JATIMTIMES - Ketika kita memasuki bulan Ramadan, aroma khas Lebaran mulai terasa di udara. Di antara beragam tradisi yang melekat erat dengan perayaan ini, ketupat adalah simbol yang tak terpisahkan. Namun, tahukah Anda dari mana asal usul dan sejarah ketupat yang telah menjadi ikonik dalam perayaan Lebaran?
Melansir berbagai sumber, sejarah Lebaran Ketupat diperkenalkan pertama kali oleh salah satu Walisongo, yakni Sunan Kalijaga. Kala itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah ba'da atau bakda Lebaran dan Bakda Kupat yang artinya sesudah Lebaran atau sesudah Kupat.
Baca Juga : Daftar Tarif Tol Trans Jawa Selama Mudik Lebaran 2024
Lantas munculah tradisi ketupat pada saat perayaan Lebaran tersebut diawali dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga.
Sementara itu, Bakda Lebaran merupakan prosesi pelaksanaan salat Id mulai dari 1 Syawal dengan berkunjung untuk saling silaturahmi. Tradisi ini biasanya saling bermaaf-maafan antar keluarga, dan sanak saudara.
Adapun, Bakda Kupat diperingati seminggu setelah lebaran. Masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat untuk dimakan bersama-sama.
Kemudian terciptalah tradisi membuat ketupat dan diantarkan ke kerabat dekat atau orang yang lebih tua. Umumnya, tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jawa yang selalu digelar setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri sebagai harapan agar dapat saling memaafkan.
Arti kupat juga dapat dimaknai sebagai "laku papat" adalah istilah dalam budaya Jawa yang menggambarkan empat tahapan dalam kehidupan manusia. Keempat tahapan tersebut adalah Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Setiap tahapan memiliki makna tersendiri:
1. Lebaran: Tahapan pertama, yang juga dikenal sebagai "lebaran" dalam bahasa Jawa, melambangkan awal kehidupan atau kelahiran. Ini adalah fase di mana seseorang lahir ke dunia ini dan memulai perjalanan hidupnya.
Baca Juga : Siapa Pengisi Kursi Pimpinan DPRD Kabupaten Malang? PKB: Tunggu Instruksi DPP
2. Luberan: Tahapan kedua adalah "luberan", yang melambangkan masa kecil atau masa pertumbuhan. Ini adalah waktu di mana seseorang tumbuh dan berkembang secara fisik, emosional, dan spiritual.
3. Leburan: Tahapan ketiga, "leburan", menggambarkan masa dewasa atau puncak kehidupan. Ini adalah fase di mana seseorang mencapai kedewasaan dan melakukan peran serta dalam masyarakat.
4. Laburan: Tahapan terakhir adalah "laburan", yang merupakan fase menuju akhir kehidupan atau kematian. Ini adalah waktu di mana seseorang melintasi ambang kematian dan kembali ke alam semesta.
Laku papat mencerminkan siklus kehidupan manusia yang melalui berbagai tahapan, dari kelahiran hingga kematian. Dalam konteks Lebaran dan ketupat, konsep ini mungkin menggambarkan bahwa perayaan Lebaran dan konsumsi ketupat tidak hanya mencerminkan kegembiraan kemenangan setelah bulan Ramadan, tetapi juga mengingatkan manusia akan sifat sementara kehidupan dan pentingnya menghargai setiap tahapan dalam perjalanan kehidupan.
