MALANGTIMES - Kampung preman nyatanya memang tak hanya ada di sinetron dan film saja. Di beberapa kota besar di Indonesia, tentu banyak dikenal perkampungan yang disebut sebagai kampung preman. Alasannya, kawasan tersebut selama ini dihuni oleh pelaku kriminal hingga pemuda yang gemar minum minuman keras.
Baca Juga : Selamat !! Satu Pasien Positif Corona di Lumajang Dinyatakan Sembuh
Pada akhirnya, masyarakat pun enggan untuk masuk ke wilayah yang terkenal akan penduduknya yang garang dan sangar itu. Tapi jangan salah, di beberapa kota besar di Indonesia, setidaknya ada 10 kampung yang kini sukses dan melepas gelarnya sebagai kampung preman.
Ke 10 kampung itu mampu tumbuh dan bertransformasis menjadi daerah baru yang menarik perhatian masyarakat lokal hingga mancanegara. Menariknya, dari 10 daerah tersebut, tiga diantaranya berasal dari Kota Malang dan terbilang paling sukses.
Berikut 10 kampung preman yang kini bertransformasi menjadi kampung wisata yang banyak digemari wisatan di dalam maupun luar negeri.
1. Dusun Ledok Tukangan Yogyakarta
Dusun Ledok Yogyakarta (Liputan6)
Tahun 2000an, dusun yang berada di tengah kota Yogyakarta itu dikenal sebagai kampung preman dan dihuni oleh penduduk yang terkenal garang. Karena saat itu, sebagian penduduknya hanya bekerja serabutan dan tak memiliki pendapatan tetap. Alhasil, penduduk setempat menjadi preman dan sempat melakukan berbagai tindakan kriminal.
Hingga pada akhirnya, kesadaran warga setempat muncul. Himpitan ekonomi lama kelamaan pudar melalui inovasi baru warga yang menjadikan rumah mereka sebagai homestay. Rumah-rumah di perkampungan yang dulunya kumuh itu pun pada akhirnya sering dijadikan tempat menginap oleh para wisatawan lokal maupun asing.
Karena kesuksesan itu, beberapa pihak swasta maupun pemerintah daerah menawarkan berbagai bantuan. Diantaranya menjadikan Dusun Ledok sebagai kampung modern bright gas. Selain itu, kampung juga dipercantik dengan sentuhan mural di berbagai sudut tembok rumah warga.
2. Kampung Lio Genteng, Kota Bandung
Kampung Lio Genteng, Kota Bandung (Pikiran Rakyat)
Sama halnya dengan Dusun Ledok Tukangan, Yogyakarat, Kampung Lio Genteng di Kota Bandung juga dikenal akan kegarangannya. Namun sekarang, image sangar itu sudah hilang seiring berkembangnya Sekolah Ra'jat (SR) Iboe Inggit Garnasih.
Semenjak sekolah tersebut didirikan, kesan seram mulai berangaur hilang dan berubah menjadi keceriaan. Anak-anak yang putus sekolah pun memiliki kesempatan untuk belajar menari dan beragam jenis kesenian dan budaya lainnya.
Dinding yang dulu hanya dipenuhi oleh jemuran yang bergelantungan kini dipercantik dengan lukisan mural yang dibuat sendiri oleh warga setempat. Di sana juga terdapat bendera dari 109 negara peserta KAA dan satu bendera Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB). Ada juga lukisan merpati yang menjadi simbol perdamaian, semangat yang digelorakan para pemimpin bangsa Asia-Afrika dalam konferensi bersejarah di Bandung 63 tahun lalu.
3. Kampung Dadapsari, Kota Solo

Kampung Dadapsari di Kelurahan Sangkrah Kecamatan Pasar Kliwon Kota Solo dulu dikenal sebagai kota preman. Namun lantaran warganya tak terima dicap sebagai kampung preman, akhirnya masyarakat berkreasi dengan membangun rumah baca yang dibuat sederhana di pos ronda.
Awal dibangun, rumah baca sederhana itu tak memiliki banyak buku bacaan. Namun saat ini, ada ribuan buku bacaan dan fasilitas umum sepertinya WiFi dapat dinikmati di sana. Beberapa pakar, akademisi, hingga pemerintah pusat pun dibuat kagum dengan inovasi yang ditunjukkan oleh warga yang dulu dikenal dengan stigma negatif itu.
Saat ini, kampung yang dulu dikenal dengan banyaknya pemuda yang suka mabuk-mabukan pun mulai banyak dilirik. Warga dari dalam ataupun luar kota sudah tak segan lagi untuk masuk ke area perkampungan tersebut dan belajar bersama di rumah baca tersebut.
4. Kampung Pancuran, Kota Salatiga
Kampung Pancuran (Kominfo salatiga)
Kampung Pancuran Kota Salatiga ini dulu dikenal sebagai kampung preman dengan kondisi yang sangat kumuh. Namun karena kesadaran masyarakat tumbuh, pada akhirnya kampung kumuh yang ada di tengah kota itu berhasil disulap menjadi perkampungan yang bersih dan menarik banyak wisatawan.
Pemerintah Kota Salatiga pun memberi dukungan penuh atas inovasi yang digagas masyarakat setempat. Diantaranya melalui program penataan kawasan permukiman perkotaan yaitu melaksanakan pemugaran makam Nyai Kopek, pembangunan MCK Komunal, pembangunan taman vertikal dan penataan sepadan sungai.
Menariknya lagi, perkampungan semakin dipercantik dengan mural yang diciptakan di beberapa kawasan pemukiman. Hingga akhirnya banyak wisatawan yang tertarik untuk datang dan berfoto.
5. Kampung Putih, Kota Malang
Kampung Putih yang berada di Kecamatan Klojen Kota Malang pada tahun 1980 an juga dikenal sebagai kampung preman. Hal itu dikarenakan nyaris seluruh warga di bantaran Sungai Brantas itu menjadi preman.
Namun saat ini, kesan sebagai kampung preman itu pun seolah sirna dengan tumbuhnya perkampungan menjadi kampung wisata. Seluruh sisi perkampungan dicat warna putih dengan aksen yang beragama. Alhasil, wisatawan banyak yang tertarik untuk menikmati langsung kampung yang terletak persis di bawah RSSA Malang itu.
6. Kampung Badran Yogyakarta
Kampung Badran Yogyakarta (gudeg.net)
Di tahun 80 an, Kampung Badran yang berada di Kota Yogyakarta ini juga dikenal sebagai kampung preman. Lantaran ada banyak pemuda yang gemar mabuk dan memiliki perilaku premanisme.
Baca Juga : 10 Daerah Resmi Dapat Persetujuan Terapkan PSBB
Namun lantaran geram dengan stigma negatif itu, masyarakat akhirnya melakukan sebuah gerakan melalui sebuah perkumpulan yang dinamakan Forum Kampung Ramah Anak Badran RW 11 yang dicanangkan pada 22 Juli 2011 oleh Wali Kota Herry Zudianto.
Forum tersebut melakukan berbagai macam kegiatan seperti kampanye kampung sehat dan bersih, pemberdayaan potensi anak dengan olahraga tenis meja, serta membuka sebuah kolam renang umum yang dikelola oleh warga RW. Pembangunan sarana dan prasarana ini merupakan program penataan kawasan dari Pemerintah Kota Yogyakarta dan menghabiskan dana sebesar Rp 200 juta yang digunakan untuk perbaikan sumber mata air, tangga, jalan setapak, kolam renang, saluran mata air, dan gazebo.
Dengan pembangunan tersebut, Kampung Badran akhirnya bertransformasi menjadi kota yang nyaman dan layak bagi anak-anak. Stigma negatif pun hilang dalam hitungan bulan.
7. Kampung Manteos, Kota Bandung
Kampung Manteos, Kota Bandung (Detik.com)
Kampung Manteos yang berada di tengah Kota Bandung dulunya juga dikenal sebagai kampung preman. Namun pada akhirnya, kampung menyeramkan dan kumuh itu berubah menjadi kampung yang penuh warna.
Berbagai gang sempit perumahan diubah menjadi kawasan yang lebih ceria melalui pewarnaan dinding tembok yang beragam. Meski pada mulanya pemuda setempat harus mencari banyak cara untuk mempercantik kampugnnya, namun pada akhirnya cita-cita mempercantik kampung bisa terlaksana.
Bukan sekedar mempercantik wajah kampung, warga sekitar juga dibekali dengan beragam pengetahuan baru. Sehingga secara bertahap tingkat perekonomian masyarakat bisa terkatrol.
8. Kampung Gundih Surabaya
Kampung Gundih Surabaya (goodnewsindonesia)
Jika dulu dikenal sebagai kampung preman, maka tidak dengan Gundih hari ini. Karena saat ini, Gundih tampak begitu asri dengan beragam bunga cantik yang melekat pada berbagai sisi perkampungan. Anggrek hingga tanaman buah jambu dan anggur pun menghiasi berbagai titik kampung yang dulu dikenal dengan stigma kampung preman itu.
Bahkan, Gundih juga sempat dinobatkan sebagai kampung terbersih di Surabaya. Tentu menjadi sebuah prestasi luar biasa, karena dulu Gundih dikenal sebagai kampung yang sangat kotor dan kumuh serta dihuni oleh warga yang dikenal sangar.
Sekarang, warga pun tak segan untuk mendatangi langsung kampung tersebut. Meskipun hanya untuk sekedar berfoto dan meniknati keindahan bunga yang ada di setiap titik perkampungan.
9. Kampung Biru Arema
Hamidah (kiri) saat berfoto dengan Didik di Kampung Biru Arema (Foto: Hendra Saputra/ MalangTIMES)
Di urutan ke sembilan ada Kampung Biru Arema. Sama dengan Kampung Putih, kampung yang tepat berada di pusat Kota Malang ini dulu dikenal sebagai pemukiman yang sangat kumuh, kotor, dan dihuni oleh preman. Namun stigma negatif itu hilang semenjak Kampung Biru Arema bertransformasi sebagai kampung wisata.
Kampung Biru ini sendiri berkembang seiring banyaknya kemunculan kampung tematik di Kota Malang. Mengusung tema Arema, kampung yang berada di bantaran Sungai Brantas itu sekarang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Kampung yang dulu dikenl kotor dan dipenuhi sampah itu pun kini menjadi lebih bersih dengan beragam ornamen cantik.
Diantaranya adalah mural cantik bertemakan Arema seperti Singa hingga pemain Arema. Menariknya lagi, di kampung yang belum lama diresmikan itu, para wisatawan akan diajak berkomunikasi menggunakan bahawa walikan sebagai bahasa yang banyak digemari oleh warga asli Malang.
10. Kampung Tridi Malang
Wisatawan tampak berfoto di Kampung Tridi Kesatrian. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)
Terakhir adalah Kampung Tridi. Kampung yang juga berada di bantaran Sungai Brantas ini cukup menarik perhatian banyak kalangan. Selain dulu dikenal sebagai kampung preman dan berevolusi sebagai kampung wisata, ternyata Kampung Tridi juga dapat dijadikan sebagai salah satu Pioneer terciptanya kampung tematik di Kota Malang.
Selain Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Tridi juga banyak menarik perhatian wisatawan hingga detik ini. Wisatawan sering menghabiskan waktu di beberapa spot foto kece yang disediakan di mural tembok rumah warga. Di sana juga sudah banyak disediakan oleh-oleh khas Malang yang secara tidak langsung membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.
