowonosobo telah mengkinfirmasi adanya acara terkait festival balon pada tanggal 9 agustus adalah bukan diselenggarakan langsung oleh komunitas balon wonosobo." jelasnya. 

"Semoga kita tetap solid untuk menjaga nilai tradisi, budaya dan membawa nama harum wonosobo ke internasional," lanjutnya.

Komunitas kemudian mengajak masyarakat tetap mendukung kegiatan para seniman balon udara lokal yang dinilai benar-benar berorientasi pada pelestarian budaya.

Akun resmi @/balonowonosobo juga mempertanyakan konsep festival balon pada 9 Agustus tersebut. "Jujur siapa yang kemarin datang ke acara festival balon tanggal 9 Agustus dan pulang bawa rasa kecewa?" ungkap unggahan akun tersebut.

Menurut unggahan itu, masyarakat awalnya berharap dapat melihat kreativitas seniman lokal melalui motif-motif khas Wonosobo. Namun, yang terlihat justru dominasi tema program pemerintah dan politik.

"Kita sama, ekspektasi kita datang buat lihat keindahan dan kreativitas motif asli anak Wonosobo. Tapi realitanya, 90% balonnya malah jadi ajang buat kampanye politik," ujar narator.

Unggahan tersebut juga menyebut sejumlah warga mengaku kecewa karena tradisi balon udara dinilai mulai kehilangan nilai budayanya.

Baca Juga : Presiden Prabowo Resmikan Empat Jembatan Garuda di Kota Blitar, Mas Ibin: Perkuat Konektivitas dan Ekonomi

"Banyak banget rekan dan kerabat yang bilang, sayang sekali balon sekarang buat politik, balon Wonosobo jadi kehilangan marwah. Bahkan gak sedikit yang menyatakan mereka hilang respect," lanjutnya.

Meski demikian, komunitas resmi balon udara Wonosobo disebut telah memberikan penjelasan bahwa mereka sejak awal berdiri menjaga sikap netral dan tidak berafiliasi dengan organisasi politik maupun kegiatan politik praktis.

"Mereka menegaskan kalau dari awal komunitas berdiri, mereka itu netral dan tidak terafiliasi dengan organisasi politik atau hal-hal yang berbau politik praktis," tulis unggahan tersebut.

Komunitas juga disebut memiliki dua agenda resmi yang selama ini menjadi bagian dari kegiatan mereka, yakni Festival Mudik dan Java Balloon Attraction.

"Mereka sangat memahami kekecewaan kita, jadi mari kita pastikan kita tetap support seniman lokal di acara-acara yang memang murni melestarikan budaya. Jangan sampai ajang politik merusak keindahan tradisi kita," tambahnya.

Polemik tersebut kemudian ramai dibahas warganet. Salah satu pengguna media sosial yang mengaku bagian dari komunitas balon udara Wonosobo menegaskan bahwa acara tersebut bukan kegiatan Pemerintah Kabupaten Wonosobo maupun komunitas balon.

"Temen temen semua itu bukan acara dari pemkab wonosobo nggih itu murni dari pihak jatubu dan gmpp bisa di katakan Ormas monggo ketua panitianya klarifikasidong," tulis @pranataadityaaa_.

Kritik juga diarahkan pada dominannya muatan politik dalam festival tersebut. "Event balon sengaja dibuat untuk NDOLOP ke Prabowo, intinya itu. Kalau dari 20 balon yang 2 balon ada gambar relawan dan prabowo its okey lah, ini semuanya politis," tulis @nawaabd****.

Ada pula warganet yang menyoroti frekuensi kegiatan balon udara yang dinilai mulai mengurangi daya tarik tradisi tersebut.

"Sekarang serasw hambar min.. Yg harusnya setahun sekali... Miah berkali" Kesannya jdi pasaran dan membosankan... Ayo min... Perjuangkan," tulis @rizkiandri****.

Sementara akun lainnya menilai penggunaan festival untuk memperkenalkan program pemerintah justru menunjukkan adanya persoalan dalam strategi komunikasinya.

"Haus Banget Validasi artinya mereka tidak percaya diri dengan programnya, sesuatu yang dimulai dengan tanpa perencanaan ya akan tetap semrawut," tulis @pojokken***.

Hingga berita ini ditulis, polemik tersebut masih menjadi perbincangan di media sosial. Di sisi lain, Komunitas Balon Udara Wonosobo telah menegaskan bahwa festival pada 9 Agustus bukan merupakan agenda resmi mereka dan meminta tradisi balon udara tetap dijaga sebagai bagian dari budaya Wonosobo.


Topik

Peristiwa Festival Balon Wonosobo politik Prabowo Subianto



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni