Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Kenapa Imlek Sering Turun Hujan di Indonesia? Ini Penjelasan Ilmiah dan Makna di Baliknya

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

14 - Feb - 2026, 18:33

Placeholder
Ilustrasi imlek. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Perayaan Tahun Baru Imlek atau Xinjia pada 2026 akan segera tiba dan tahun ini jatuh pada Selasa, 17 Februari. Bagi masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, Imlek bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender lunar, tetapi juga momen refleksi, berkumpul bersama keluarga, hingga memanjatkan doa untuk harapan baru.

Menariknya, ada satu hal yang hampir selalu terasa akrab setiap Imlek tiba di Indonesia yakni hujan. Banyak orang bahkan berseloroh bahwa Imlek identik dengan langit mendung dan rintik yang turun sejak pagi. Lalu, apakah ini hanya kebetulan, atau memang ada alasan di baliknya?

Baca Juga : Peringati Haul ke-77 Tan Malaka, Puluhan Mahasiswa dan Masyarakat Gelar Refleksi ‘Madilog’ di Pusara Selopagung

Secara Ilmiah, Imlek Memang Bertepatan dengan Puncak Musim Hujan

Secara kalender, Tahun Baru Imlek selalu jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Di Indonesia, periode tersebut dikenal sebagai puncak musim hujan.

Menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bulan Januari dan Februari termasuk dalam periode dengan curah hujan yang relatif tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh angin muson barat yang membawa uap air dari Samudra Hindia dan wilayah perairan sekitar Indonesia.

Ketika angin lembap tersebut bertemu dengan kondisi atmosfer yang mendukung, terbentuklah awan hujan dalam skala luas. Itulah sebabnya, pada awal tahun, intensitas hujan cenderung meningkat, baik dalam bentuk hujan ringan hingga hujan lebat.

Penjelasan serupa juga disampaikan dalam informasi yang dilansir dari laman Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Disebutkan bahwa momen Imlek sering kali berada di tengah periode musim penghujan, sehingga peluang terjadinya hujan memang lebih besar dibanding bulan-bulan lain.

Dengan kata lain, jika saat Imlek turun hujan, hal itu merupakan bagian dari pola iklim tahunan Indonesia, bukan fenomena khusus yang hanya terjadi saat perayaan tersebut.

Mengapa Rasanya “Selalu” Hujan Saat Imlek?

Secara statistik, memang tidak setiap Imlek selalu diguyur hujan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, karena perayaan ini identik dengan aktivitas di luar rumah seperti berkunjung ke keluarga, sembahyang di kelenteng, hingga pertunjukan barongsai kehadiran hujan menjadi lebih terasa dan lebih diingat.

Faktor psikologis juga berperan. Ketika suatu momen penting berulang kali terjadi dalam kondisi cuaca serupa, ingatan kolektif masyarakat akan menguat. Akhirnya muncul anggapan bahwa “setiap Imlek pasti hujan,” meskipun secara data, hujan juga kerap turun di hari-hari lain pada musim yang sama.

Hujan dalam Kepercayaan dan Tradisi Tionghoa

Di luar penjelasan ilmiah, masyarakat Tionghoa memiliki sudut pandang tersendiri terhadap hujan yang turun saat Imlek.

Dalam tradisi dan pandangan ahli feng shui, air melambangkan rezeki, kelimpahan, dan kehidupan. Hujan yang turun di awal tahun dipercaya sebagai simbol berkah yang mengalir.

Beberapa tafsir yang berkembang di masyarakat antara lain:

• Hujan deras dianggap sebagai pertanda datangnya rezeki besar dan keberuntungan melimpah.

• Hujan gerimis diyakini tetap membawa keberuntungan, meski dalam skala lebih kecil.

Baca Juga : Bupati Sanusi Minta 1.639 CJH Kabupaten Malang Jaga Fisik, Mental hingga Spiritual

Gerimis yang turun sepanjang hari dipercaya sebagai tanda keberkahan yang konsisten sepanjang tahun.

Namun, hujan badai disertai angin kencang sering dimaknai kurang baik, karena bisa melambangkan gangguan atau musibah.

Seperti dijelaskan dalam laporan Antara, terdapat pula mitos tentang turunnya Dewi Kwan Im yang dipercaya menyiram bunga Mei Hwa menjelang Imlek. Hujan dalam kisah ini dipandang sebagai simbol berkah dari langit.

Dewi Kwan Im dikenal sebagai sosok yang melambangkan welas asih dan perlindungan. Sementara bunga Mei Hwa, yang mekar di musim dingin, menjadi simbol keteguhan, harapan, dan awal yang baru. Kisah ini memperkuat keyakinan bahwa hujan di hari Imlek bukanlah sesuatu yang perlu dikeluhkan, melainkan disyukuri.

Perpaduan Antara Sains dan Keyakinan

Fenomena hujan saat Imlek pada akhirnya memperlihatkan bagaimana sains dan budaya berjalan berdampingan. Dari sisi meteorologi, hujan adalah konsekuensi logis dari musim penghujan di Indonesia. Dari sisi budaya, hujan dimaknai sebagai simbol keberuntungan dan doa yang turun bersama rintiknya.

Kedua sudut pandang ini tidak perlu dipertentangkan. Justru di situlah keunikan Imlek di Indonesia: tradisi Tionghoa yang berpadu dengan karakter iklim tropis Nusantara.

Maka jika pada 17 Februari 2026 nanti langit kembali mendung dan hujan turun saat perayaan berlangsung, tak perlu heran. Secara ilmiah itu wajar, dan secara tradisi, banyak yang meyakini itu adalah tanda baik untuk mengawali tahun yang baru dengan penuh harapan.


Topik

Serba Serbi imlek hujan penjelasan ilmiah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri