Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Kuliner

Kue Ladu Khas Batu Laris Manis Selama Ramadan, Faktor Cuaca Hambat Proses Produksi

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

04 - Mar - 2026, 12:46

Placeholder
Proses produksi jajanan khas Desa Gunungsari ladu. (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Ramadan membawa berkah bagi para perajin ladu di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Permintaan jajanan ikonik berbahan dasar beras ketan ini melonjak tajam menjelang Lebaran. Namun di tengah lonjakan pesanan, para perajin justru dihadapkan pada tantangan cuaca yang tak menentu, yang menghambat proses produksi tradisional mereka.

Salah satu perajin, Muhammad Mubin (52) mengaku, memasuki Ramadan, lonjakan permintaan terjadi sangat signifikan dibandingkan bulan-bulan biasa. Produknya bisa mencapai 1 ton.

Baca Juga : Harga Cabai Masih Pedas, Wali Kota Malang Kunjungi Petani Siapkan Antisipasi

“Kalau hari biasa produksi hanya untuk stok pasar sekitar sini. Tapi begitu masuk Ramadan, pesanan bisa melonjak drastis. Dalam satu musim bisa sampai 5 kuintal bahkan mendekati 1 ton,” ungkap Mubin, Rabu (4/3/2026).

Untuk memenuhi permintaan tersebut, kapasitas produksi pun ditingkatkan. Jika biasanya bekerja dalam ritme normal, saat Ramadan Mubin dan keluarganya harus berjibaku dari pagi hingga malam hari.

“Kami mulai dari pagi, lanjut siang, kadang sampai malam supaya semua pesanan terpenuhi tepat waktu. Apalagi menjelang Lebaran, biasanya makin padat,” imbuh Mubin.

Dalam sehari, sekitar 30 kilogram beras ketan diolah menjadi adonan ladu. Seluruh proses masih dilakukan secara tradisional, mulai dari pengolahan bahan, pencetakan, hingga tahap pengeringan.

Mubin dibantu oleh istri, anak, dan beberapa anggota keluarga lain untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas. Meski permintaan tinggi, proses produksi tidak selalu berjalan mulus.

Faktor cuaca menjadi tantangan utama, terutama pada tahap pengeringan yang masih mengandalkan panas matahari. Melihat dalam beberapa hari terakhir cuaca kerapa mendung hingga hujan.

Baca Juga : 54 PMI Asal Jombang Masih Berada di Timur Tengah, Disnaker Pasang Kontak Darurat

“Kendala terbesar itu cuaca. Ladu harus benar-benar kering sebelum masuk oven. Kalau masih lembap, hasilnya kurang bagus dan bisa memengaruhi rasa serta daya tahannya,” tambah Mubin.

Saat cuaca mendung atau hujan turun, proses pengeringan memakan waktu lebih lama. Kondisi ini otomatis memperlambat siklus produksi, sementara pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah seperti Kediri, Jombang, Surabaya, Jakarta, hingga sejumlah toko oleh-oleh di Malang Raya.

Meski dihadapkan pada tantangan cuaca dan lonjakan permintaan, Mubin tetap berkomitmen mempertahankan cara produksi tradisional. Baginya, cita rasa autentik ladu adalah alasan utama pelanggan terus kembali setiap Ramadan.

“Alhamdulillah sampai sekarang pelanggan tetap setia. Kami hanya berusaha menjaga kualitas dan rasa supaya tetap sama seperti dulu,” tutup Mubin.


Topik

Kuliner Kue Ladu Kuliner Khas Batu Ramadan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni