JATIMTIMES - Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang Suwadji mengungkapkan dana hibah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Malang di tahun 2026 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan besaran dana hibah pada tahun 2025.
Suwadji menyampaikan, penurunan dana hibah yang diterima KONI Kabupaten Malang pada tahun 2026 disebabkan oleh kebijakan efisiensi anggaran. Di mana kebijakan efisiensi anggaran tersebut berdampak pada semua sektor yang ada di Kabupaten Malang, salah satunya terkait keolahragaan.
Baca Juga : Sambang Kamtibmas, Warga Keluhkan Lampu Merah Dieng ke Kapolresta Malang Kota
Pejabat publik yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang itu menyebut, untuk tahun 2026 ini dana hibah untuk kegiatan keolahragaan di Kabupaten Malang sebesar Rp 1,4 milliar.
"Tahun ini (dana hibah) Rp 1,4 milliar, mengalami penurunan karena ada efisiensi. Tahun sebelumnya Rp 2,5 milliar karena kita juga ada event Porprov Jatim. Tahun 2026 ini dana hibahnya Rp 1,4 milliar yang dibagi Rp 500 juta untuk PSSI Kabupaten Malang dan Rp 900 jutanya untuk KONI," ungkap Suwadji kepada JatimTIMES.com.
Pihaknya menyebut, dana hibah sebesar Rp 900 juta yang diberikan kepada KONI Kabupaten Malang untuk pembinaan 68 cabang olahraga (cabor) harus dimaksimalkan sebaik mungkin. Menurutnya, anggaran yang minimal harus dikelola agar efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan pembinaan cabor serta atlet dapat berjalan dengan lancar.
"Sehingga tidak mengurangi kualitas pembinaan cabor. Tentunya ada hal-hal yang bisa di manage, yang bisa diefisiensi, sehingga tujuannya atau capainnya tidak terkurangi," kata Suwadji.
Suwadji menyebut, Dispora Kabupaten Malang juga telah menjalin komunikasi dengan jajaran fungsionaris KONI Kabupaten Malang untuk merumuskan formula khusus terkait manajemen anggaran yang minimal agar mendaparkan hasil yang maksimal dengan menerapkan manajemen prioritas yang ketat.
"Dengan anggaran Rp 900 juta untuk 68 cabor, Dispora menerapkan manajemen prioritas yang ketat dengan menggunakan data dari program Sportiv Jatim untuk membagi 68 Cabor ke dalam tiga ring," jelas Suwadji.
Pihaknya menyebut, Dispora Kabupaten Malang bersama KONI Kabupaten Malang saat ini tengah menyusun pembagian 68 cabor ke dalam tiga ring. Di antaranya ring satu untuk cabor unggulan yang berpotensi meraih medali; ring dua untuk cabor yang memerlukan pembinaan dan memiliki potensi menengah medali; dan ring tiga untuk cabor yang bisa mandiri.
"Untuk prioritas unggulan itu tentunya dari pengalaman tahun lalu ada beberapa cabor yang berpotensi mendapatkan medali. Seperti dayung, balap motor juga dapat, renang, karate, jadi itu yang berpotensi," ujar Suwadji.
Baca Juga : Pendaftaran SNBP 2026 Resmi Dibuka 3 Februari: Berikut Link, Syarat, Jadwal, dan Alur Lengkapnya
Selain itu, pihaknya juga mendorong ekosistem olahraga di Kabupaten Malang tidak bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Malang. Suwadji menyebut, masing-masing cabor didorong untuk aktif menvari sponsor swasta atau menyelenggarakan event komersial di wilayah Malang Raya untuk menutupi kebutuhan pembinaan.
Kemudian masing-masing cabor juga diminta agar mengoptimalkan fasilitas maupun aset yang dimiliki oleh Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Malang agar dapat digunakan sebagai sarana latihan bagi para atlet unggulan.
"Menjalin kerja sama atau MoU dengan universitas di Malang Raya, sehingga atlet mendapatkan sentuhan sains olahraga secara profesional tanpa beban biaya mahal," kata Suwadji.
Lebih lanjut, dengan anggaran koordinasi sebesar Rp 50 juta, pihaknya memfokuskan diri pada peran regulator seperti jembatan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Forum Komunikasi Cabor. Untuk jembatan CSR, pihaknya mendorong adanya pertemuan antara pimpinan cabor dengan sektor swasta di Kabupaten Malang untuk menjajaki pola Bapak Angkat yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan masing-masing cabor.
Selain itu, program forum komunikasi cabor dengan menyelenggarakan forum koordinasi rutin dan sinkronisasi kalender kegiatan bagi masing-masing cabor bersama KONI Kabupaten Malang dan Dispora Kabupaten Malang penting untuk dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih penggunaan fasilitas maupun anggaran. "Pada prinsipnya, anggaran diarahkan sebagai investasi prestasi atau point gathering, bukan sekadar bantuan operasional rutin," pungkas Suwadji.
