Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Batoro Katong dan Babad Alas Pacitan: Jejak Islamisasi di Selatan Jawa

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

01 - Feb - 2026, 10:57

Placeholder
Ilustrasi perdesaan Pacitan abad ke-15. Rumah-rumah kayu sederhana berdiri di tepi ladang yang mulai digarap, merekam suasana awal dakwah Islam yang tumbuh dari ruang-ruang desa, tenang, membumi, dan menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat pedalaman Jawa.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Sejarah selalu bergerak di antara fakta dan narasi. Apa yang tercatat dalam naskah babad, hikayat, atau tutur lisan tidak sekadar memotret realitas masa lalu, melainkan juga membangun ingatan kolektif suatu masyarakat. Pacitan, sebuah wilayah di pesisir selatan Jawa yang kini dikenal dengan lanskap karst dan budaya religiusnya, memiliki jejak sejarah panjang yang berkelindan dengan proses islamisasi dan dinamika politik pasca runtuhnya Majapahit.

Artikel ini mencoba mengurai kisah awal mula berdirinya desa-desa di Pacitan, tokoh-tokoh perintisnya, serta pergulatan ideologis yang melingkupi proses islamisasi Jawa abad ke-15 dan ke-16. Dengan pendekatan historiografi kritis, kita akan menelusuri peran Panembahan Batoro Katong, adipati Ponorogo sekaligus saudara tiri Raden Patah dari Demak, serta para kiai perintis seperti Kiai Siti Geseng (Kiai Petung), Syekh Maulana Maghribi, Kiai Ampokbaya, dan Kiai Buwono Keling.

Desa islam pacitan

Batoro Katong dan Warisan Majapahit

Nama Batoro Katong menempati posisi sentral dalam narasi Islamisasi kawasan barat daya Jawa, bukan semata sebagai tokoh dakwah, melainkan sebagai perintis kekuasaan politik Islam di pedalaman. Babadé Nagara Patjitan menyebutnya sebagai putra Prabu Brawijaya V (Sri Prabu Kertawijaya), raja Majapahit yang bertakhta sekitar 1447–1451, dari seorang perempuan yang dalam berbagai tradisi disebut berasal dari Ponorogo atau Wengker. Silsilah ini menempatkan Batoro Katong sebagai figur transisi: pewaris darah rajawi Majapahit sekaligus pembawa mandat Islam pada masa runtuhnya dunia lama.

Baca Juga : Cuaca Ekstrem Melanda Jatim hingga 10 Februari, Ini Wilayah yang Diprediksi Terdampak

Dalam babad-babad Jawa, Batoro Katong juga disebut sebagai saudara tiri Raden Patah, Sultan Demak pertama, yang lebih dahulu memeluk Islam dan tampil sebagai simbol kebangkitan kekuasaan Islam pesisir. Setelah kemunduran Majapahit, Batoro Katong meninggalkan lingkungan istana, memeluk Islam, dan bergerak ke pedalaman Jawa Timur. 

Di wilayah Wengker—yang kelak dikenal sebagai Ponorogo—ia tidak sekadar menetap, tetapi mulai membangun sebuah pemerintahan baru. Dari daerah yang membentang dari hutan lebat hingga pesisir selatan, ia membuka pemukiman, menata penduduk, dan meletakkan dasar-dasar negara agraris Islam di pedalaman.

Dokumen babad dan tradisi lokal mencatat bahwa sejak awal, Islamisasi di Ponorogo berjalan seiring dengan pembentukan struktur politik. Batoro Katong bertindak bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, melainkan sebagai adipati dengan mandat negara. Proses dakwah tidak dipisahkan dari penataan wilayah, pembukaan hutan, pengaturan tanah, serta pembentukan loyalitas penduduk terhadap pusat kekuasaan baru. Karena itu, kisah Batoro Katong selalu memantulkan kompleksitas transisi dari Majapahit ke Demak: perjumpaan antara perebutan legitimasi politik dan strategi penyebaran agama.

Setelah menerima Islam, Batoro Katong membuka hutan belantara yang kemudian berkembang menjadi pusat pemukiman Ponorogo. Dari wilayah yang sebelumnya nyaris tanpa struktur pemerintahan terpusat, ia membangun perdesaan yang cepat tumbuh menjadi makmur. Penduduk dari berbagai penjuru berdatangan, sebagian besar menerima Islam dan mengikatkan diri pada otoritas baru yang menjanjikan keamanan dan kesejahteraan. Dalam konteks inilah Batoro Katong diangkat sebagai adipati, sebuah pengakuan formal atas kekuasaannya sebagai penguasa wilayah pedalaman yang strategis.

Pada masa itu, wilayah Ponorogo masih dikenal sebagai Wengker, dengan batas timur Gunung Wilis, selatan Laut Selatan, barat Gunung Lawu, dan utara Pegunungan Kendeng. Penegasan batas wilayah ini penting, sebab dalam historiografi Jawa klasik, ruang tidak sekadar dipahami secara geografis, tetapi juga sebagai simbol politik. Penguasaan wilayah menandai beralihnya dominasi dari tatanan lama Majapahit menuju kekuasaan Islam yang baru tumbuh.

Nama muda Batoro Katong dikenal sebagai Raden Arak Kali. Menurut tradisi lisan serta catatan abad ke dua puluh yang merekam ingatan kolektif masyarakat Ponorogo, ia diutus oleh Raden Patah ke wilayah barat daya Jawa dengan misi strategis untuk menundukkan Demang Kutu di Desa Kutu yang kini berada di kawasan Singosaren, Jetis. 

Demang Kutu bukan sekadar pejabat bawahan Majapahit, melainkan representasi kuat dunia lama Wengker. Ia dikenal sebagai tokoh kharismatik yang menguasai ilmu kanuragan serta didukung jaringan warok berpakaian hitam dan kelompok gemblak serta jathil yang menjadi inti ritus kesatria dan kebudayaan lokal.

Konflik antara Batoro Katong dan Demang Kutu mencerminkan benturan dua ideologi besar. Di satu sisi, Islam politik membawa legitimasi baru melalui jaringan wali, mandat Demak, dan konsep negara. Di sisi lain, spiritualitas lama Wengker bertumpu pada kesaktian personal, kosmologi agraris, dan otoritas warok. Pertempuran legendaris di Gunung Jimat, yang dalam tradisi dikaitkan dengan hilangnya Demang Kutu dan lahirnya nama Gunung Bacin, menegaskan bahwa konflik ini tidak sekadar militer, melainkan juga sakral dan kosmologis.

Kemenangan Batoro Katong membuka jalan bagi konsolidasi Islam di Ponorogo. Ia menggandeng Kiai Ageng Mirah, ulama keturunan Gresik dan Malang, untuk memperkuat basis dakwah dan legitimasi spiritual pemerintahan. Dari kerja sama inilah lahir jaringan kiai perdikan di Mirah, Golan, dan Tegalsari, yang kelak menjadi fondasi religius Ponorogo. Namun Islamisasi tidak menghapus sepenuhnya jejak dunia lama. Seni pertunjukan Reog Ponorogo, dengan tokoh Singa Barong, warok, dan jathil, merupakan transformasi kebudayaan Wengker ke dalam bingkai politik dan simbolik baru.

Simbol politik Batoro Katong juga mencerminkan kesadaran negara. Gelar Katong, yang berarti raja, menegaskan otonomi dan kedaulatannya di wilayah pedalaman. Para penerusnya menggunakan gelar aristokrat tinggi seperti Panembahan Agung, Pangeran Sepuh, hingga Adipati Anom. Fakta bahwa keturunan Batoro Katong terus memerintah Ponorogo hingga abad ke-19 menunjukkan adanya kontinuitas elite lokal Islam yang berakar pada darah Majapahit, namun beroperasi dalam kerangka negara-negara Islam Jawa seperti Demak, Pajang, dan Mataram.

Ponorogo yang dahulu dikenal sebagai Wengker bukanlah daerah pinggiran tanpa sejarah. Catatan Tiongkok abad ke lima belas menyebut Wengker sebagai wilayah timur Majapahit yang otonom, sejajar dengan Daha di Kediri. Artinya, integrasi Batoro Katong ke Ponorogo juga bermakna pengambilalihan pusat kekuasaan lama untuk diproyeksikan dalam ideologi Islam.

Namun transformasi ini tidak menghapus karakter keras penduduk Ponorogo. Para pengembara Eropa abad kesembilan belas mencatat masyarakat yang lebih berani, lebih kasar, dan lekas menghunus pisau dibanding tetangga mereka di Jawa Tengah. Tradisi pagar batu di sawah, dendam berdarah, hingga budaya warok dan gemblak menggarisbawahi kesinambungan mentalitas frontier sejak masa perang Katong dan Demang Kutu.

Dengan demikian, lahirnya Ponorogo tidak semata hasil ekspansi Demak, melainkan sebuah negosiasi panjang antara politik Islam, spiritualitas Jawa lama, dan identitas lokal Wengker. Batoro Katong sekaligus pemenang dan mediator menjelma figur transisi. Ia adalah pangeran Majapahit yang menjadi raja Ponorogo, penjaga ingatan dendam sejarah, sekaligus pencipta warisan budaya abadi yaitu Reog.

Makam batoro Katong

Pacitan Sebelum Perdesaan: Hutan, Pertapaan, dan Petilasan

Ketika Ponorogo mulai berkembang, wilayah pegunungan di sepanjang pantai selatan yang kini dikenal sebagai Pacitan masih berupa hutan belantara. Lanskapnya dipenuhi perbukitan kapur dengan gua yang kelak menjadi saksi sejarah. Sumber-sumber menyebut sejumlah lokasi penting, seperti Gua Kalak di Belah, Gua Sampura di Tulakan, Gunung Limo di Kebonagung, Astana Gentong, Masjid Manten di pusat kota Pacitan, dan Masjid Tanjung Kidul di Lorog. Petilasan ini menandakan adanya jejak manusia, tetapi mereka bukan petani atau nelayan, melainkan para pertapa yang mencari kesunyian spiritual.

Dengan demikian, Pacitan sebelum abad ke-16 bukanlah wilayah perdesaan yang produktif, melainkan ruang asketis dan penuh misteri. Hutan belantara menjadi metafora sekaligus realitas: tanah yang menunggu ditaklukkan, baik oleh kuasa manusia maupun oleh iman baru yang sedang menyebar dari pesisir utara Jawa.

Petapa pacitan

Kiai Siti Geseng: Dari Ngrejoso ke Luweng Sewu

Setelah kekuasaan Batoro Katong berhasil dikonsolidasikan, Ponorogo memasuki fase pertumbuhan yang pesat dan terstruktur. Babad Ponorogo Jilid II mencatat bahwa sekitar empat puluh keluarga dari Demak secara resmi dipindahkan dan ditempatkan di pusat kadipaten. Mereka berfungsi sebagai inti masyarakat negara baru—bukan sekadar pendatang, melainkan unsur strategis yang membawa pengalaman administrasi, jaringan dagang, serta loyalitas langsung kepada Sultan Demak dan adipatinya di Ponorogo. 

Arus migrasi ini diperkuat oleh kedatangan kelompok penduduk dari Bagelen, wilayah yang dalam tradisi lokal disebut sebagai tanah asal garis ibu Raden Katong, sehingga sejak awal terbentuk ikatan genealogis dan emosional antara penguasa dan rakyatnya.

Selain pendatang dari luar, penduduk dari dusun-dusun sekitar turut bermukim di pusat pemerintahan yang baru. Mereka tertarik oleh jaminan keamanan dan terbukanya peluang ekonomi. Dalam fase ini, Ponorogo ditata sebagai kota benteng. Sungai-sungai yang mengelilingi kota difungsikan sebagai batas alam sekaligus sistem pertahanan, sementara jembatan-jembatan penghubung ditutup setiap malam hari. Praktik ini menunjukkan tingkat kontrol keamanan yang ketat dan mencerminkan kesadaran negara baru terhadap potensi ancaman, baik dari sisa-sisa kekuatan lama maupun dari konflik internal masyarakat pedalaman.

Dalam narasi babad, Ponorogo digambarkan sebagai negeri yang murah sandang dan pangan, sebuah formula klasik dalam historiografi Jawa untuk menandai hadirnya penguasa yang memperoleh legitimasi kosmis. Tanah-tanah yang baru dibuka menghasilkan panen melimpah. Sawah, ladang, dan kebun palawija berkembang pesat. 

Bahasa agraris simbolik digunakan untuk menegaskan kemakmuran tersebut: apa pun yang ditanam tumbuh subur, apa pun yang disebar berlipat ganda. Gambaran ini bukan semata deskripsi ekonomi, melainkan juga legitimasi politik, bahwa pemerintahan Batoro Katong selaras dengan tatanan kosmos dan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Konsolidasi politik dan kemakmuran agraris itu kemudian mendorong perluasan pengaruh Ponorogo ke wilayah sekitarnya, termasuk ke arah selatan. Beberapa tahun setelah Batoro Katong diangkat sebagai Adipati Ponorogo, seorang tokoh dari Demak bernama Kiai Siti Geseng datang menghadap. Ia memohon sebidang hutan untuk dibabat dan dijadikan perdesaan. Permintaan tersebut dikabulkan, menandai dimulainya babak penting islamisasi Pacitan.

Baca Juga : Mulai 1 Februari, Harga Pertamax Resmi Turun! Berikut Daftar Harganya

Bersama istrinya, Kiai Siti Geseng berjalan ke arah selatan, menembus pegunungan, hingga tiba di sebuah lembah yang ia anggap cocok untuk menetap. Di tempat itu ia menancapkan tongkat bambu petung (Dendrocalamus asper), lalu mulai membabat hutan dan mendirikan perdesaan yang kelak dikenal sebagai Desa Ngrejoso. 

Setelah kawasan itu cukup terbuka, ia beristirahat di dekat sebuah mata air dan memanjatkan doa agar keturunannya dapat hidup dan berkembang di tanah tersebut. Lokasi ini kini dikenal sebagai Luweng Sewu, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan.

Tradisi lisan masyarakat setempat menyebut bahwa tongkat bambu yang ditancapkan Kiai Siti Geseng tumbuh menjadi rumpun bambu keramat yang hingga kini tetap hidup, meski hanya terdiri dari dua batang. Setiap kali muncul anakan baru, salah satu batang induknya mati. Fenomena ini dimaknai sebagai tanda kesakralan tempat tersebut. Sejak peristiwa itu, Kiai Siti Geseng lebih dikenal dengan sebutan Kiai Petung.

Kisah ini menegaskan bahwa proses babad alas pada masa awal Ponorogo dan Pacitan tidak semata dipahami sebagai kegiatan ekonomi atau ekspansi wilayah, melainkan juga sebagai peristiwa spiritual. Membuka hutan dimaknai sebagai membuka ruang kehidupan baru melalui doa, laku religius, dan pencarian legitimasi ilahi. Dalam kerangka inilah negara agraris yang dibangun Batoro Katong memperluas pengaruhnya bukan hanya melalui struktur kekuasaan, tetapi juga lewat jaringan spiritual yang mengikat tanah, manusia, dan otoritas dalam satu kesatuan makna.

Siti geseng

Syekh Maulana Maghribi: Jaringan Global di Hutan Duduwan

Tidak lama setelah Kiai Petung, datanglah seorang tokoh lain dari Demak, yakni Syekh Maulana Maghribi. Ia pun menghadap Batoro Katong dan meminta sebidang hutan. Bersama keluarga, ia berjalan ke selatan hingga tiba di sebuah kawasan subur di utara Ngrejoso. Di sana ia mendirikan perdesaan yang kelak bernama Duduwan.

Syekh Maulana Maghribi adalah figur yang menarik. Dalam tradisi Jawa, nama ini muncul di banyak tempat, bahkan makamnya disebut-sebut berada di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa "Maulana Maghribi" mungkin bukan satu individu, melainkan sebuah sebutan bagi kelompok ulama yang berasal dari wilayah Maghrib (Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania). Dalam bahasa Arab, al-Maghrib berarti barat, tempat matahari terbenam. Dengan demikian, jaringan islamisasi di Jawa bukan hanya domestik, tetapi juga terhubung dengan dunia Islam global.

Syekh Maulana Maghribi kemudian menjalin hubungan erat dengan Kiai Petung. Keduanya saling mengunjungi, berbincang tentang cara menyebarkan Islam, dan membangun solidaritas spiritual. Inilah benih awal terbentuknya komunitas Muslim di Pacitan: sebuah jaringan kecil, tapi berakar kuat pada visi dakwah dan solidaritas keilmuan.

Maulana maghribi

Kiai Ampokbaya dan Ménak Sopal: Babad Alas Posong dan Trenggalek

Setelah Syekh Maulana Maghribi, datang lagi dua tokoh: Kiai Ampokbaya dan Ménak Sopal. Mereka pun mendapat restu Batoro Katong untuk memilih hutan. Ménak Sopal memilih arah tenggara, sedangkan Ampokbaya menuju barat daya.

Ménak Sopal akhirnya menetap di sebuah kawasan yang kelak dikenal sebagai Trenggalek, sementara Kiai Ampokbaya memilih hutan di barat laut Ngrejoso dan membuka desa yang dinamai Posong. Dari titik ini kita melihat pola yang berulang: para perantau Muslim dari Demak membabat hutan, mendirikan perdesaan, lalu mengislamkan masyarakat sekitarnya.

Namun kisah Ampokbaya memuat intrik historiografis. Ketika ia melihat asap dari arah Ngrejoso, ia menyadari bahwa Kiai Petung sudah lebih dulu membabat hutan. Ada persaingan simbolik tentang siapa yang datang lebih dahulu dan lebih berhak disebut tetua. Ampokbaya bahkan melakukan siasat dengan memindahkan pohon kelapa tua dari Ponorogo ke pekarangannya agar tampak lebih dulu menanam. Tetapi masyarakat tahu, dan upaya itu terbaca sebagai rekayasa.

Intrik kecil ini menyiratkan satu hal bahwa babad alas bukan hanya soal membuka hutan tetapi juga soal legitimasi sosial. Siapa yang lebih dulu siapa yang menanam tanda sakral dan siapa yang diakui masyarakat semuanya membentuk hierarki baru di tanah yang masih muda.

Makam Menak sopal

Kiai Buwono Keling: Pelarian Majapahit dan Jejak Buddha

Tidak semua tokoh pembuka hutan di Pacitan adalah Muslim dari Demak. Gelombang pelarian dari Majapahit yang masih beragama Hindu-Buddha juga turut mewarnai proses awal pembentukan desa-desa. Di antara mereka muncul nama Ki Buwono Keling, seorang tokoh berilmu dan disegani yang membuka hutan di kawasan Desa Jati, timur laut Duduwan. Tradisi lisan menyebutnya sebagai pengayom bagi para pengikutnya yang masih memeluk Buddha.

Namun, keberadaan Ki Buwono Keling sekaligus memperlihatkan bahwa islamisasi Pacitan tidak berlangsung linear. Para penyebar Islam dari jalur Demak, seperti Syekh Maulana Maghribi, Kiai Petung, dan Kiai Posong, memandang perlu mengajak Ki Buwono Keling terlebih dahulu. Pertimbangannya sederhana: jika tokoh yang menjadi panutan umat Buddha ini masuk Islam, maka para pengikutnya akan lebih mudah mengikuti. Sebaliknya, bila ia menolak, dikhawatirkan akan lahir perlawanan yang lebih besar.

Kesepakatan pun diambil. Maulana Maghribi bersama Kiai Petung dan Kiai Posong mendatangi Ki Buwono Keling. Mereka datang dengan membawa serta para pengikut bersenjata, bukan sekadar untuk berdialog, melainkan juga berjaga jika musyawarah gagal. Ketika rombongan itu tiba di Jati, Ki Buwono Keling terperanjat. Ia menegur keras kedatangan mereka, dan perdebatan pun terjadi. Ketegangan berujung pada duel terbuka.

Pertarungan berlangsung sengit. Ki Buwono Keling dikenal memiliki kesaktian tinggi, tubuhnya kebal dari tikaman tombak dan sabetan pedang. Namun, seiring waktu, kekuatan batin dan raganya terkuras. Ia akhirnya roboh, meski tidak serta-merta mati karena diyakini memiliki aji Pancasona, yaitu ilmu kebangkitan yang membuatnya dapat hidup kembali. Menyadari hal itu, Kiai Petung segera memenggal kepala Buwono Keling dan memisahkannya dari tubuh. Kepalanya dikubur di selatan sungai Desa Jati, sedangkan tubuhnya di bagian utara agar tidak mungkin bersatu kembali.

Peristiwa itu mengguncang para pengikutnya. Banyak yang melawan, tetapi akhirnya kalah dan tercerai-berai. Sebagian melarikan diri, sebagian lain menyerah dan kemudian memeluk Islam. Sementara itu, makam Ki Buwono Keling yang terpisah menjadi simbol sekaligus tempat ziarah. Tradisi lisan menyebut bahwa para dalang wayang dan pedagang kerap datang berziarah ke cungkup makamnya. Hingga kini, jejak makamnya masih bisa ditelusuri di Kecamatan Kebonagung, Pacitan, tersebar di beberapa titik: kepala di Dusun Nglaos (Desa Banjarjo), tubuh di Dusun Jati (Desa Purwoasri), dan kaki di Dusun Sampang (Desa Purwoasri).

Kisah tragis Buwono Keling menandai satu bab penting dalam sejarah islamisasi Pacitan. Pertemuan antara Islam dan tradisi lama tidak selalu berlangsung damai; terkadang penuh konflik, bahkan berdarah. Namun, di sisi lain, legenda ini juga mencerminkan pertemuan ideologi, spiritualitas, dan politik di tanah Pacitan: sebuah wilayah yang sejak awal berdiri di persimpangan jalan antara warisan Majapahit dan arus baru Islam dari Demak.

Ki Buwono keling

Catatan Akhir: Batoro Katong dan Misi Islamisasi

Dari rangkaian kisah babad dan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, tampak jelas bahwa misi utama Batoro Katong bukan semata ekspansi politik, melainkan Islamisasi wilayah Jawa bagian barat daya. Ia menempati posisi sentral sebagai figur transisi yang menjembatani runtuhnya tatanan Majapahit dengan bangkitnya kekuasaan Islam Demak. Dalam peran ini, Batoro Katong tidak hanya tampil sebagai adipati Ponorogo, tetapi sebagai pengawal awal perubahan religius dan kultural di kawasan Wengker dan sekitarnya.

Melalui otoritas politik dan restu yang dimilikinya, para kiai perintis seperti Kiai Petung, Syekh Maulana Maghribi, Kiai Ampokbaya, dan Ménak Sopal memperoleh legitimasi untuk membuka hutan, mendirikan permukiman, dan menyebarkan Islam hingga menjangkau wilayah Pacitan. Proses ini menunjukkan bahwa Islamisasi tidak berjalan secara sporadis, melainkan berada dalam kerangka kekuasaan yang terorganisasi dan terlindungi.

Sejarah Pacitan dengan demikian tidak dapat dilepaskan dari peran Batoro Katong. Ia berfungsi sebagai jembatan politik, religius, dan kultural yang memungkinkan Islam berakar secara lebih stabil. Tanpa peran awalnya, kisah para kiai perintis akan berdiri sebagai fragmen terpisah tanpa fondasi legitimasi kekuasaan. Melalui figur Batoro Katong, Islamisasi Pacitan menjadi bagian integral dari dinamika besar transisi Jawa dari Majapahit menuju Demak. Warisan peran tersebut masih hidup hingga kini dalam tradisi, petilasan, dan identitas religius masyarakat Pacitan yang berakar kuat pada sejarah panjang Islamisasi Jawa.


Topik

Serba Serbi batoro katong pacitan sejarah pacitan ponorogo wengker majapahit



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana