JATIMTIMES - Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan video satir yang menyoroti fenomena mahalnya harga tiket konser di Indonesia. Video yang diunggah akun Threads dan Instagram milik edukator keuangan @tjoenghan*** itu menjadi perbincangan karena mengangkat dugaan praktik promotor yang sengaja memanfaatkan fenomena fear of missing out (FOMO) demi meraup keuntungan lebih besar.
Perlu digarisbawahi, isi video tersebut merupakan konten satire atau parodi. Tidak ada bukti maupun tuduhan yang ditujukan kepada promotor konser tertentu. Meski demikian, narasi yang disampaikan memantik diskusi di kalangan warganet mengenai transparansi penjualan tiket konser mahal di Indonesia.
Baca Juga : Rekomendasi Wisata Air di Surabaya, dari Danau hingga Sungai di Tengah Kota
Dalam video itu digambarkan percakapan fiktif antara seorang bos promotor dan bawahannya. Sang bos mengklaim server penjualan tiket sengaja dibuat bermasalah agar publik mengira antusiasme pembelian sangat tinggi.
"Server down itu emang sengaja gua suruh tim IT buat nyambut kabelnya bentar. Biar kesannya dramatis aja, seolah-olah antusiasme konser ini membeludak." ungkap akun tersebut.
Tak berhenti di situ, video tersebut juga menggambarkan skenario bahwa tiket VIP justru diborong oleh pihak internal untuk kemudian dijual kembali melalui jalur tidak resmi dengan harga jauh lebih mahal.
"Ya yang beli ya gua sendiri lah. Ngapain gua jual tiket VIP harga 3 juta ke fans miskin kalo tiketnya bisa gua timbun sendiri?" ujarnya.
Dalam dialog itu disebutkan tiket resmi seharga Rp3 juta disebut bisa "digoreng" hingga Rp20 juta melalui agen bayangan atau calo.
"Dengerin ya, kalo gua jual resmi harganya mentok 3 juta, dipotong pajak. Tapi kalo tiketnya gua kasih ke agen-agen bayangan gua buat dijual lagi di Twitter atau depan venue, harganya bisa gua goreng jadi 20 juta, bebas pajak, cuan masuk kantong pribadi." tambahnya.
Video tersebut juga menyindir fenomena calo yang kerap ditemui di depan pintu menjelang konser. "Eh, itu tim marketing underground kita bro. Mereka kerja pake target." ujarnya.
Bagian yang paling banyak dikutip warganet adalah kalimat yang menyinggung psikologi FOMO dalam penjualan tiket konser.
"Tangisan mereka itu adalah musik terindah buat rekening gua. Di dunia ini gak ada komoditas yang lebih mahal dari FOMO. Semakin susah tiketnya dicari, semakin buta huruf mereka liat harga." ungkapnya.
Baca Juga : Update Piala Dunia 2026: Mesir Lolos Dramatis, Ini Daftar 14 Tim Lolos ke 16 Besar
Di akhir video, muncul dialog yang menyebut para penggemar sebenarnya bukan sedang berebut tiket melawan bot, melainkan melawan pihak penyelenggara sendiri.
"Anjir, orang-orang pada war tiket ngelawan bot. Padahal aslinya mereka lagi war ngelawan yang punya acara. Ya iyalah." katanya.
Video satir tersebut kembali menjadi sorotan lantaran harga tiket konser yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai informasi, tiket konser termahal yang pernah dijual secara resmi oleh promotor di Indonesia tercatat pada konser Celine Dion tahun 2018. Saat itu kategori Diamond dibanderol hingga Rp25 juta.
Nominal serupa juga pernah diterapkan pada konser David Foster, dengan tiket VIP mencapai Rp25 juta.
Sementara itu, pada konser Coldplay di Indonesia tahun 2023, kategori Ultimate Experience yang secara resmi dijual sekitar Rp13,2 juta sempat diperjualbelikan kembali di pasar sekunder dengan harga yang dilaporkan mencapai sekitar Rp60 juta.
