Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa Sisi Lain Sejarah Kota Malang

Ternyata, Daerah Sumbersari Dulu adalah Markas Komando Gerilya Kota Malang

Penulis : Pipit Anggraeni - Editor : Heryanto

04 - Sep - 2018, 15:00

Placeholder
Malang Tempo Dulu (Istimewa)

MALANGTIMES - Warga Malang atau pun para pendatang, terutama anak kos tentu tak asing dengan yang nama Sumbersari.

Baca Juga : Musim Melaut, Para Nelayan yang Berlabuh di Kabupaten Malang Bakal Disemprot Antiseptik

Sebuah daerah yang berada di Kecamatan Lowokwaru ini memang berdekatan dengan beberapa kampus kenamaan di Kota Malang.

Tak heran jika kawasan ini dijadikan sebagai tempat para mahasiswa tinggal sementara alias kos.

Jika kini dikenal sebagai tempat yang banyak ditinggali mahasiswa, ternyata dulu Sumbersari merupakan markas komando gerilya Kota Malang pada masa Agresi Militer Belanda loh, tepatnya pada tahun 1947 hingga 1949.

Pemerhati sejarah Kota Malang, Eko Irawan menyampaikan, dulunya Sumbersari dikenal dengan nama Tawangsari.

Di sana, tinggal seorang kapten bernama Soemitro yang menyamar sebagai seorang warga biasa bernama Tasrip. 

Penyamaran itu menurutnya dilakukan karena tentara Indonesia saat itu dipukul mundur oleh Belanda.

Sebagai perwakilan negara, Soemitro harus tetap bertahan untuk mengetahui gerak gerik musuh di Malang. Sehingga ia memutuskan untuk menyamar dan tetap memperhatikan langkah yang diambil musuh.

"Karena pasca Tentara Indonesia dipukul mundur, warga yang boleh tinggal di Malang saat itu hanya warga lokal dengan tanda kependudukan khusus atau yang kini dikenal sebagai kartu tanda penduduk (KTP)," jelasnya pada wartawan belum lama ini.

Nilai historis Sumbersari saat ini menurutnya belum banyak yang mengetahui. Sehingga, untuk mempertahankan dan mengenalkannya pada generasi penerus, Sumbersari kini menjadi kampung sejarah.

Di dalamnya, terdapat sebuah museum rintisan bernama Reenactor Ngalam.

Museum yang rencananya akan diresmikan pada pertengahan September itu menurutnya akan bercerita tentang sejarah perjuangan di Malang Raya dan beberapa daerah di Indonesia.

Baca Juga : Draft Sudah Final, Besok Pemkot Malang Ajukan PSBB

Konsepnya pun sengaja dibuat layaknya suasana perjuangan dengan sentuhan barang-barang lawas yang memang digunakan pada era perjuangan.

Di antaranya, enam sepeda ontel, satu set bangku dan meja, tempat piring dan satu tas koper yang merupakan barang peninggalan dari keluarga yang sejak dulu memang menetap di Sumbersari.

Barang peninggalan tersebut menjadi saksi bisu perjuangan arek Malang mempertahankan kemerdekaannya dari Belanda selama agresi militer I dan II.

"Dan ada juga koleksi yang kita buat sendiri dengan bentuk menyerupai aslinya. Seperti senjata, meriam, radio dan sebagainya. Kebetulan kita punya kemampuan untuk membuat barang dari bahan-bahan tidak terpakai. Seperti meriam ini kita susun dari paralon, terus senjata pistol dari besi pagar dan kayu," terang pria yang juga bekerja sebagai staf Kelurahan Sumbersari itu.

Di museum itu, nantinya menurut Eko akan diterapkan beberapa titik untuk mereka ulang proses perjuangan Malang dan beberapa daerah di Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya.

Selain itu juga akan ditampilkan beberaoa kawasan yang dulu ditempati Belanda, sebelum dan sesudah kedatangan mereka.

"Jadi nanti temanya gonta-ganti, kecuali yang sejarah Sumbersari itu. Awal, kita ceritakan tentang Panglima Sudirman, berikutnya di bagian nasional, bisa juga kita masukkan tema peristiwa Maret," pungkasnya.


Topik

Peristiwa Daerah-Sumbersari-Dulu Markas-Komando-Gerilya-Kota-Malang Malang-Tempo-Dulu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Pipit Anggraeni

Editor

Heryanto