Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

10 Tahun Berkain dengan Cinta, KCBI Malang Raya Dorong Wastra Nusantara Turun ke Kehidupan Sehari-hari

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

31 - Jan - 2026, 16:32

Placeholder
Ketua KCBI Malang Raya, Dra. Siska Sayekti (selendang orange) berfoto bersama para anggota KCBI Malang Raya (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)))

JATIMTIMES - Sepuluh tahun bukan sekadar penanda usia bagi Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Cabang Malang Raya. Di usia satu dekade, komunitas ini menegaskan satu sikap penting: wastra nusantara bukan hanya layak dipamerkan di panggung acara, tetapi harus hidup di tubuh manusia, dipakai harian, dan terasa nyaman.

Semangat itu tercermin dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-10 KCBI Malang Raya yang mengusung tema Malang Kota Bunga Berwastra Nusantara yang digelar dikawasan Joyogrand, Kota Malang, Sabtu, (31/1/2026). Nuansa bunga mendominasi ruang acara, berpadu dengan ragam kain tradisional seperti batik, tenun, hingga tapis. Bukan sekadar estetika, tapi simbol filosofi budaya yang terus tumbuh dan dijahit dengan cinta.

Baca Juga : Jelang Idul Adha, Pemkot Malang Perketat Kewaspadaan PMK meski Dua Kasus Sudah Sembuh

Sekretaris KCBI Malang Raya, Sri Endah Noviani, menyebut peringatan satu dekade ini sebagai momen refleksi sekaligus perayaan kebersamaan lintas generasi dan lintas kain. 

“Hari ini adalah hari ulang tahun ke-10 KCBI Malang Raya. Temanya Malang Kota Bunga Berwastra Nusantara, sehingga semua yang hadir memakai wastra nusantara dengan nuansa bunga. Mulai dari kain tenun, batik, tapis, semuanya benar-benar terasa tradisional dan dijahit dengan rasa,” ujarnya.

Menurut Sri Endah, konsep “berbunga” bukan sekadar dekorasi visual, melainkan pesan simbolik bahwa budaya berkain harus terus mekar di tengah perubahan zaman, tanpa kehilangan akarnya.

1

Ketua KCBI Malang Raya, Dra. Siska Sayekti, menegaskan bahwa perjalanan satu dekade ini dibangun dengan konsistensi dan dedikasi. Ia menyebut KCBI sejak awal memosisikan kain sebagai identitas budaya sekaligus produk ekonomi rakyat.

“Sepuluh tahun itu tidak singkat. Kami bekerja penuh cinta, dedikasi, dan komitmen untuk melestarikan budaya berkain tradisional. Fokus kami pada kain produksi dalam negeri, baik batik, tenun, tapis, dan lainnya, yang dihasilkan UMKM Indonesia,” kata Siska.

Saat ini, KCBI Malang Raya memiliki sekitar 170 anggota, dengan dominasi perempuan. Keterlibatan generasi muda masih menjadi pekerjaan rumah yang terus dikejar.

“Tantangan terbesarnya adalah mengajak anak muda. Kami harus menjelaskan bahwa berkain itu nyaman, tidak ribet, dan bisa dipakai untuk keseharian, bukan hanya acara resmi,” jelasnya.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk tutorial cara berkain praktis untuk aktivitas harian. Siska mengamati perlahan minat generasi muda mulai tumbuh, terutama dalam acara pernikahan dan event kreatif.

“Harapan kami sebenarnya kain itu dipakai setiap hari. Atasan bisa bebas, kaos atau blus, tapi bawahannya kain. Jadi tetap nyaman dan tetap berkain,” tambahnya.

Baca Juga : Pengabdian STIE Malangkucecwara di Pandanajeng: Hijaukan Desa dan Rancang Nilai Tambah Pertanian

Perayaan satu dekade ini juga menjadi bukti kekuatan kolaborasi komunitas. Ketua Panitia HUT ke-10 KCBI Malang Raya, Indry Wahyuni, menekankan bahwa seluruh rangkaian acara lahir dari kerja bersama, tanpa bergantung pada figur luar.

“Semua terselenggara karena dukungan banyak pihak, dari sponsor, tim panitia, hingga komunitas budaya di Malang Raya. Ini benar-benar dari kita untuk kita,” ujarnya.

Indry menjelaskan, acara diisi beragam pertunjukan berbasis kekuatan internal komunitas. Mulai dari sambutan dan arahan pemerintah daerah melalui Kepala Bidang Kebudayaan, tari Nusantara modern, pergelaran busana batik, hingga kolaborasi vokal dan dendang Nusantara.

Lebih dari sekadar ulang tahun, perayaan ini menjadi pernyataan sikap KCBI Malang Raya bahwa budaya tidak cukup disimpan sebagai arsip atau simbol seremoni. Wastra harus turun ke jalan, ke kampus, ke ruang kerja, dan ke kehidupan sehari-hari. 

“Fashion show-nya ada dua, kemudian ada medley suara KCBI. Semua penampil adalah anggota sendiri, termasuk dari Surabaya, Jember, Lombok, dan Bali. Bahkan ada dukungan dari Singapura yang mengirimkan karangan bunga,” pungkasnya.

 


Topik

Peristiwa Kcbi Siska sayekti sri Endah noviani



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya