Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Apakah Muslim yang Bergelimang Dosa Akan Kekal di Neraka?

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

06 - Jun - 2026, 09:39

Placeholder
Ilustrasi apakah seorang pendosa akan abadi di neraka? (Ist)

JATIMTIMES – Pertanyaan mengenai nasib seorang Muslim yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki banyak dosa kerap menjadi perbincangan di kalangan umat Islam. Sebagian orang khawatir bahwa kemaksiatan yang dilakukan sepanjang hidup akan mengantarkannya pada hukuman abadi di neraka. Namun, para ulama menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak sesederhana itu.

Anggota Majelis Tinggi Urusan Islam Mesir, Syekh Khalid Al-Jundi, menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat manusia akan menghadapi proses yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi keimanan dan amal perbuatannya selama hidup di dunia.

Baca Juga : Di Tengah Gejolak Politik, Bani Umayyah Bangun Fondasi Ekonomi Peradaban Islam

Menurutnya, terdapat golongan hamba Allah yang memperoleh kemuliaan luar biasa karena langsung masuk surga tanpa melalui proses hisab dan tanpa merasakan azab sedikit pun. Mereka merupakan orang-orang yang mendapatkan rahmat dan karunia khusus dari Allah SWT.

"Sementara golongan kedua adalah mereka yang akan dihisab atas seluruh amal perbuatannya," ujar Syekh Al-Jundi dalam program La'allahum Yafqahun yang ditayangkan saluran DMC dan dikutip dari Masrawy.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan kelompok yang masuk surga tanpa hisab menunjukkan betapa luasnya kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Untuk menjelaskan hal tersebut, Syekh Al-Jundi mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya ayat 101-102:

"Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka dan mereka kekal dalam kenikmatan yang diinginkan oleh jiwa mereka."

Menurutnya, ayat tersebut menggambarkan adanya hamba-hamba pilihan yang bahkan tidak mendengar suara neraka karena begitu dekatnya mereka dengan rahmat Allah SWT.

Adapun kelompok yang menjalani hisab, lanjut dia, akan diperiksa seluruh amalnya. Dari kelompok ini terdapat orang-orang yang akhirnya mendapatkan balasan berupa siksa neraka akibat dosa-dosa yang mereka lakukan semasa hidup.

Namun demikian, tidak semua penghuni neraka memiliki nasib yang sama. Syekh Al-Jundi membagi mereka menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah orang-orang kafir dan musyrik yang menolak keimanan hingga akhir hayat. Mereka termasuk golongan yang kekal di dalam neraka.

Sementara kelompok kedua adalah kaum mukmin yang masih memiliki tauhid dan keimanan kepada Allah SWT, tetapi semasa hidup melakukan berbagai bentuk kemaksiatan dan belum sempat bertaubat. Mereka dapat menerima hukuman sesuai kadar dosanya, namun tidak akan menetap selamanya di dalam neraka.

Penjelasan tersebut menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa siapa pun yang masuk neraka tidak akan pernah keluar darinya. Menurut Syekh Al-Jundi, pandangan seperti itu justru berpotensi menimbulkan keputusasaan terhadap rahmat Allah SWT dan tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

"Seorang Muslim yang masih memiliki iman dan tauhid, meskipun disiksa karena dosa-dosanya, tidak akan kekal di dalam neraka," tegasnya.

Baca Juga : Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Memerangi Korupsi, Menjaga Amanah Warisan Rasulullah

Untuk memperkuat pendapatnya, ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Hud ayat 106-107:

"Adapun orang-orang yang celaka, maka tempatnya di dalam neraka. Mereka mengeluarkan dan menarik napas dengan merintih di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki."

Syekh Al-Jundi menjelaskan bahwa frasa "kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain" menjadi salah satu dalil penting yang menunjukkan adanya kehendak Allah untuk mengeluarkan sebagian penghuni neraka dari tempat tersebut. Mereka adalah orang-orang bertauhid yang memiliki dosa besar, tetapi tidak kehilangan keimanan.

Pandangan ini, kata dia, juga diperkuat oleh banyak hadis Nabi Muhammad SAW serta menjadi pendapat yang dipegang mayoritas ulama Ahlusunah. Para sahabat dan tabi'in pun memahami bahwa rahmat Allah SWT tetap terbuka bagi kaum mukmin yang berdosa.

Dalam sejumlah hadis sahih disebutkan bahwa syafaat akan diberikan kepada sebagian umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki keimanan, meskipun mereka pernah terjatuh dalam berbagai dosa. Syafaat tersebut menjadi salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang masih menyimpan iman di dalam hati.

Meski demikian, Syekh Al-Jundi mengingatkan bahwa pemahaman mengenai keluarnya sebagian orang dari neraka tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa. Setiap kemaksiatan tetap memiliki konsekuensi dan seorang Muslim dapat menghadapi azab sesuai kadar kesalahannya apabila meninggal sebelum bertaubat.

Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan antara rasa takut terhadap hukuman Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya. Seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari azab, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari ampunan Tuhan.

Selama seseorang masih meyakini dan mengikrarkan kalimat La ilaha illallah dengan keimanan yang benar, maka pintu rahmat Allah tetap terbuka baginya. Setelah menerima balasan atas dosa-dosanya sesuai kehendak Allah SWT, tempat kembali terakhir bagi orang-orang beriman adalah surga.


Topik

Agama dosa neraka surga berita agama



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana