JATIMTIMES - Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM) memulai rangkaian workshop batik bagi pemula sebagai upaya memperluas regenerasi perajin di Kota Malang. Kegiatan perdana digelar di Kantor Kecamatan Blimbing, Minggu (12/7), dengan melibatkan 30 peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh kelurahan di wilayah tersebut.
Workshop ini menjadi pembuka program bertajuk Mencanting Bareng yang akan digelar bergiliran di seluruh kecamatan menjelang peringatan Hari Batik Nasional 2026. Peserta diperkenalkan pada teknik dasar membatik sekaligus mendapat pendampingan secara langsung selama proses pelatihan.
Baca Juga : Garuda Indonesia Ubah Sistem Bagasi Mulai 1 September, Berikut Aturan Terbarunya
Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan APBKM, Yuharsita, mengatakan program tersebut dirancang untuk menjaring pembatik baru sekaligus memperluas ekosistem batik di Kota Malang.
"Kami ingin setiap kecamatan memiliki bibit-bibit pembatik baru. Semakin banyak masyarakat yang bisa membatik, maka semakin kuat pula identitas batik Kota Malang sebagai warisan budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat," ujarnya.
Menurut Yuharsita, keberlanjutan batik tidak cukup hanya bergantung pada perajin yang sudah ada. Karena itu, pelatihan menyasar masyarakat umum agar muncul generasi baru yang memiliki keterampilan membatik.
Ia juga mendorong penggunaan batik karya perajin lokal agar produk yang dihasilkan memiliki pasar yang lebih luas.
"Sudah saatnya kelurahan, sekolah, kantor kecamatan, hingga seluruh perangkat pemerintah menggunakan batik karya perajin Kota Malang. Kabupaten Malang telah membuktikan bahwa keberpihakan pemerintah mampu menggerakkan ekonomi para perajin. Kami berharap Kota Malang dapat mengadopsi kebijakan serupa sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," katanya.
Selama pelatihan, peserta didampingi Winner Putra Putri Batik Kota Malang, Apriliana Nurlatifah Ula dari Universitas Negeri Malang dan Moh. Abdul Wasil dari Politeknik Negeri Malang. Tiga finalis Putra Putri Batik Kota Malang lainnya juga turut mendampingi sekaligus mengenalkan batik khas Kota Malang kepada peserta.
Baca Juga : Malang Fashion Runway 2026 Hadirkan 53 Desainer, MATOS Perkuat Industri Fashion Nasional
Ketua APBKM, Isa Wahyudi atau Ki Demang, menyebut hingga 2026 asosiasi telah menghimpun 98 perajin batik. Mereka tersebar di sejumlah wilayah dengan tiga sentra utama, yakni Sentra Batik Sukun, Sentra Batik Bunul, dan Sentra Batik Sawojajar, sementara Sentra Batik Arjowinangun masih dalam tahap perintisan.
"Batik tidak hanya berbicara tentang kain, tetapi juga identitas, kreativitas, dan masa depan ekonomi masyarakat. Karena itu, APBKM terus membangun regenerasi melalui pelatihan di setiap kecamatan agar semakin banyak warga yang mampu membatik dan bangga memakai karya daerahnya sendiri," ujar Ki Demang.
APBKM juga mengumumkan akan menggelar peringatan Hari Batik Nasional 2026 pada 4 Oktober mendatang di Alun-Alun Kota Malang bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya.
Agenda tersebut akan diisi dengan kegiatan membatik bersama, pameran batik, fashion show, cosplay batik, peluncuran buku batik, hingga peluncuran motif batik khas Kota Malang.
