JATIMTIMES - Kreativitas sineas lokal Kabupaten Situbondo kembali mendapat perhatian. Sebanyak enam judul film karya putra daerah menjalani proses seleksi di KCM Situbondo untuk menentukan satu film terbaik yang akan ditayangkan secara komersial, Minggu (7/6/2026).
Enam film yang masuk tahap kurasi tersebut yakni Tajhin Sorah, Satu Piring Lagi, Tanah dan Ikat, TEK, Lastare, dan Wrapped. Seluruh karya tersebut diputar dalam agenda skrining untuk dinilai kelayakannya sebelum dipilih satu film unggulan.
Baca Juga : Jejak Bung Karno di Kota Pahlawan, Surabaya Hadirkan Pameran "Aku Arek Suroboyo"
Manager KCM Situbondo, Onie, menjelaskan bahwa proses skrining dilakukan guna melihat kualitas karya para sineas lokal sebelum diputuskan film mana yang paling layak tayang di bioskop secara komersial.
“Hari ini kita skrining dulu, kita ingin melihat karya mereka sebelum ditayangkan secara komersial pada tanggal 13. Ada beberapa film di hari-hari ini yang kita lihat, kemudian dipilih mana yang paling siap dan layak,” ujar Onie.
Menurut Onie, keenam film tersebut sebelumnya sempat dipertimbangkan untuk dikemas menjadi satu tayangan kompilasi berdurasi sekitar 90 menit. Namun, setelah melalui pembahasan, diputuskan bahwa hanya satu karya terbaik yang akan mendapatkan kesempatan tayang komersial.
Ia menyebut, dukungan terhadap film lokal merupakan bagian dari upaya mendorong perkembangan industri kreatif di Situbondo sekaligus mengangkat karya asli masyarakat daerah. KCM Situbondo, kata dia, memang membuka ruang bagi perfilman lokal selama memenuhi sejumlah syarat tertentu.
“Salah satu tujuannya untuk mewujudkan visi misi Bupati Situbondo, yakni mengangkat karya asli orang Situbondo. Kebetulan program KCM juga mengizinkan penayangan film-film daerah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Onie mengungkapkan bahwa terdapat syarat khusus agar film lokal dapat masuk layar bioskop. Selain lolos sensor, film harus memiliki durasi yang sesuai dan mengangkat unsur khas daerah sebagai identitas utama cerita.
“Harus ada unsur daerah yang ditonjolkan, karena kita ingin menampilkan ciri khas Situbondo. Jadi bukan sekadar film biasa, tetapi juga membawa pesan dan budaya lokal,” imbuhnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada generasi muda Situbondo untuk terus berkarya melalui film dengan mengeksplorasi kekayaan budaya lokal yang masih sangat luas. Menurutnya, potensi cerita dari daerah tidak kalah menarik dibanding film arus utama.
Baca Juga : Jangan Sampai Kena! Ini Rincian Denda Tilang Operasi Patuh 2026, Ada yang Tembus Rp 1 Juta
Sementara itu, Ketua Divisi Cinematography Dewan Kesenian Situbondo, Juliano Sasra Ananta, menilai perkembangan perfilman lokal menunjukkan tren positif. "Dukungan ruang tayang seperti di KCM dinilai menjadi motivasi besar bagi para sineas daerah untuk menghasilkan karya lebih berkualitas," ujarnya.
Senada dengan itu, Legislator Partai Demokrat Situbondo, Janur Sasra Ananda, turut mengapresiasi hadirnya karya-karya sineas lokal yang mulai mendapatkan ruang tayang lebih luas. Menurutnya, pengembangan industri kreatif seperti perfilman dapat menjadi sarana promosi budaya dan potensi wisata Situbondo.
Sutradara film Wrapped, Muhammad Royhan Hariri, mengungkapkan bahwa masih banyak kekayaan budaya Situbondo yang belum terangkat dalam karya film. Salah satunya tradisi Gamelan Mulut atau Tabhuan Colo’k di Kecamatan Panarukan, tradisi masyarakat nelayan saat bulan purnama sembari memperbaiki jala.
“Masih banyak budaya Situbondo yang belum diangkat. Seperti Gamelan Mulut (Tabhuan Colo’k) di Panarukan dan tradisi masyarakat nelayan lainnya yang sebenarnya sangat menarik untuk divisualisasikan,” kata Royhan.
Hal serupa disampaikan Sutradara film Lastare, Uwan Urwan. Ia menyebut sejumlah film karya sineas Situbondo telah meraih prestasi di berbagai festival film. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil menembus festival tingkat internasional.
“Film Tanah dan Ikat pernah meraih penghargaan di Festival Film UNEJ, begitu juga Wrapped. Bahkan Lastare, Wrapped, dan beberapa film lainnya sudah masuk festival internasional,” pungkasnya.
