Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Gen Z dengan Label Kutu Loncat Pada Dunia Kerja, Begini Kata Pakar Manajemen

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

21 - Jun - 2026, 17:13

Placeholder
Ilustrasi Gen Z yang kerap jadi kutu loncat dalam dunia kerja (ist)

JATIMTIMES - Fenomena tingginya angka perpindahan kerja di kalangan Generasi Z kerap memunculkan cap negatif sebagai generasi yang tidak loyal terhadap perusahaan. Namun, pandangan tersebut dinilai terlalu menyederhanakan persoalan. Di balik keputusan mereka untuk berpindah pekerjaan, terdapat perubahan cara pandang yang cukup mendasar mengenai arti bekerja dan membangun karier.

Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) salah satu kampus ternama di Malang, Kenny Roz S.Kom., M.M., menilai kebiasaan Gen Z berganti pekerjaan lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap dunia kerja dibanding sekadar rendahnya loyalitas.

Baca Juga : Pimpin Ziarah Nasional Haul Bung Karno, Wali Kota Blitar: Bung Karno Tokoh Dunia Berpengaruh

Menurut Kenny, generasi muda saat ini tidak lagi memandang pekerjaan semata sebagai sumber penghasilan jangka panjang. Mereka lebih melihatnya sebagai ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi diri. Perubahan cara pandang ini membuat mereka lebih kritis dalam menilai apakah sebuah perusahaan mampu memenuhi kebutuhan pengembangan karier yang mereka harapkan.

“Faktor utama yang membuat mereka lebih rentan resign adalah ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas kerja. Karena mereka terbiasa memperoleh informasi secara instan, ketika perusahaan tidak memberikan ruang berkembang atau visi misinya tidak sejalan, mereka tidak ragu mencari peluang lain yang dirasa lebih pas,” ujar Kenny belum lama ini.

Pandangan tersebut ternyata sejalan dengan tren global. Survei Deloitte Global 2025 terhadap 23.482 responden Gen Z dan milenial di 44 negara menunjukkan bahwa generasi muda kini lebih mengutamakan peluang pengembangan diri, keseimbangan hidup, serta makna dalam pekerjaan dibanding sekadar mengejar jabatan atau pendapatan tinggi. Bahkan, empat dari sepuluh responden Gen Z mengaku berencana meninggalkan pekerjaannya dalam dua tahun ke depan karena faktor burnout, kesehatan mental, dan kebutuhan akan lingkungan kerja yang lebih mendukung.

Kenny menjelaskan, lingkungan digital yang serba cepat turut membentuk karakter Gen Z dalam mengambil keputusan karier. Informasi mengenai peluang kerja, budaya perusahaan, hingga pengalaman para pekerja lain dapat diakses dengan mudah. Kondisi ini membuat mereka lebih berani mengambil langkah ketika merasa tidak menemukan kecocokan di tempat kerja saat ini.

Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa faktor finansial bukan lagi satu-satunya pertimbangan utama dalam mempertahankan karyawan muda. Jika pada generasi sebelumnya gaji sering menjadi alasan utama untuk bertahan, Gen Z justru menempatkan berbagai aspek lain dalam pertimbangan yang sama pentingnya.

“Kini mereka tidak hanya bertanya soal besaran gaji, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memberikan kesempatan berkembang, memiliki makna, dan membuat mereka merasa dihargai sebagai individu seutuhnya,” katanya.

Ia menambahkan, banyak talenta muda yang bahkan bersedia menerima kompensasi lebih rendah selama mereka bekerja di lingkungan yang sehat, suportif, dan bebas dari budaya kerja yang toksik.

Baca Juga : Di Selamatan Akbar Haul Bung Karno, Wali Kota Blitar Ajak Lanjutkan Api Perjuangan Sang Proklamator

Temuan Deloitte juga memperkuat kecenderungan tersebut. Kesempatan belajar dan pengembangan karier masuk dalam faktor utama yang dipertimbangkan Gen Z saat memilih tempat bekerja. Sebanyak 70 persen responden mengaku secara aktif meningkatkan keterampilan mereka setiap pekan demi mendukung perkembangan karier jangka panjang.

Perubahan pola pikir tenaga kerja muda ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Strategi retensi yang selama ini mengandalkan jenjang karier formal atau insentif finansial dinilai tidak lagi cukup untuk mempertahankan karyawan dari generasi terbaru tersebut.

Kenny menilai perusahaan perlu membangun jembatan komunikasi yang lebih efektif antara pemimpin senior dan Gen Z. Jika kalangan manajemen masih cenderung mengedepankan hierarki dan senioritas, maka generasi muda justru lebih menyukai transparansi, keterbukaan, budaya kerja inklusif, serta kesempatan berkolaborasi secara aktif.

“Perusahaan yang berhasil mempertahankan talenta Gen Z bukanlah yang sekadar menawarkan gaji tertinggi, tetapi yang mampu mendengarkan kebutuhan karyawannya secara proaktif. Perusahaan harus bisa menciptakan lingkungan kerja yang menghargai manusia sebagai aset utama melalui survei kepuasan maupun kanal dialog yang aman,” tegasnya.

Karena itu, label "kutu loncat" yang selama ini melekat pada Gen Z dinilai perlu ditinjau ulang. Tingginya mobilitas karier generasi muda dapat dibaca sebagai sinyal bahwa dunia industri sedang menghadapi tuntutan perubahan budaya kerja. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan tenaga kerja modern berpeluang lebih besar mempertahankan talenta terbaik sekaligus membangun organisasi yang produktif dan inovatif di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.


Topik

Peristiwa Generasi z Kenny roz pindah kerja dunia kerja



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya