JATIMTIMES - Di antara berjejer pameran UMKM, ada pemandangan seorang pria bernama Jonathan Heber Bravo Tambunan dengan tangan lihainya memegang kuas bergerak lincah di atas permukaan kain. Kuas yang dipegangnya menari cepat, memindahkan imajinasi menjadi gambar penuh warna.
Siapa sangka, remaja 18 tahun yang akrab disapa Jojo itu merupakan penyandang tuna rungu yang menapaki dunia seni lukis. Jojo yang merupakan siswa kelas XII di SLB ABD Kedungkandang, sudah mengenal dunia lukis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Baca Juga : Kolaborasi Global Fapet Unisma dan Perusahaan Belanda Percepat Lompatan Menuju Kampus Bertaraf Dunia
Bakat itu terus tumbuh hingga kini, bahkan karya-karyanya tak hanya hadir di atas kanvas, tetapi juga merambah media lain seperti tas, topi, hingga pakaian.
Ibunda Jojo, Agustin Fitri Astuti, mengatakan kecintaan putranya pada seni tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak kecil. Kegemarannya di dunia seni lukis terus diasah.
“Kalau mulai suka melukisnya dari kecil, terus sampai sekarang saya buatkan sanggar di rumah. Jadi ada anak-anak TK dan SD juga yang ikut les di sini,” kata Agustin, Minggu (22/2/2026).
Awalnya, sanggar tersebut dibuat bukan untuk umum, melainkan sebagai ruang belajar Jono yang saat itu sering berlatih melukis sendirian di rumah.
“Sebenarnya dulu nggak sengaja bikin. Karena dia belajar melukis sejak SD, saya panggilkan guru ke rumah. Lama-lama mungkin dia bosan nggak punya teman, akhirnya dibuatkan tempat supaya dia semangat,” imbuh Agustin.
Seiring waktu, karya Jojo mulai dikenal. Informasi tentang kemampuannya menyebar dari mulut ke mulut hingga rumahnya kini juga menjadi tempat belajar seni bagi anak-anak lain, meski Jojo sendiri masih fokus sebagai pelajar.

Menurut Agustin, karakter lukisan Jonathan memiliki ciri khas yang berbeda dan mudah dikenali.
“Dia punya karakter sendiri. Jadi orang kalau melihat pasti tahu, oh ini lukisannya Jojo. Bentuknya itu beda,” terangnya.
Dalam dua tahun terakhir, Jonathan mulai mengembangkan karyanya ke dunia fashion. Ia melukis langsung di atas baju, menggabungkan seni lukis dengan desain busana agar karyanya bisa dinikmati lebih luas.
“Saya berpikir kalau lukisan hanya di kanvas kan cuma dipajang di rumah. Jadi saya arahkan ke fashion biar bisa dipakai orang,” kata Agustin.
Motif yang dibuat pun beragam, mulai dari topeng Malangan, burung, hingga ilustrasi bebas sesuai suasana hati Jojo. Namun, ada satu ciri khas yang selalu dipertahankan, yakni penggunaan kain ulos, sebagai identitas budaya Batak yang melekat pada dirinya.
“Kalau brand-nya Jojo pasti ada ulosnya. Biar orang tahu ini karya Jojo,” ujarnya.
Meski masih berstatus pelajar, karya Jonathan telah dipamerkan di berbagai kesempatan dan dipasarkan melalui pameran UMKM hingga hotel di Kota Malang. Bahkan, beberapa lukisannya pernah dibeli kolektor dan dipajang di ruang publik.
Agustin mengaku bangga dengan perjalanan putranya. Ia percaya, keterbatasan pendengaran bukan penghalang bagi Jonathan untuk berkarya.
“Karena terbiasa dari kecil, akhirnya dia mencintai bidangnya. Saya nggak punya keturunan seniman, tapi bakat itu bisa dibentuk,” terangnya.
Kini, selain melukis, Jojo juga mulai tertarik pada desain grafis dan komik, bahkan pernah menjurai pada perlombaan. Sang ibu berharap, ke depan putranya dapat terus mengembangkan potensinya dan semakin percaya diri menunjukkan karyanya kepada dunia.
