Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Mengungkap Tradisi Marapu di Pulau Sumba: Jenazah Disimpan Lama di Rumah dan Tetap Dihormati Layaknya Hidup

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

25 - Mar - 2026, 20:06

Placeholder
Jenazah yang diletakkan di dalam rumah. (Foto: tangkapan layar Instagram)

JATIMTIMES - Fenomena budaya yang jarang ditemui di berbagai belahan dunia ini masih hidup dan dijaga kuat oleh masyarakat di Pulau Sumba. Melalui unggahan seorang kreator konten  asal Bali, Lady Quinn, publik diajak melihat langsung bagaimana tradisi pemakaman khas masyarakat penganut kepercayaan Marapu dijalankan dengan penuh penghormatan.

Dalam video yang dibagikan, Lady Quinn lewat Instagram-nya memperlihatkan kondisi tak biasa, yakni jenazah seorang pria yang merupakan ayah dari pemilik rumah masih disemayamkan di dalam rumah selama lebih dari satu bulan sejak wafat pada 26 Februari 2026. Jenazah tersebut berada di ruangan yang sama dengan aktivitas keluarga sehari-hari, mulai dari makan hingga beristirahat tanpa menimbulkan rasa takut atau ketidaknyamanan.

Baca Juga : Demokrat Buka Suara soal Kehadiran Anies di Halalbihalal SBY, Datang Tanpa Undangan? 

Secara fisik, jenazah tampak telah mengalami perubahan seperti kulit yang mulai membiru dan posisi tubuh terlipat menyerupai bayi di dalam rahim. Namun, hal yang paling mengejutkan adalah tidak adanya aroma menyengat yang biasanya muncul dari jenazah.

“Jujur aku masih nggak percaya bisa menyaksikan hal ini dengan mata kepala aku sendiri. Bahkan aku masih tidak percaya bagaimana jenazah ini sama sekali nggak mengeluarkan aroma,” ungkap Lady Quinn dalam videonya.

Tradisi ini bukan tanpa alasan. Dalam budaya Marapu, jenazah tidak dianggap langsung pergi, namun masih menjadi bagian dari keluarga hingga seluruh rangkaian upacara adat selesai dilaksanakan. Selama masa tersebut, jenazah diperlakukan layaknya anggota keluarga yang masih hidup diajak berbicara setiap hari, bahkan secara simbolis tetap diberi makan.

“Selama beliau berada di sini, beliau akan diperlakukan seperti anggota keluarga yang masih hidup. Diajak berbicara setiap harinya, bahkan beliau tetap diberi makan secara tidak langsung,” imbuh Lady Quinn.

Untuk menjaga kondisi jenazah, tubuh mendiang dibalut dengan puluhan hingga ratusan lembar kain tenun khas Sumba Timur. Kain tersebut telah melalui doa khusus dan dipercaya mampu menetralisir aroma serta memperlambat proses pembusukan.

“Kain ini bukan kain sembarangan. Pewarnanya dari bahan alami dan motifnya punya makna tertentu sesuai status sosial keluarga,” jelasnya.

Baca Juga : Hari Pertama Kerja, Wali Kota Wahyu Hidayat Tak Beri Toleransi ASN Bolos

Selain sebagai bagian dari ritual, kain tenun juga menjadi simbol status sosial. Nilainya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per lembar, tergantung kualitas dan filosofi motif yang digunakan.

Setelah seluruh rangkaian upacara adat dan persembahan terpenuhi, jenazah dimakamkan di kuburan keluarga yang biasanya berada di depan rumah, berdampingan dengan anggota keluarga yang telah lebih dulu wafat.

Lady Quinn pun mengaku pengalaman tersebut menjadi momen yang membekas dan membuka perspektif baru tentang cara masyarakat memaknai kematian.

“Ini benar-benar menambah kekaguman aku terhadap keajaiban adat dan tradisi dari Tanah Marapu,” tutupnya.


Topik

Serba Serbi Marapu Sumba Tradisi Marapu jenazah disimpan di rumah jenazah dianggap hidup



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy