JATIMTIMES - Musibah yang menimpa seseorang sering dianggap sebagai ujian berat yang sulit diterima. Namun, menurut Syaikh Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaily, imam besar Masjid Nabawi, musibah yang datang dari Allah sejatinya adalah bentuk kebaikan dan kemaslahatan bagi hamba-Nya.
Dalam ceramahnya, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily menjelaskan bahwa ada tiga kemungkinan alasan mengapa seseorang tertimpa musibah. Yaitu sebagai peringatan, penggugur dosa, dan cara Allah meninggikan derajat seseorang di surga.
1. Musibah sebagai Peringatan
Alasan pertama, musibah bisa menjadi peringatan bagi seseorang yang telah lalai dari ketaatan dan jauh dari Allah.
"Alangkah banyaknya hamba yang lalai dari ketaatan dan jauh dari pintu Allah. Akhirnya Allah timpakan musibah kepadanya, diwafatkan anaknya, istrinya, atau kerabatnya. Akhirnya ia ingat dan kembali kepada Allah, dan dia termasuk hamba-Nya yang shalih," ungkap Syaikh Sulaiman, dikutip Instagram Shahih Fiqih, Sabtu (8/3/2025).
Dalam hal ini, musibah berfungsi untuk mengembalikan seseorang ke jalan yang benar, mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan mendorongnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
2. Musibah sebagai Penggugur Dosa
Alasan kedua, musibah bisa menjadi sarana penggugur dosa bagi seorang hamba. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang sahabat:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
"Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?"
Beliau menjawab,
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
"Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa." (HR. Tirmidzi no. 2398, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
Dari hadis ini, dapat dipahami bahwa semakin kuat iman seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan menimpanya. Namun, ujian itu akan menggugurkan dosa-dosanya, hingga ia meninggal dalam keadaan bersih dari kesalahan.
3. Musibah untuk Meninggikan Derajat di Surga
Alasan ketiga, musibah bisa menjadi cara Allah untuk meninggikan derajat seseorang di surga.
"Bisa jadi Allah ingin hamba-Nya tinggi di surga, akhirnya Allah timpakan musibah dan Allah buat dia bersabar, sehingga derajatnya tinggi di surga," jelas Syaikh Sulaiman.
Bersabar dalam menghadapi cobaan merupakan salah satu amalan yang sangat dicintai Allah. Dengan bersabar, seseorang tidak hanya mendapatkan ketenangan di dunia, tetapi juga dinaikkan derajatnya di akhirat kelak.
Itulah 3 alasan mengapa seseorang mendapatkan musibah. Dari ketiga alasan di atas disimpulkan bahwa musibah yang menimpa seseorang bukan sekadar hukuman, melainkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bisa jadi itu adalah peringatan, penggugur dosa, atau cara Allah meninggikan derajat di surga. Semoga informasi ini bermanfaat.
