JATIMTIMES - Dalam perkembangan Islam bukan hanya peran dari para kaum Adam, tapi kaum Hawa juga banyak berkontribusi besar dalam diskusi-diskusi intelektual bersama di masjid-masjid, pusat-pusat pendidikan untuk dakwah Islam. Banyak juga para ulama laki-laki memperoleh pengetahuan dari ulama muslimah ini.
Ulama muslimah yang tersohor yakni Sayyidah Nafisah. Sosoknya juga banyak memberikan pengetahuan kepada para ulama laki-laki. Beberapa ulama besar seperti Imam Malik, Imam al-Syafi’I, Imam Ibnu Hazm dan Ibnu Arabi dari beberapa sumber dikatakan mendapatkan pengetahuan dari sosok Sayyidah Nafisah.
Baca Juga : Projo Kabupaten Malang Target Prabowo-Gibran Menang Satu Putaran
Selain sosok Sayyidah Nafisah, adalah seorang perempuan muslimah yang menjadi guru besar bagi para ulama adalah Karimah al-Marwaziyyah. Sosoknya merupakan muslimah yang ahli ilmu, dan memiliki sanad hadis yang berkualitas.
Dalam sebuah buku Siyar A’lam al-Nubala (Biografi Para Tokoh Cerdas), Imam al-Dzahabi menyebut Karimah sebagai “al-Syekhah” (guru besar perempuan), “al-‘Alimah” (ulama perempuan), dan “al-Musnidah” (ahli hadis besar), bergelar “Al-Mujawirah bi Haram Allah” (perempuan tetangga tanah suci Makkah). Sementara para ulama Maroko menyebutnya sebagai “al-Ustazah” (profesor perempuan) dan “al-Hurrah al-Zahidah” (sufi perempuan).
Karimah binti Ahmad bin Muhammasd bin Hatim Al-Marwaziyyah, menjadi muslimah pertama yang belajar kitab Shahih al-Bukhari secara utuh. Bahkan, sosoknya menjadi orang yang memiliki manuskrip berharga, dimana dijadikan sumber penulisan karya besar al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqallani, Fath al-Bari.
Dinukil dari kitab Al-Ulama Al’Uzzaab, karya Abdul Fatah Abu Ghaddah, kisah Karimah al-Marwaziyyah sebagai ahli hadits ini, bermula tatkala ia harus pergi dengan sang ayah. Perjalanan panjang melewati daratan dan lautan ia lalui sampai akhirnya tiba di Makkah.
Sosok yang juga dikenal sebagai penjelajah ini, di Makkah mempelajari tentang Sahih al-Bukhari. Ia bahkan didaulat sebagai ulama hadis dari kaum wanita. Ia juga menjadi salah satu sosok yang paling dihormati.
Selain itu, dalam sebuah riwayat sosok al-Marwaziyya disebut sebagai muhadis. Sejak kecil, telah nampak pada sosok al-Marwaziyya dari segi kecerdasan kriteria sebagai perawi. Sosoknya juga memiliki sifat jujur, amanah, dan taat beribadah. Sifat ini juga nampak pada diri Karimah al-Marwaziyya sejak kecil.
Disebutkan, karya tulis yang dihasilkan sepanjang hidupnya mencapai 100 kitab. Dedikasi sosok yang juga disebut Ummul Kiram ini, dalam ilmu hadis diabadikan dalam sebuah kitab al-I'bar.
Baca Juga : Nasib dan Dampak Orang Kikir
Karimah al-Marwaziyya mendapatkan sanadnya kepada Bukhari juga dari para tokoh ulama, yakni dari Abu Haitsam al-Kusymahani, Dhahir Ibnu Ahmad Assarkhasi, dan Abdullah Ibnu Yusuf bin Bamuwaih as-Ashabahani.
Ketika belajar di Mekkah, Karimah al-Mawaziyyah melakukan sejumlah kebiasaan. Hal ini diceritakan Imam al-Dzahabi. Dalam prosesnya, ia selalu menunggu kedatangan musim haji. Sebab, saat ini menjadi momen strategis dalam belajar dan menggali ilmu tentang riwayat hadits. Para ulama besar pasti banyak ditemui Mekkah saat itu.
Beberapa ulama besar yang memperoleh ijazah darinya, yakni Imam Abu Bakar Ahmad al-Khathib al-Baghdadi (w. 1070 M), penulis buku Tarikh Baghdad, Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani (1095), Abu al-Ghanaim Muhammad bin Ali bin Maimun al-Nursi (1116 M), Muhaddits Kufah.
Dalam riwayatnya, Abu al-Ghanim al-Nursi mengatakan, "Sayyidah Karimah mengeluarkan satu naskah tulisan tangan hadis Shahih Bukhari. Aku duduk di hadapannya, aku menulis 9 lembar dan membacakannya di hadapan dia. Aku ingin mendiskusikannya sendiri dengan orang lain. Lalu dia mengatakan: Jangan, Kamu harus mendiskusikannya dengan aku. Maka akupun mendiskusikannya dengan dia".
Kesibukan dan fokusnya dalam menggali ilmu, sosok Karimah juga dikabarkan tidak tidak menikah. Karena fokus itulah, sosok Karimah mendapatkan ilmu yang luas dan tinggi.
