JATIMTIMES - Amerika Serikat dan Iran kembali melanjutkan upaya diplomasi melalui putaran kedua negosiasi yang dijadwalkan berlangsung paling cepat pada Kamis, 16 April 2026. Pertemuan ini digelar setelah pembicaraan pertama yang berlangsung pada 11 April lalu di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Fokus utama dalam perundingan ini adalah meredakan ketegangan terkait isu nuklir Iran serta konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Aksi Kencang Pebalap Astra Honda Taklukkan Podium ARRC Sepang
Pihak Gedung Putih menyatakan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan dalam perundingan lanjutan ini.
“Diskusi tersebut sedang berlangsung dan kami merasa optimistis tentang prospek kesepakatan,” ujar Sekretaris Pers Karoline Leavitt kepada wartawan, dikutip dari AFP, Kamis (16/4/2026).
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan konflik bersenjata dengan Amerika Serikat. Ia menyebut Iran lebih memilih jalur dialog untuk menyelesaikan ketegangan yang ada.
“Iran tidak menginginkan perang atau ketidakstabilan dan selalu mendorong dialog serta kerja sama konstruktif dengan negara lain,” tulis Pezeshkian melalui akun Telegram resminya, seperti dikutip Tass.
Meski begitu, ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan dari pihak manapun.
“Setiap upaya untuk memaksakan kehendak terhadap Iran dan membuatnya menyerah pasti akan gagal. Rakyat Iran tidak akan pernah menerima pendekatan seperti itu,” tegasnya.
Dalam pernyataan lainnya, Pezeshkian turut menyoroti isu kemanusiaan di tengah konflik yang berlangsung. Ia mempertanyakan legitimasi serangan terhadap warga sipil, termasuk anak-anak serta fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit.
“Apa pembenaran yang ada dalam menargetkan warga sipil dan menghancurkan pusat-pusat vital dalam kerangka hukum internasional dan prinsip kemanusiaan?” ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera.
Sebelumnya, negosiasi putaran pertama yang digelar di Islamabad pada Sabtu (11/4) berlangsung alot hingga dini hari tanpa menghasilkan kesepakatan. Sejumlah isu krusial menjadi penghambat utama dalam pembicaraan tersebut.
Baca Juga : Gagah Berseragam Loreng, Ketua DPRD Jatim Musyafak Jalani Retret di Akmil Magelang
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, yang memimpin delegasi AS, mengakui belum adanya titik temu dalam perundingan awal itu.
“Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu lebih merugikan Iran daripada AS,” kata Vance kepada wartawan sebelum meninggalkan Islamabad, dikutip dari Reuters.
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah menyampaikan secara jelas batasan dan posisi Amerika Serikat dalam negosiasi tersebut.
Meski putaran pertama berakhir tanpa hasil, kedua negara masih membuka peluang untuk melanjutkan dialog. Bahkan, ada pertimbangan untuk menggelar putaran tambahan sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir pada 21 April 2026, atau memperpanjang periode tersebut.
Seorang sumber senior dari Iran menyebutkan bahwa jadwal pertemuan belum ditetapkan secara pasti. Namun, delegasi dari kedua negara dikabarkan telah mengosongkan agenda antara Jumat hingga Minggu untuk kemungkinan perundingan lanjutan, seperti dilaporkan Reuters.
Dengan situasi yang masih dinamis, negosiasi putaran kedua ini menjadi momentum penting bagi kedua negara dalam menentukan arah hubungan ke depan, sekaligus meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
