Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara saat memberikan keterangan kepada awak media. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara saat memberikan keterangan kepada awak media. (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Malang terus melonjak. Pantai dam desa wisata menjadi dua destinasi yang tercatat paling banyak dikunjungi. 

Kondisi alam yang bersahabat dan atraksi serya kesenian dan budaya yang ditawarkan dinilai menjadi salah satu alasan banyaknya kunjungan yang dilakukan di dua kawasan tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara menyampaikan, data terakhir yang ia peroleh hingga semester satu 2018, jumlah wisatawan yang datang ke Kabupaten Malang sudah mencapai lebih dari empat juta dari target tujuh juta wisatawan, baik dari dalam ataupun luar negeri. Kebanyakan pantai dan desa wisata memang masih menjadi primadona bagi para wisatawan.

"Setiap minggu kunjungan ke pantai dan desa wisata pasti selalu ada dengan jumlah yang tak sedikit tentunya," terang Made kepada MalangTIMES.

Alam yang membentang dengan kondisi pantai yang indah dan bersih saat ini banyak digemari oleh turis. Terlebih sebagian besar pantai saat ini pengelolaannya juga semakin apik. Salah satunya dengan mempercantik kawasan dengan beberapa spot foto. Fasilitas di pantai pun semakin memadai dan membuat wisatawan betah berlama-lama.

Sementara untuk desa wisata, dari total 132 kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang dibentuk, saat ini sudah ada sekitar 17 desa wisata yang bisa dikunjungi. Diantaranya adalah Ngadas, Gubuk Klakah, Pujon, Krajan, Mulyorejo, Tumpakrejo, Wringinanom, hingga Purwodadi. Setiap desa wisata itu menawarkan destinasi wisata yang berbeda-beda dengan keunikannya masing-masing.

"Untuk desa wisata selalu kami pantau dan evaluasi. Kami terus berharap mereka terus berlari untuk menjadi desa wisata yang mandiri," terang Made.

Menurut dia, desa wisata dikualifikasikan dalam beberapa tatanan. Dimulai dari desa wisata rintisan, berkembang, maju, dan mandiri. Untuk menjadi desa wisata yang mandiri, salah satu poin terpenting adalah keterlibatan masyarakat itu sendiri dalam mengelola potensi yang ada di desanya. Meliputi homestay, destinasi wisatanya, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan yang ditawarkan.

"Kami selalu memberi contoh keberhasilan sebuah desa wisata. Meliputi perekonomian dan sepak terjangnya. Jika desa yang berpotensi itu mau bergerak dan lari, maka akan kami pantau dan support. Tapi kalau masyarakatnya masih enggan seperti itu, maka akan kami tinggalkan. Karena tumpuan utamanya adalah masyarakat itu sendiri," jelasnya.

Dia pun berharap, masyarakat yang hendak mengembangkan desa wisata tidak terlalu bergantung pada Pemerintah Kabupaten Malang. Sebab, bagaimanapun, pemerintah hanya mampu sebatas memberikan dorongan. Sementara yang menentukan adalah aksi masyarakat sendiri yang berada di lapanga.

"Kamj akan selalu support dan evaluasi. Tapi jangan terlalu bergantung pada pemerintah daerah," pungkasnya. (*)