Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Lingkungan

Studi ICCT: Setiap 12 Menit 1 Nyawa Melayang Akibat Polusi Kendaraan Indonesia

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Nurlayla Ratri

05 - Aug - 2026, 14:57

Placeholder
Ilustrasi. Polusi kendaraan bermotor di Indonesia disebut memicu hilangnya nyawa satu jiwa setiap 12 menit.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Ancaman polusi udara dari sektor transportasi darat di Indonesia berada dalam kondisi yang kian mengkhawatirkan. Hasil riset terbaru dari lembaga independen International Council on Clean Transportation (ICCT) mengungkapkan bahwa emisi kendaraan bermotor di Tanah Air telah merenggut satu nyawa setiap 12 menit.

Laporan bertajuk Manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050 yang dirilis ICCT menunjukkan bahwa pada 2024 saja, emisi transportasi darat di Indonesia memicu 44.700 kasus kematian dini. Selain itu, terdapat lebih dari 19.800 kasus baru asma pada anak yang teridentifikasi akibat paparan polusi tersebut.

Baca Juga : Tips Jalan Kaki 30 Menit dari Dokter Jantung, Cocok untuk Pemula hingga Penderita Penyakit Kronis

Temuan angka ini secara mengejutkan menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk kasus baru asma pada anak yang dipicu oleh emisi nitrogen dioksida (NO₂).

"Tak hanya itu, paparan tersebut juga memicu kemunculan kasus baru asma pada anak setiap 26 menit sekali," ungkap Peneliti dari ICCT, Lingzhi Jin dalam siaran pers yang diterima JatimTIMES, Rabu (5/8/2026).

Riset berbasis data global yang mencakup 180 negara ini memaparkan bahwa tidak semua jenis kendaraan memberikan dampak kerugian yang seimbang. Kendaraan berat terbukti menjadi penyumbang terbesar emisi beracun di udara.

Kendati populasi kendaraan berat di Indonesia hanya berkisar 2 persen dari total armada transportasi darat, segmen ini bertanggung jawab menyumbang lebih dari separuh keseluruhan emisi NO_x dan PM_{2.5}. Sementara itu, kendaraan berukuran lebih ringan mendominasi pencemaran emisi VOC dan CO.

Lingzhi Jin, menegaskan pentingnya langkah percepatan elektrifikasi secara masif pada seluruh segmen kendaraan untuk menekan laju dampak buruk kesehatan.

"Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050, kasus asma pada anak dapat dikurangi sebanyak 150.000 dan kematian dini dapat dikurangi sebanyak 800.000 di Indonesia serta lebih dari 8 juta secara global," terangnya.

Studi ICCT juga memproyeksikan bahwa tanpa adanya intervensi kebijakan baru, tren kematian dini akibat polusi kendaraan berisiko melonjak hingga 74 persen pada 2050 secara global. Bahkan bagi negara-negara berpenghasilan menengah dan bawah, potensi peningkatan angka kematian bisa menembus hingga lebih dari 200 persen.

Direktur Senior ICCT sekaligus salah satu penulis studi, Josh Miller, menjelaskan bahwa dinamika pertumbuhan penduduk dan pertambahan jumlah kendaraan akan membebankan tekanan kesehatan yang kian berat jika aturan hukum tidak diubah secara radikal.

Baca Juga : Ada Karnaval Desa Tulungrejo Hari Ini, Waspadai Kepadatan Lalin Batu-Mojokerto dan Pakai Jalur Alternatif

"Pertumbuhan populasi, populasi dunia yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan yang terus meningkat terhadap beban kesehatan akibat transportasi darat," jelas Josh Miller.

Menurut Miller, skenario elektrifikasi total pada penjualan kendaraan baru mulai 2045 menjadi jalan keluar paling efektif untuk memutus rantai krisis kesehatan ini.

"Kajian ini menunjukkan bahwa elektrifikasi yang ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut, mencegah hampir 9 juta kematian dini antara sekarang hingga 2050," tambah Miller.

Dari sudut pandang pakar kesehatan publik dalam negeri, Prof. Budi Haryanto, menekankan bahwa penyelesaian masalah polusi tidak bisa dilakukan secara parsial, terutama demi melindungi kelompok rentan seperti anak-anak.

"Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan kualitas udara yang lebih baik dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat," papar Prof. Budi Haryanto.

Guna mempercepat realisasi udara bersih, ICCT merekomendasikan pengetatan standar emisi bahan bakar, penerapan zona rendah emisi, serta percepatan program peremajaan armada kendaraan tua sebagai langkah pendukung transisi menuju era kendaraan nol emisi secara penuh.


Topik

Lingkungan polusi udara di indonesia icct



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Nurlayla Ratri