JATIMTIMES - Niat jadi syarat wajib dalam puasa Ramadan. Para ulama dari empat mazhab sepakat soal itu. Namun, ada perbedaan pendapat soal teknisnya, apakah niat harus diulang setiap malam atau cukup sekali di awal bulan?
Menurut tiga mazhab selain Malikiyyah, niat puasa Ramadan wajib diperbarui setiap malam. Sementara mazhab Maliki berpendapat, niat bisa dikumpulkan (jama’) untuk satu bulan penuh pada malam pertama Ramadan dan tidak wajib diulang setiap hari.
Baca Juga : Doa Menyambut Ramadan 2026 Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Pendapat mazhab Maliki ini cukup dikenal di Indonesia. Meski mayoritas Muslim Indonesia mengikuti mazhab Syafi’i, dalam praktik niat puasa sebulan, banyak kiai dan masyayikh membimbing jamaah untuk mengikuti pendapat Imam Malik pada malam pertama Ramadan.
Tak jarang, di malam awal Ramadan, jamaah di masjid dan musala dipandu bersama-sama membaca niat puasa sebulan penuh.
Namun, hal ini bukan berarti niat harian ditinggalkan. Umat tetap dianjurkan berniat setiap malam, biasanya selepas tarawih atau saat sahur. Niat sebulan itu dimaksudkan sebagai langkah berjaga-jaga jika suatu hari lupa berniat. Dengan begitu, puasanya tetap sah karena sudah dicukupi niat di awal bulan.
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, almarhum KH A Idris Marzuqi dalam kitab Sabil al-Huda menjelaskan: “Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan Ramadhan berniat taqlid (mengikut) pada Imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadhan hanya pada permulaan saja. Dan adanya cara tersebut bukan berarti membuat kita tidak perlu lagi niat di setiap harinya, tetapi cukup hanya sebagai jalan keluar ketika benar-benar lupa,” (KH. A. Idris Marzuqi, Sabil al-Huda, hal. 51).
Berikut lafaz niat puasa Ramadan sebulan penuh sebagaimana dicontohkan dalam kitab tersebut:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah.”
Sesuai mazhab Syafi’i, niat tetap dibaca setiap malam di bulan Ramadan. Biasanya dilakukan setelah salat tarawih atau ketika makan sahur.
Berikut bacaan niat puasa Ramadan harian:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”
Bagaimana Jika Tidak Puasa di Hari Pertama?
Pertanyaan kerap muncul ketika seseorang tidak bisa berpuasa di hari pertama Ramadan, misalnya karena haid. Apakah tetap boleh berniat puasa sebulan penuh versi mazhab Maliki ketika sudah bisa mulai puasa di hari kedua atau berikutnya?
Baca Juga : Mengapa Rakaat Salat Tarawih NU dan Muhammadiyah Berbeda? Ini Alasannya
Untuk menjawabnya, perlu memahami dasar pendapat Malikiyyah. Para fuqaha Maliki menjelaskan bahwa puasa Ramadan selama sebulan dihukumi sebagai satu kesatuan. Karena itu, satu niat di awal sudah mencakup keseluruhan, sebab puasa Ramadan wajib dilakukan terus-menerus tanpa jeda.
Mazhab Maliki membedakan antara puasa yang wajib berurutan tanpa jeda, seperti Ramadan, dan puasa yang boleh terpisah-pisah, seperti qadha Ramadan.
Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi menjelaskan:
ـ (وكفت نية لما يجب تتابعه) اللخمي: أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه.
“Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya.”
Ia juga mengutip pendapat Ibnu Rusydi:
ابن رشد: وأما ما كان من الصيام يجوز تفريقه كقضاء رمضان وصيامه في السفر وكفارة اليمين وفدية الأذى فالأظهر من الخلاف إذا نوى متابعة ذلك أن تجزئه نية واحدة يكون حكمها باقيا وإن زال عينها ما لم يقطعها بنية الفطر عامدا، وأما ما لم ينو متابعته من ذلك فلا خلاف أن عليه تجديد النية لكل يوم.
“Ibnu Rusydi berkata, adapun puasa yang boleh dipisah seperti qadha Ramadhan, puasa Ramadhan saat bepergian, denda sumpah, fidyah al-adza (denda bagi orang ihram yang melanggar keharaman saat ihram), maka pendapat yang jelas dari ikhtilaf ulama bahwa bila ia bermaksud melakukan puasa tersebut secara terus-menerus, maka mencukupi baginya satu niat, hukum satu niat tersebut akan menetap meski hilang sosoknya selama tidak diputus dengan niat berbuka puasa secara sengaja. Adapun orang yang tidak berniat melakukannya secara terus-menerus, maka tidak ada ikhtilaf bahwa ia berkewajiban untuk memperbarui niat di setiap harinya” (al-Taj wa al-Iklil, juz 3, hal. 338).
Dari penjelasan tersebut, seseorang yang baru bisa mulai puasa di hari kedua, ketiga, atau seterusnya tetap diperbolehkan membaca niat puasa sebulan penuh mengikuti mazhab Maliki. Sebab seluruh hari di bulan Ramadan dipandang sebagai satu rangkaian ibadah.
Meski begitu, niat harian tetap dianjurkan untuk dibaca setiap malam. Niat sebulan hanya sebagai bentuk kehati-hatian jika suatu saat lupa.
Semoga penjelasan ini membantu dan kita semua diberi kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini.
