JATIMTIMES - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan kemunculan bibit siklon tropis 92W di wilayah Samudra Pasifik, tepatnya di sebelah utara Papua. Fenomena ini terjadi di tengah masa peralihan sebagian wilayah Indonesia menuju musim kemarau pada Mei 2026.
Dalam keterangan resminya yang disampaikan melalui media sosial @infobmkg pada Selasa (5/5/2026), BMKG menyebut bibit siklon tersebut mulai terdeteksi sejak 4 Mei 2026 pukul 01.00 WIB dan berada dalam wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta.
Baca Juga : Kemiskinan RI World Bank 68% vs BPS 8%, Kenapa Bisa Jomplang? Ini Penjelasan Pakar UGM
“Bibit Siklon Tropis 92W mulai terbentuk pada 04 Mei 2026 pukul 01.00 WIB di dalam wilayah monitoring TCWC Jakarta,” tulis BMKG.
BMKG menjelaskan, posisi sistem cuaca ini berada di sekitar Samudra Pasifik utara Papua dan berpotensi bergerak ke arah barat. Meski peluang berkembang menjadi siklon tropis dalam waktu dekat masih tergolong rendah, masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampaknya.
“Posisi berada di sekitar Samudra Pasifik utara Papua. Dalam 24 jam ke depan peluang Bibit Siklon Tropis 92W untuk berkembang menjadi siklon tropis rendah dan bergerak ke arah barat,” lanjut BMKG.
Adapun dampak tidak langsung yang perlu diantisipasi meliputi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang, serta gelombang laut yang berpotensi tinggi di sejumlah wilayah perairan.
“Dampak tidak langsung dalam 24 jam ke depan hingga 06 Mei 2026 pukul 07.00 WIB berupa hujan sedang hingga lebat, angin kencang, gelombang laut tinggi,” tulis BMKG.
Seiring dengan kemunculan bibit siklon tersebut, Indonesia juga mulai memasuki musim kemarau secara bertahap. Berdasarkan buku “Prediksi Musim Kemarau 2026” yang dirilis BMKG, sebanyak 184 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai mengalami kemarau pada Mei 2026.
Wilayah yang diprediksi lebih awal memasuki kemarau antara lain Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Lampung. Sebagian besar Pulau Jawa juga diperkirakan mulai mengalami kondisi serupa.
Baca Juga : Perjuangan untuk Kembali Bangkit, Madrasah Mathla’ul Ihsan di Situbondo Tersendat Ijin dan Sarana Prasarana
Selain itu, Bali bagian tengah, sebagian Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah bagian tenggara, Kalimantan Selatan bagian barat, serta Sulawesi Selatan bagian barat juga masuk dalam daftar wilayah awal kemarau. Di kawasan timur Indonesia, beberapa wilayah Maluku dan Papua turut mengalami pergeseran musim.
Secara umum, BMKG memperkirakan awal musim kemarau 2026 berlangsung bertahap dari April hingga Juni, dengan dominasi terjadi pada Mei. Dari sisi sifat musim, kondisi tahun ini diprediksi lebih kering dari normal dengan curah hujan di bawah rata-rata.
Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, dengan durasi yang berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi biasanya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang beraktivitas di wilayah rawan cuaca ekstrem.
