JATIMTIMES - Momentum Tahun Baru Hijriyah atau yang disebut Tahun Baru Islam jatuh pada Rabu, 19 Juli 2023 1 Muharram 1445 H.
Sejarah penetapan awal Tahun Baru Islam atau awal penanggalan hijriyah adalah merujuk pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Madinah (Yatsrib). Peristiwa itu merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada tahun 622 Masehi, atau pada tahun ke-13 kenabian.
Baca Juga : Doa-Doa yang Dianjurkan Dibaca pada Malam 1 Suro
Dilansir dari laman resmi Al Ain University, sejarah penentuan awal tahun baru Islam itu diprakarsai oleh Khalifah Umar bin Khattab dengan persetujuan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tepatnya, kala itu adalah tahun ke-17 setelah peristiwa hijrah atau 3-4 tahun saat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.
Peristiwa hijrah sendiri, dalam Kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, disebabkan kekhawatiran Rasulullah SAW akan nasib para kaum muslim di Makkah yang saat itu terus dirongrong kafir Quraisy. Seperti yang dikisahkan dalam peristiwa hijrah kaum Muslimin ke Habasyah (kini Ethiopia):
Ibnu Ishaq berkata Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam berkata bahwa Zaid bin Abdullah Al-Bakkai berkata dari Muhammad bin Ishaq Al-Muththalibi yang menyampaikan.
Ketika Rasulullah SAW melihat penderitaan yang dialami sahabat-sahabatnya, sedang beliau dalam keadaan segar bugar karena kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi pamannya, Abu Thalib, sementara beliau tidak mampu melindungi mereka terhadap penderitaan yang dialami, maka beliau bersabda kepada mereka:
"Bagaimana kalau kalian berangkat ke negeri Habasyah, karena rajanya tidak mengizinkan seorang pun didzalimi di dalamnya. Dan negeri tersebut adalah negeri yang benar, hingga Allah memberi jalan keluar bagi penderitaan yang kalian alami".
Kemudian kaum Muslimin dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW berangkat ke Habasyah, dan saat itulah, hijrah pertama yang terjadi dalam Islam. Tepatnya pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian (tahun ketujuh Sebelum Hijriah (SH)/ 615 M), Mereka terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita yang dipimpin oleh Utsman bin Affan RA. Saat itu, Rasulullah SAW tidak hijrah, melainkan tetap di Makkah dan berdakwah sekalipun terus mendapat tekanan dari kaum kafir.
Dalam perjalanan hijrah pertama ini, Rasulullah SAW tidak ikut serta. Barulah, saat hijrah kedua, yaitu dari kota Makkah menuju Yatsrib (kota Madinah), Rasulullah SAW ikut serta beserta para sahabat.
Saat itu, sebelum melakukan hijrah untuk kedua kalinya, terjadi baiat dari penduduk Madinah sebanyak dua kali. Baiat pertama terjadi di Bukit Aqaba yang diikuti oleh 13 orang. Mereka berikrar untuk memeluk agama Islam.
Baca Juga : Kontroversi Panji Gumilang, Mahfud MD: Dia Terlalu Nyaman dengan Posisinya
Peristiwa tersebut disebut dengan Perjanjian Aqabah I. Lalu, pada tahun 622 M, terjadilah baiat yang kedua atau dikenal dengan Perjanjian Aqabah II. Beberapa riwayat mengatakan baiat ini diikuti oleh 73 orang, yang mana Rasulullah SAW meminta baiat kepada kaum Anshar saat itu, untuk membela Islam dan melindungi beliau serta para pengikutnya.
Setelah baiat, Rasulullah memerintahkan para sahabat dan umat Islam di Makkah untuk pergi ke Madinah. "Sesungguhnya, Allah 'Azza wa Jalla telah memberikan saudara-saudara untuk kalian di negeri yang aman." Atas perkataan tersebut, mereka berbondong-bondong menuju Madinah.
Alasan Rasulullah SAW yang saat itu masih berduka atas wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib, untuk ikut hijrah, adalah berdakwah ke tanah berkah Madinah, yang selanjutnya membangun pondasi pemerintahan Islam di sana. Disebut sebagai tanah berkah, karena Yastrib (Madinah), merupakan posisi sentral jalur perjalanan sekaligus perdagangan kafilah Quraisy. Keberkahan itulah, yang menjadi alasan Nabi Muhammad mengganti nama Kota Yatsrib menjadi Madinah, yang mengandung makna kota yang bercahaya.
Kemudian di Madinah pula, Islam berkembang semakin pesat dan perekonomian pun semakin kuat di sana. Rasulullah SAW mendirikan pasar sebagai pusat ekonomi, selain masjid sebagai tempat ibadah. Rasulullah pun membangun sistem pemerintahan penuh kedamaian dan moderasi dengan memberikan kebebasan beragama bagi umat lain.
Kuatnya Islam sebagai pondasi Rahmatan lil ‘alamin, yaitu rahmat keberkahan bagi seluruh alam, kemudian menjadi salah satu alasan mengapa momentum hijrah tersebut, sebagai awal dari tahun baru Hijriah.
