Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Apa itu Cancel Culture, Fenomena yang Sering Muncul di Media Sosial

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

29 - Oct - 2024, 17:16

Placeholder
Ilustrasi media sosial. (Foto dari Liputan 6)

JATIMTIMES - Akhir-akhir ini, istilah cancel culture sering dilontarkan di media sosial. Label "dibatalkan" pun kerap diberikan kepada artis atau figur publik yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Tak hanya orang, merek pun bisa diberi label dibatalkan.

Lalu, apa itu membatalkan budaya atau cancel culture? Apakah cancel culture lebih banyak membawa dampak positif atau negatif? 

Apa itu Cancel Culture? 

Baca Juga : BPJamsostek Banyuwangi Gelar Sosialisasi Program Jaminan Sosial untuk Pekerja Informal

Dilansir dari Cambridge Dictionary, Cancel Culture yang kerap digunakan di media sosial adalah fenomena sosial di mana sekelompok orang atau individu secara bersama-sama menarik dukungan dari seorang figur publik, organisasi, atau merek karena dianggap melakukan perilaku atau pernyataan yang tidak dapat diterima.

Praktik ini terutama sering terjadi di platform media sosial, di mana tindakan kolektif ini bisa berdampak besar, seperti pemboikotan, pengucilan, atau bahkan berdampak negatif pada karier dan reputasi seseorang. 

Munculnya cancel culture sangat dipengaruhi oleh media sosial, yang memungkinkan informasi menyebar dengan cepat dan menggerakkan aksi kolektif. Platform seperti X dan Instagram sering menjadi tempat untuk mempermalukan secara publik dan menuntut pertanggungjawaban.

Istilah ini sendiri mulai populer pada akhir 2010-an, dengan akar yang berasal dari budaya kulit hitam dan gerakan seperti #MeToo dan #BlackLivesMatter. Gerakan-gerakan ini menyoroti isu pertanggungjawaban dan keadilan sosial, yang memperluas bahasa dan tindakan terkait," pembatalan.

Di Indonesia sendiri, fenomena ini semakin marak terjadi terutama di platform media sosial seperti X, Instagram, dan TikTok. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak figur publik, selebriti, dan bahkan merek mengalami boikot dan kecaman luas karena pernyataan atau tindakan yang dianggap kontroversial atau tidak sesuai dengan norma sosial. 

Di Indonesia, cancel culture sering dipicu oleh isu-isu seperti komentar rasis, perilaku tidak etis, atau keterlibatan dalam skandal.

Contohnya seperti saat seorang selebriti atau influencer tersandung masalah, netizen dengan cepat mengorganisir seruan untuk memboikot karya, produk, atau konten yang mereka hasilkan.

Dampak Cancel Culture pada Kesehatan Mental

Baca Juga : Halloween 2024 Jatuh Hari Apa? Ini Jadwal dan Ide Merayakannya

Mengutip dari buku 'Psikologi Gelap Internet: Memahami Sisi Tersembunyi dari Dunia Maya: Kecanduan Media Sosial: Ketika 'Like' Menjadi Obsesi' karya Bagas Bantara, cancel culture seperti pedang bermata dua yang mampu memberikan efek besar, baik mereka yang mampu maupun siapa saja yang mengalaminya.

Alasannya karena cancel culture dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk memberikan suaranya. Terlebih lagi terhadap mereka yang dinilai salah maupun menyalahi norma yang telah dibangun di tengah-tengah masyarakat selama ini. Namun meski demikian, cancel culture juga mampu memberikan efek jera yang begitu besar bagi siapa saja yang mengalaminya.

Misalnya saja seorang selebritis yang terkena cancel culture, maka dirinya akan mengalami dampak yang berkaitan dengan kehidupan pribadi maupun profesionalnya sebagai publik figur. Bahkan sebagian besar selebritis yang mengalami cancel culture dapat berpotensi kehilangan kariernya dalam waktu singkat.

Kemudian disampaikan dalam laman Very Well Mind, terdapat beberapa dampak cancel culture yang dilihat dari kesehatan mental. Dampak cancel culture terhadap kesehatan mental sering kali justru mirip seperti perundungan atau bullying. Mengapa? Alasannya karena bagi mereka yang mengalaminya, terdapat kemungkinan merasa dikucilkan atau bahkan terlindungi dari kehidupan sosial.

Bahkan dikatakan sebuah penelitian menunjukkan cancel culture dapat memicu rasa kesepian dan meningkatkan kecemasan hingga depresi pada diri seseorang. Terlebih lagi, cancel culture juga dapat berdampak pada potensi bunuh diri yang lebih tinggi bagi seseorang yang mengalaminya.

Tidak hanya itu, cancel culture juga cenderung membuat seseorang yang mengalaminya tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan atau meminta maaf. Hal tersebut dikarenakan pihak yang cenderung menutup akses komunikasi.


Topik

Serba Serbi Cancel Culture arti cancel culture



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni