Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Sentil Pembangunan yang 'Menggelinding' Liar, Pameran Like A Rolling Stone Suarakan Krisis Ekologis Kota Batu

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Dede Nana

21 - Jul - 2026, 16:20

Placeholder
Salah satu instalasi yang mencolok dalam pameran Like A Rolling Stone di Galeri Raos menyoroti masalah lingkungan fan pembangunan yang menggelinding liar di Kota Batu.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Kota Batu yang dahulu tenar dengan julukan De Kleine Switzerland (Swiss Kecil) lantaran udaranya yang sejuk dan lanskap agrarisnya yang asri, kini dinilai kian bergeser dari kearifan lokalnya. Laju pembangunan wisata, pemukiman, hingga alih fungsi lahan pertanian menjadi beton yang melaju kencang memantik gelisah para seniman lokal yang tergabung dalam Pondok Seni Batu.

Berangkat dari keprihatinan atas fenomena tersebut, Pondok Seni Batu menggelar pameran seni bersama bertajuk "Like a Rolling Stone" yang bertempat di Galeri Raos, Jalan Panglima Sudirman No. 6, Kota Batu. Pameran yang berlangsung mulai 11 Juli hingga 2 Agustus 2026 ini menghadirkan beragam karya lukis, patung, hingga instalasi bernuansa kritis, reflektif, sekaligus melankolis terhadap perubahan lingkungan daerah setempat.

Baca Juga : Di Balik Viral Sosok Mirip Yesus, Pedagang Kambing Kota Batu Justru Batasi Endorse dan Undangan Ceramah

Penulis pameran, Leck Budi, menjelaskan bahwa tema Like a Rolling Stone—yang dipinjam dari judul lagu legendaris Bob Dylan—dipilih untuk menggambarkan dinamika transformasi Kota Batu yang menggelinding begitu deras, sulit dihentikan, hingga berisiko kehilangan keaslian serta akar budayanya.

"Judul ini memberikan kesan pameran bergaya rock n roll, berani, kontemporer, dan relevan. Pameran ini bersifat kritis, menyoroti dampak-dampak kerusakan ekologis, alih fungsi lahan pertanian ke beton, atau hilangnya mata air akibat pembangunan," ungkap Leck Budi dalam catatan kuratorialnya.

.....

Kritik terhadap pergeseran lanskap lingkungan dan sosial tersebut disuarakan secara visual oleh para seniman pameran melalui medium masing-masing. Salah satunya dihadirkan oleh seniman Agus Sujito lewat karya patung resin berjudul "RUWAT" yang menampilkan sosok Semar memikul bekal dengan balutan pita PMI di lengannya.

Melalui deskripsi karyanya, Agus Sujito menyentil kondisi sosial dan alam Kota Batu yang kian memprihatinkan. Ia menilai pembangunan yang terjadi belakangan ini telah mengusik daya dukung lingkungan akibat ketidakpedulian publik dan kebijakan yang kurang berpihak pada kelestarian alam.

"Karya ini sebagai sindiran bahwa negara kita sedang sakit karena kebijakan pemerintah, alam dan lingkungan juga sedang sekarat karena ketidakpedulian kita. Tokoh Semar sebagai pengruwat dengan penuh keprihatinan tetap hadir dan berharap agar situasi ini segera berakhir," terang Agus Sujito dalam deskripsi karyanya.

..

Tak hanya isu ekologis di kawasan pedesaan atau pegunungan, dampak dari pesatnya industri pariwisata terhadap kehidupan sehari-hari warga lokal turut diangkat oleh seniman Susanto dalam lukisan akriliknya yang bertajuk "STAY AT HOME". Susanto memotret realitas kemacetan parah dan keterbatasan ruang publik yang kerap mengular di kawasan perkotaan Batu saat akhir pekan atau musim liburan.

Baca Juga : Konflik Air di Kota Batu Berlarut, Pakar: Pemkot Jangan Abaikan Ruang Hidup Warga

"Perubahan ekologis, terutama yang saya rasakan terhadap dampak sosial akan ketidaknyamanan warga masyarakat Kota Batu tentang penggunaan fasilitas umum jalan raya, tentang kemacetan dan lahan parkir akibat banyaknya wisatawan yang berkunjung," papar Susanto. Menurutnya, situasi tersebut memaksa sebagian warga lokal memilih mengurung diri di rumah demi menghindari kemacetan liburan.

.

Sementara itu, seniman Riyanto Artuwaga menyajikan optimisme sekaligus perenungan lewat lukisan berjudul "BATU". Melalui sapuan warna akrilik di atas kanvas, ia menegaskan pentingnya menjaga identitas dan sisa-sisa kelestarian yang ada. "Ini bukan akhir dari Batu di antara batu, batuan ini adalah masa depan Batu," tulis Riyanto.

Pameran bersama yang dibuka setiap hari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB ini melibatkan puluhan seniman lintas generasi, di antaranya A. Rokhim, Abdul Sukur, Adi Gimble, Ahmad Saihu, Akhmad Kholili (Benol), Anwar, Didik Hamdi, Djoeari Soebardja, Dwi Christanto, Eko Paparo-ck, Faal Jagra, Fadjar Djunaedi, Halim Abdul, Jumali Kerto, Luluk Agustina, Marseilina Ade-line, M. Taufik, M. Yunus, Naorra Delatista, O'ing Muzakki, Prie Wahyuono, Riyanto Sinyo, Sho-likin Robot, Soegiono, Sugeng Mulyadi, Sugeng Pribadi Klemin, Sujono Djonet, Yusfianto, hingga Zhirenk.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya pondok seni batu galeri raos pameran seni like a rolling stone kota batu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana