JATIMTIMES - Keterlibatan relawan dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menjadi bagian dari operasi penyelamatan tiga pendaki yang dilaporkan tersesat di kawasan selatan Gunung Semeru. Bersama Basarnas, tim SAR, komunitas pecinta alam, dan warga setempat, relawan Unikama turut memperkuat upaya pencarian hingga proses evakuasi korban yang berlangsung di medan ekstrem.
Ketiga pendaki tersebut diketahui melakukan pendakian melalui jalur selatan Gunung Semeru yang tidak resmi pada Sabtu, 31 Mei 2026. Saat perjalanan turun, mereka kehilangan orientasi arah dan tidak lagi berada di jalur yang seharusnya dilalui. Upaya mencari jalan keluar dengan mengikuti aliran sungai justru membawa mereka ke kawasan jurang curam sehingga ketiganya terjebak dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Harapan muncul setelah salah satu pendaki berhasil memperoleh sinyal telepon seluler dan mengirimkan titik koordinat lokasi kepada keluarganya. Informasi tersebut segera diteruskan kepada jaringan relawan dan otoritas penyelamat yang kemudian melakukan respons cepat pada Rabu (10/6) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
Baca Juga : Harga Emas Antam di Jawa Timur Turun hingga Rp 20.000, Ini Alasannya
Menindaklanjuti laporan tersebut, berbagai unsur penyelamat bergerak menuju wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang. Dalam operasi tersebut, Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Whisnucitra (HIMPA) Unikama turut ambil bagian dengan mengirimkan salah satu anggotanya, Ahmad Mukyidin Ali Lala atau Kalit, untuk bergabung di posko utama dan membantu koordinasi bersama Basarnas serta unsur SAR lainnya.
"Sebagai bagian dari HIMPA Unikama, kami turut berpartisipasi dalam operasi kemanusiaan ini bersama Basarnas, tim SAR, relawan, dan masyarakat. Keselamatan korban menjadi prioritas utama, sehingga seluruh unsur yang terlibat berupaya memberikan dukungan terbaik hingga proses evakuasi berhasil dilakukan," ujar Kalit.

Keikutsertaan HIMPA Unikama menunjukkan komitmen mahasiswa pecinta alam dalam mendukung operasi kemanusiaan, khususnya pada kondisi darurat di kawasan pegunungan. Kehadiran relawan dari kalangan mahasiswa menjadi tambahan kekuatan dalam proses pencarian yang membutuhkan koordinasi lintas unsur dan kemampuan lapangan yang memadai.
Di lapangan, warga setempat juga memainkan peran penting dalam mempercepat penanganan korban. Selain membantu menemukan lokasi para pendaki, masyarakat sekitar turut menyuplai kebutuhan dasar berupa makanan dan air minum untuk menjaga kondisi fisik korban yang telah bertahan selama beberapa hari di lokasi terpencil.

Proses evakuasi menjadi tantangan tersendiri karena korban berada di area jurang dengan kontur medan yang terjal dan sulit dijangkau. Tim gabungan harus bekerja ekstra hati-hati, terlebih salah satu pendaki mengalami dislokasi tulang akibat terjatuh saat berusaha mencari jalan keluar. Kondisi tersebut membuat proses pemindahan korban harus dilakukan dengan prosedur khusus untuk menghindari cedera yang lebih parah.
Baca Juga : Temui Mahasiswa di Jogja, Bupati Jember Ajak Jadi Duta Wisata dan Promosikan Potensi Jember
Setelah melalui upaya yang berlangsung selama berjam-jam, seluruh pendaki akhirnya berhasil dievakuasi ke lokasi aman dan mendapatkan penanganan lebih lanjut. Keberhasilan operasi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara tim penyelamat profesional, relawan pecinta alam, mahasiswa, dan masyarakat memiliki peran besar dalam penanganan situasi darurat di kawasan pegunungan.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi para pendaki untuk selalu menggunakan jalur resmi dan mematuhi prosedur keselamatan. Selain meminimalkan risiko tersesat, kepatuhan terhadap aturan pendakian juga akan memudahkan proses pencarian dan penyelamatan apabila terjadi kondisi darurat di lapangan.
