Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ekonomi

Kemiskinan Turun tapi Garis Kemiskinan Naik: Tekanan Daya Beli Masih Terasa di Jatim

Penulis : Muhammad Choirul Anwar - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

19 - Feb - 2026, 21:08

Placeholder
Perkembangan kemiskinan penduduk Jatim. (BPS Jatim)

JATIMTIMES — Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) menyebut, persentase penduduk miskin di Jatim mengalami penurunan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin Jatim tercatat 9,30 persen.

"Persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 9,30 persen, menurun 0,20 persen poin dibandingkan Maret 2025," kata Plt. Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati.

Baca Juga : Libur Panjang Imlek 2026, Hampir 38 Ribu Penumpang Padati Stasiun Malang

Herum menjelaskan bahwa penurunan kemiskinan terjadi di tengah dinamika harga dan pertumbuhan ekonomi yang tetap bergerak. Jumlah penduduk miskin juga menyusut 71,59 ribu orang menjadi 3,804 juta orang.

Namun di saat yang sama, Garis Kemiskinan (GK) justru naik 4,84 persen menjadi Rp585.020 per kapita per bulan. Kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan biaya hidup yang tetap harus diwaspadai.

Kenaikan garis kemiskinan berarti ambang batas minimum kebutuhan hidup meningkat. Secara rata-rata, garis kemiskinan per rumah tangga miskin pada September 2025 mencapai Rp2.538.987 per bulan, naik 7,31 persen dibandingkan Maret 2025 sebesar Rp2.366.043.

Komponen makanan masih mendominasi pembentuk garis kemiskinan, dengan kontribusi 76,46 persen. Beras menjadi penyumbang terbesar, yakni 23,08 persen di perkotaan dan 24,32 persen di perdesaan. Rokok kretek filter menjadi kontributor kedua terbesar, masing-masing 8,52 persen dan 8,56 persen.

Dominasi kebutuhan pangan menunjukkan bahwa fluktuasi harga bahan pokok memiliki dampak langsung terhadap risiko kemiskinan.

Di sisi lain, indikator kualitas kemiskinan menunjukkan perbaikan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,414 menjadi 1,286. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga turun dari 0,294 menjadi 0,262.

Baca Juga : Komisi E DPRD Jatim Usul Skema Talangan untuk Reaktivasi 1,48 Juta Peserta BPJS PBI

Artinya, rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin mengecil, dan ketimpangan pengeluaran di antara kelompok miskin juga menurun.

Penurunan kemiskinan terjadi seiring pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,22 persen (y-on-y) pada Triwulan III-2025, pertumbuhan konsumsi rumah tangga 4,91 persen, serta penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 3,88 persen. Nilai Tukar Petani (NTP) juga meningkat menjadi 115,05.

Meski demikian, kenaikan garis kemiskinan menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap menghadapi tekanan biaya hidup. Dengan kata lain, perbaikan angka kemiskinan berjalan berdampingan dengan meningkatnya standar minimum kebutuhan hidup.

Situasi ini mengindikasikan bahwa upaya pengurangan kemiskinan ke depan tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada stabilitas harga dan penguatan daya beli rumah tangga.


Topik

Ekonomi BPS Jatim Kemiskinan Garis Kemiskinan Daya Beli Jatim



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Muhammad Choirul Anwar

Editor

Sri Kurnia Mahiruni