Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Lingkungan

Ecopark Joko Pangon Disiapkan Jadi Habitat Baru Burung Blekok: Hutan Kota Baru di Blitar

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

22 - Apr - 2026, 14:49

Placeholder
Tampak kawasan Ecopark Joko Pangon di Kelurahan Gedog, Kota Blitar. Ruang terbuka hijau ini disiapkan Pemerintah Kota Blitar sebagai hutan kota baru sekaligus kawasan rekreasi dan edukasi lingkungan.(Foto: Bagian Umum Setda Kota Blitar)

JATIMTIMES – Pemerintah Kota Blitar menegaskan penataan burung blekok di kawasan Alun-Alun Kota Blitar dilakukan melalui pendekatan humanis dan ramah lingkungan. Burung-burung yang selama ini banyak bertengger di pepohonan sekitar alun-alun bukan diusir, melainkan diarahkan berpindah ke habitat yang lebih sesuai. Salah satu kawasan yang disiapkan ialah Ecopark Joko Pangon sebagai hutan kota baru.

Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin atau yang akrab disapa Mas Ibin mengatakan, penggunaan istilah “mengusir” tidak tepat untuk menggambarkan langkah yang diambil pemerintah. Menurut dia, tujuan utama kebijakan tersebut adalah menata keseimbangan antara ruang hidup satwa dan kenyamanan masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas publik.

Baca Juga : Unisba Blitar Akan Gelar Rector’s Cup 2026, Turnamen Mobile Legends Jadi Ajang Prestasi Pelajar Blitar Raya

“Ya, sebenarnya diksi mengusir itu kurang tepat. Masyarakat pada umumnya menginginkan bahwa burung-burung yang ada di sini berpindah. Jadi bukan diusir, tetapi berpindah ke tempat yang lebih sesuai,” ujarnya, Minggu (19/4/2026). 

Alun-Alun Diprioritaskan untuk Aktivitas Warga

Mas Ibin menjelaskan, alun-alun merupakan ruang terbuka yang disiapkan untuk kepentingan masyarakat. Kawasan itu setiap hari digunakan warga untuk berolahraga, bersantai, bermain bersama keluarga, hingga menjadi pusat kegiatan publik seperti Car Free Day.

Karena itu, kebersihan kawasan menjadi perhatian pemerintah. Selama ini, keberadaan burung blekok dalam jumlah besar di sejumlah pohon beringin menimbulkan persoalan berupa kotoran burung yang jatuh di area pedestrian, bangku taman, kendaraan parkir, dan ruas jalan di sekitar alun-alun.

“Fasilitas alun-alun ini sebenarnya kita gunakan untuk fasilitas masyarakat, tempat beraktivitas masyarakat. Coba lihat, meskipun baru disapu, selalu kotor lagi. Masyarakat tentu tidak nyaman kalau kondisinya seperti itu,” katanya.

Ia mengajak masyarakat melihat persoalan itu secara utuh. Menurut dia, keindahan burung yang hinggap di pepohonan tidak bisa dipisahkan dari dampak yang dirasakan warga yang setiap hari beraktivitas di bawahnya.

“Saya mengajak para pecinta burung untuk nongkrong di sini. Kalau nongkrong di sini kan merasakan. Jadi kalau melihat cuma dari segi estetikanya dari luar dan tidak pernah merasakan langsung, itu tidak fair,” ujarnya.

Ibin

Penataan Habitat Secara Humanis

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Blitar memilih metode sederhana melalui alat tradisional berupa bunyi-bunyian dari kaleng atau komplong. Selain efektif, penggunaan alat ini juga nyaris tanpa biaya atau nol rupiah karena memanfaatkan bahan sederhana yang mudah diperoleh. Perangkat tersebut dipasang di beberapa titik untuk menimbulkan suara yang mendorong burung berpindah secara alami.

“Untuk alatnya kami masih menggunakan tradisional. Karena sifatnya kami persuasi. Kami persuasi, jadi kami pasang bunyi-bunyian,” kata Mas Ibin.

Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin melakukan tindakan yang melukai satwa. Penataan dilakukan dengan cara yang wajar dan beradab, agar kebutuhan warga terpenuhi tanpa mengorbankan lingkungan.

“Walaupun ini untuk masyarakat, kami ingin memindahkan burung dengan cara yang lazim. Dengan tidak menyakiti, dengan tidak membunuh,” tegasnya.

Pendekatan persuasif tersebut dinilai menjadi solusi seimbang antara kepentingan publik dan pelestarian ekosistem perkotaan.

Hasil Awal Mulai Terlihat

Upaya penataan itu mulai menunjukkan hasil. Mas Ibin menyebut kawasan sisi selatan alun-alun yang sebelumnya dipenuhi burung blekok kini jauh lebih lengang dibanding sebelumnya.

“Dulu di sana ramai sekali burungnya, di alun-alun selatan. Sekarang alhamdulillah sudah tidak ada, sepi,” ujarnya.

Selain alat bunyi-bunyian, meningkatnya aktivitas masyarakat seperti Car Free Day dan kegiatan olahraga juga ikut mendorong burung mencari lokasi lain yang lebih tenang.

Baca Juga : 10 SD Terbaik di Indonesia, Dua dari Kota Malang

“Kemudian juga setiap hari dibuat CFD ramai. Mungkin burungnya dangdutan itu capek juga, akhirnya pindah juga,” ucapnya sambil tersenyum.

Pemkot Blitar, lanjut dia, akan terus mengevaluasi titik-titik lain, termasuk kawasan sisi utara alun-alun, agar penanganan berjalan merata dan tetap mengedepankan metode humanis.

Ecopark Joko Pangon Disiapkan Jadi Hutan Kota Baru

Mas Ibin menuturkan, Kota Blitar memiliki sejumlah kawasan hijau yang lebih layak menjadi habitat burung blekok. Salah satu lokasi yang dinilai ideal ialah Ecopark Joko Pangon di Kelurahan Gedog.

Kawasan tersebut memiliki banyak pepohonan besar, suasana lebih tenang, serta lingkungan yang lebih alami dibanding area padat aktivitas seperti alun-alun. Selain itu, Ecopark juga telah dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau terpadu yang menggabungkan fungsi rekreasi, edukasi, dan pelestarian lingkungan.

“Masih banyak tempat, seperti hutan kota di Ecopark Joko Pangon, banyak pohon-pohon besar. Di pinggiran kota juga masih banyak pepohonan. Itu bisa ditempati burung-burung,” katanya.

Ecopark Joko Pangon dikenal sebagai destinasi hijau baru di Kota Blitar. Selain menghadirkan udara segar dan aneka tumbuhan penyeimbang ekosistem, kawasan itu juga dilengkapi area rekreasi keluarga serta penangkaran rusa. Letaknya yang berdekatan dengan Bumi Perkemahan Gedog menjadikan kawasan tersebut potensial sebagai paru-paru kota sekaligus tujuan wisata edukatif.

Mas Ibin meyakini burung blekok akan lebih nyaman menempati kawasan seperti itu.

“Saya yakin para burung nanti akan nyaman di sekitar hutan kota, di sekitar pohon-pohon yang ada di kota juga masih banyak. Yang penting tidak di fasilitas umum yang banyak dikunjungi masyarakat,” ujarnya.

Joko pangon

Kota Bersih, Lingkungan Tetap Terjaga

Mas Ibin menambahkan, kota yang baik bukan hanya indah dipandang, tetapi juga nyaman digunakan masyarakat. Ruang publik harus dapat diakses tanpa gangguan kebersihan maupun risiko kesehatan.

Ia mencontohkan, selama ini kendaraan warga yang parkir di sekitar alun-alun kerap terkena kotoran burung. Hal serupa juga dialami pejalan kaki yang melintas di kawasan tersebut.

“Banyak juga mobil-mobil parkir di jalan itu selalu kena kotoran burung. Jadi ini alun-alun memang kita gunakan untuk fasilitas masyarakat berkumpul, berolahraga, supaya tidak terdampak kotoran burung,” katanya.

Langkah Pemkot Blitar ini menunjukkan bahwa penataan kota dapat dilakukan secara bijak: menjaga kenyamanan warga tanpa mengabaikan keberadaan satwa. Dengan menata habitat burung blekok ke kawasan yang lebih baik seperti Ecopark Joko Pangon, pemerintah berupaya menghadirkan alun-alun yang lebih bersih sekaligus memperkuat hutan kota baru yang ramah lingkungan.


Topik

Lingkungan blitar syauqul muhibbin mas ibin ecopark joko pangon burung blekok



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri

Lingkungan

Artikel terkait di Lingkungan